Rabu, 21 April 2021

Istri Peternak Belajar Mengolah Susu Segar

Istri Peternak Belajar Mengolah Susu Segar

Foto: ist/dok.FapetUGM


Yogyakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Keluarga peternak sapi perah perlu didampingi agar mampu mengembangkan diri untuk meningkatkan pendapatan keluarga, diantaranya dengan cara diberi keterampilan mengolah susu segar menjadi susu pasteurisasi.

 

Sebagaimana dilaksanakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) yang memberikan materi pengolahan susu segar dikombinasikan dengan empon-empon bagi istri peternak sapi perah kabupaten Pacitan - Jawa Tengah. Realita bahwa keluarga peternak sapi perah masih minim keterampilan mengolah susu  tujuannya, agar mereka dapat menghasilkan produk pangan olahan susu yang bernilai jual lebih tinggi.

 

“Empon-empon sendiri dipilih sebagai bahan tambahan, sebab merupakan tanaman unggulan di desa tersebut. Selain itu, tanaman ini dipercaya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” ungkap dosen Fapet UGM sekaligus Ketua Kegiatan Pengabdian Masyarakat, Ambar Pertiwiningrum pada Selasa (20/4).

 

Dijelaskannya, Kelompok peternak Bumi Rahayu yang berada di desa Tahunan -Pacitan menggantungkan penjualan susu kepada koperasi. Mereka menjual susu dalam keadaan segar ke koperasi senilai Rp 5.000 perliter, namun mereka tidak mengolahnya apabila tidak habis terjual. Susu yang tidak terjual diberikan secara cuma-cuma kepada tetangga atau dicampurkan pada pakan sapi.

 

Menurut Ambar, kondisi tersebut menjadikan pendapatan harian para peternak menjadi berkurang, terlebih dengan adanya pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019). Sampai-sampai, ada peternak yang mulai menjual sapinya karena tidak dapat membeli pakan. Kejadian itu tentu mengancam eksistensi kelompok yang beranggotakan 25 peternak dengan populasi 50 ekor sapi dan rerata prduksi 6—10 liter perekor perhari.

 

Kenyataannya, pendapatan rata-rata setiap peternak di kelompok tersebut hampir sama, yakni kurang lebih Rp 80.000 per hari atau sekitar Rp 2,4 juta per bulan. Padahal, sebagian besar istri peternak tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan pendapatan suami.

 

Ambar menyampaikan, pendampingan pembuatan susu pasteurisasi ini diawali dengan pelatihan cara memerah susu yang benar dan sehat. “Kemudian, dilanjutkan dengan proses pengolahan susu yang mengombinasikan dengan potensi lokal, yaitu empon-empon. Pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi dapat meningkatkan pendapatan peternak, selain itu juga tidak ada lagi susu yang terbuang,” jelasnya.

 

Usai diberikan pelatihan pengolahan susu, peternak dilatih untuk memasarkan produk susu pasteurisasi secara daring (dalam jaringan) melalui media sosial. Peternak dilatih untuk mempublikasikan video serta foto produk, memilih kata-kata yang kreatif dalam promosi, dan dilatih menggunakan tagar (tanda pagar) supaya  produk mudah ditemukan oleh konsumen. 

 

Selain melakukan pendampingan pengolahan susu, Ambar bersama tim peneliti lainnya, yaitu Catur Sugiyanto dan Soedarmanto Indarjulianto, melakukan pendampingan dan penguatan kelembagaan wanita.

 

“Hal ini penting dilakukan karena dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan dan konsumsi pangan rumah tangga yang menjadi anggota kelompoknya. Kami melaksanakan asistensi, fasilitasi, serta pengembangan kapasitas anggota kelompok berupa peningkatan pendidikan pangan dan gizi,” tutupnya. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain