Rabu, 7 April 2021

Itik Petelur Berkembang di Kawasan Food Estate

Itik Petelur Berkembang di Kawasan Food Estate

Foto: ist/dok.DitjenPKH


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Budidaya itik petelur di kawasan food estate menunjukkan tanda-tanda perkembangan positif, dan telah menjadi usaha sampingan yang berkontribusi cukup besar bagi pendapatan petani setempat.

 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) - Kementerian Pertanian (Kementan) Nasrullah menyampaikan  menerangkan, dengan cara mengintegrasikan usaha, mulai dari hulu sampai hilir (pembibitan, budidaya, pasca panen dan pemasaran) sehingga terbentuk kawasan korporasi.

 

"Selain, menyediakan sumber bahan pangan hewani, meningkatkan jumlah rumah tangga peternak dan mengembangkan sumber daya genetik itik lokal dan/atau persilangan," ujar Nasrullah.

 

Nasrullah menjelaskan, pengembangan itik di kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas dialokasikan dalam tiga klaster di 15 kelompok ternak. Itik yang telah dikelola sebanyak 7.650 ekor terdiri dari 7.500 ekor betina dan 150 pejantan.

 

Dia menerangkan, penerima bantuan itik merupakan petani/peternak yang aktif berusaha tani dan tergabung dalam kelompok tani/kelompok ternak/gabungan kelompok tani/gabungan kelompok ternak yang nantinya akan disahkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota.

 

Mereka juga diharuskan melakukan usaha budidaya secara mandiri namun tetap terkoordinasi dalam satu manajemen dan agroklaster. Selanjutnya bersedia melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan dalam petunjuk teknis dan ketentuan lainnya yang telah disepakati dan diutamakan yang telah berpengalaman beternak itik.

 

Setiap kelompok menerima 510 ekor itik, terdiri dari 500 ekor betina dan 10 ekor pejantan dengan kriteria itik lokal dan/atau persilangan jenis petelur, umur siap produksi minimal umur 4 (empat) bulan, telah divaksin AI dan memiliki sertifikat veteriner/surat keterangan kesehatan hewan.

 

Setiap kelompok berhak mendapatkan bantuan pakan sebanyak 6.100 kg dengan rincian pakan itik grower (17-20 minggu) sebanyak 1.950 kg dan pakan itik layer (21-28 minggu) sebanyak 4.150 kg. Pakan yang diberikan berupa pakan komplit pabrikan untuk itik petelur sesuai SNI dan memiliki Nomor Pendaftaran Pakan (NPP).

 

Kemudian, paket bantuan bahan pembuatan kandang diberikan kepada setiap kelompok untuk dibuat satu unit kandang dengan beberapa ketentuan. Seperti cukup untuk menampung semua itik dewasa, berbentuk panggung, memiliki alas, dinding dan atap, serta sirkulasi udara yang baik.

 

"Kandang harus memudahkan proses produksi, pembersihan, pemberian pakan serta penanganan kesehatan hewan, dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Bantuan obat-obatan dan vitamin juga diberikan berupa antibiotik, desinfektan, vitamin anti stres dan perangsang produksi telur," papar dia.

 

Analisa Usaha

Dirjen PKH menegaskan analisa usaha dari budidaya itik petelur memang menjanjikan. Setiap kelompok penerima manfaat dapat memperoleh keuntungan budidaya itik petelur sebesar Rp 2.240.000 perbunlan dari penjualan telur segar.

 

"Nah, keuntungan yang diterima oleh kelompok juga bisa meningkat ke Rp 8.800.000 jika telur segar diolah lebih lanjut menjadi telur asin," jelas Nasrullah.

 

Produksi telur itik yang diberikan kepada keompok peternak sudah mencapai 200 sampai 370 butir perhari dari 500 ekor induk dengan umur berkisar 7 sampai 8 bulan. Ia mengatakan, produksi telur akan semakin meningkat sampai dicapai puncak produksi pada 90%.

 

"Dibimbing oleh penyuluh dan petugas dinas setempat, sudah memulai pembuatan telur asin untuk meningkatkan nilai jual telur itik," imbuhnya.

 

Ia menuturkan, kemajuan juga terlihat dalam hal pemasaran dengan memanfaatkan penjualan online dan sistem penjualan langsung antar / cash on delivery (COD) langsung ke konsumen dengan difasilitasi oleh dinas setempat. Kelompok secara mandiri bisa membeli pakan itik sendiri dari hasil penjualan telur dan telur asin setelah bantuan pakan habis diberikan.

 

"Semakin mandiri kelompok penerima manfaat dalam mengelola usaha ternak itik mulai dari hulu sampai hilir (pembibitan, budidaya, pasca panen dan pemasaran) menjadi salah satu indikator keberhasilan peningkatan usaha peternakan," tutur Nasrullah.

 

Food Estate

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo menerangkan, tahun 2020 pemerintah telah menetapkan wilayah Kalimantan Tengah khususnya kabupaten Pulang Pisau dan kabupaten Kapuas menjadi lumbung pangan atau food estate di luar Pulau Jawa dan sebagai salah satu program Strategis Nasional (PSN) 2020-2024.

 

"Lahan rawa di Kalimantan Tengah dipercaya bisa dikembangkan sebagai lahan pangan masa kini dan masa depan yang prospektif dalam menopang ketahanan pangan sehingga produksi pertanian dapat meningkat untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor," urai Mentan SYL.

 

Pengembangan kawasan food estate sendiri dilaksanakan di lahan eks proyek lahan gambut (PLG) dan sekitarnya, tepatnya pada lahan sawah eksisting seluas sekitar 30.000 ha (kabupaten Pulang Pisau 10.000 ha dan kabupaten Kapuas 20.000 ha)

 

Pengembangan kawasan food estate juga terintregasi antara lahan utama sawah (tanaman padi/jagung) dengan komoditas pendukung (Hortikultura, Perkebunan, Peternakan) yang berada dalam satu kawasan. Sesuai dengan karakter lahab basah rawa, komoditas peternakan yang dapat dikembangkan adalah ternak itik.

 

"Pengembangan kawasan food estate berbasis korporasi petani di lahan rawa Kalimantan Tengah ini sejatinya memiliki keunggulan komparatif seperti sumber daya lahan yang cukup luas, sumberdaya air dan iklim yang sesuai dan modal sosial budaya yang mendukung," tandas Mentan SYL. ist/ed/nuruddin

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain