Kamis, 22 April 2021

Bukan Reconditioning, Seharusnya Penguatan Breeding

Bukan Reconditioning, Seharusnya Penguatan Breeding

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Skema reconditioning yang dipergunakan untuk produksi daging sapi dianggap tidak efisien, sehingga seharusnya diganti dengan penguatan breeding.

 

Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Afton Atabany menyatakan, reconditioning yang dimaksudkannya adalah penggemukan sapi bakalan eks impor, sebagai skenario untuk jangka pendek untuk memenuhi permintaan daging.

 

“Sapi datang kemudian dipelihara untuk pemulihan saja, ini butuh biaya, sehingga harga sapi akan bertambah karena adanya reconditioning. Kemudian, selama perjalanan terjadi penyusutan bobot badan mencapai 30 %. Sehingga, penggemukan dilakukan di daerah Jabodetabek,” ungkapnya.

 

Menurut Afton, breeding adalah leading sehingga industri pembiakan sapi potong harus disiapkan dengan baik. Jika tidak, Indonesia akan selamanya tergantung pada pasokan sapi dan daging dari luar negeri. Kekuatan breeding tidak hanya akan memperkokoh industri peternakan, tetapi juga memperkuat sektor lainnya.

 

Beberapa program yang dapat dilanjutkan untuk breeding sapi potong, Afton menjelaskan, yakni agribisnis, pasar kerja sama, penyediaan pakan, kawin silang (cross breed) misalnya antara sapi bali atau lokal dengan angus, limosin dan simental.

 

“Selanjutnya, penyediaan semen serta sistem produksi berupa teknologi terapan yang sudah terbukti. Ini teknis, nanti jika memang dilakukan untuk breeding, bisa dilakukan seperti ini,” sarannya.

 

Solusi yang Ditawarkan

Afton menguraikan, solusi yang dapat dilakukan saat ini, baik jangka pendek maupun panjang, yaitu pertama dalam menghadapi lebaran, perlu dilakukan impor daging beku dari luar negeri atau memaksimalkan daging dalam negeri.

 

Kedua, melibatkan pengusaha, koperasi dan asosiasi dan yang ketiga, melakukan breeding sapi lokal atau silangan dengan pola intensif dan ekstensif secara terintegrasi dengan perkebunan, kehutanan dan pertanian.

 

Apabila pada 2026 mendatang, kebutuhan daging sapi naik sebesar 4 %, maka setara dengan 749 ribu ton daging, yang dipenuhi dari sekitar 19,96 juta ekor sapi.

 

“Apabila dipotong 12 % dari populasi, maka sekitar 2,4 juta ekor sapi dipotong. Sehingga, sapi yang dipotong tidak mungkin lebih dari 15 %,” kata dia.

 

Afton menghitung, sapi ini dipotong sebanyak 12 % dari 8 juta ekor, dan maksimal hanya 15 %, dan 45 % nya adalah induk. Maka, asumsi satu ekor sapi dapat menghasilkan 170 kg daging, dengan bobot hidup sekitar 500 kg.

 

Menurutnya, terjadi defisit kebutuhan sebanyak 341 juta ekor, yang artinya dengan kebutuhan sebanyak 749 ribu ton, yang dipenuhi dari sapi 19,96 juta ekor tadi dan yang dipotong hanya 2,4 juta ekor, maka akan menghasilkan daging sebanyak 408 ribu ton. Sehingga pada 2026 mengalami defisit 341 ribu ton yang setara dengan 2.046.000 ekor dan harus diimpor.

 

“Jika ingin swasembada, maka populasi sapi pada 2026 harus mencapai 37 juta ekor, dua kali lipat populasi saat ini yang masih 18 juta ekor. Menambah peternak itu sulit, sebaliknya mengurangi peternak itu mudah. Sehingga, tolong dipikirkan bagaimana caranya supaya banyak yang mau beternak,” ungkapnya gamblang.

 

Afton mengaku, jika mengajar sedang mengajar ia selalu mengingatkan mahasiswanya untuk menjadi peternak. Guna memperbanyak lulusan Fapet, bisa difasilitasi untuk memelihara 100 ekor sapi dengan segala macam keringanan.

 

“Waktu memelihara dari anak betina sampai dewasa, itu usahakan kematiannya paling tinggi 30 %. Sehingga, jika nanti ingin swasembada, setiap tahun harus impor sebanyak 1 juta ekor selama 4 tahun berturut-tururt. Dengan catatan 70 % kelahiran dan 30 % kematian, dan sapi impor datang untuk dipelihara bukan untuk dipotong, sehingga 2026 Indonesia diharapkan bisa swasembada daging sapi,” tutup Afton. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain