Rabu, 28 April 2021

Semakin Mendesak, Substitusi Bahan Pakan Impor

Semakin Mendesak, Substitusi Bahan Pakan Impor

Foto: dok.istimewa/ilustrasi


Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Industri peternakan Indonesia masih ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor. Untuk bungkil kedelai (soybean meal, SBM) saja, harus mendatangkan sekitar 4,5 ton setiap tahunnya.

 

“Jika kita bisa melakukan substitusi pakan separuhnya saja, itu sudah sangat luar biasa,” ungkap Sekjen Ditjen PKH (Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan), Makmun pada sebuah seminar daring di IPB University, Senin (26/4).

 

Lebih rinci, Sri Subekti, perwakilan GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) pada kesempatan yang sama juga menuturkan, Indonesia mengimpor sekitar 35 % bahan baku pakan. Adapun jenis bahan baku yang diimpor, terutama untuk unggas adalah gandum, DDGS (distillers dried grains with solubles/bungkil kedelai), MBM (Meat Bone Meal/tepung tulang), feather meal (tepung bulu), fish meal (tepung ikan), CGM (Corn Gluten Meal), feed additive atau pakan imbuhan, mineral mikro dan vitamin. “Indonesia mendapatkan DDGS dan CGM masih 100 % dari impor,” terang Sri dalam kesempatan serupa.

 

Sri menggambarkan, harga bahan baku tersebut umumnya sangat tergantung pada kondisi global dan kekuatan nilai tukar rupiah. Sebab, GPMT harus membeli bahan baku dengan nilai mata uang dolar. Hal tersebut dirasa sangat riskan, apalagi saat ada riak politik atau permasalahan lain yang cukup kompleks. Harga otomatis akan melangit. Maka dari itu, peneliti dalam negeri harus segera menyiapkan bahan baku pakan substitusi.

 

Sri melanjutkan, sumber protein hewani yang biasa digunakan adalah tepung ikan. Sedangkan, untuk sumber protein nabatinya adalah PKM (palm kernel meal/bungkil inti sawit). Ketersediaan PKM sejujurnya sangat melimpah di tanah Indonesia. Akan tetapi, penggunaanya masih belum masif. Padahal, potensinya tergolong besar sebagai bahan baku pakan ternak.

 

Lanjutnya, demi terus menciptakan inovasi terbaru seputar penyediaan pakan ternak, Makmun mendorong pihak industri, dalam hal ini perusahaan pakan (feedmill) untuk terus bekerjasama melakukan riset dengan perguruan tinggi. “Kita sama-sama mencari jalan terbaik demi terciptanya efisiensi pakan ternak. Utamanya unggas,” tukas dia.

 

Serapan Jagung

Sebagai sumber energi dalam pakan ayam, jagung sangat erat kaitannya dengan peternak. Makmun menarik kisah di awal tahun ini, jika terjadi gonjang ganjing harga jagung yang cukup ramai.

 

“Pada saat itu, harga jagung diperkirakan menyentuh harga Rp 6.000 per kg. Efeknya, harga pakan secara keseluruhan melonjak tajam. Kita harus mengupayakan terjadinya keseimbangan, agar harga pakan menjadi kompetitif,” sambung dia .

 

Sementara itu, Sri memberikan informasi beradasarkan data yang dihimpun GPMT bahwa total jagung yang diserap oleh pabrik pakan di Indonesia mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Pada tahun 2018, jagung yang berhasil diserap adalah 5.755.585 ton.

 

Peningkatan kemudian terjadi di tahun berikutnya (2019) dengan total serapan jagung adalah 6.627.174 ton. Akan tetapi, jumlahnya menurun sepanjang tahun 2020, yakni hanya 6.490.382 ton. Menapaki 2021 ini, total jagung yang telah diserap selama Januari hingga Maret adalah 1.617,064 ton. Angka tersebut dipastikan akan terus bertambah.

 

“Sejak tahun 2014, kami memang sudah mulai menyerap jagung dalam negeri sebagai bahan baku pakan. Penyerapan yang dilakukan tergantung dari panen raya. Biasanya, di awal panen raya jumlah serapannya akan sangat banyak. Kemudian, akan berangsur menurun bersamaan dengan berakhirnya panen raya,” jelas Sri.

 

Namun demikian, jumlah pemakaian jagung di dalam industri pakan lokal meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2017, jumlah jagung yang digunakan adalah 32,78 %. Di tahun setelahnya, sebanyak 36,29 % jagung juga dipakai dalam pakan unggas. Jumlah ini terus meningkat di tahun 2020 dengan total penggunaan jagung sebesar 39,31 %. Data terbaru yang dihimpun GPMT, sebanyak 43,77 % jagung digunakan dalam pakan oleh industri pakan pada tahun 2020 lalu.

 

Turut berkomentar, peternak layer asal Kendal - Jawa Tengah, Ahmad Sofyan berharap pemerintah mampu melakukan stabilisasi harga pakan di tingkat peternak. Kalau bisa, impor jagung jangan sampai dilakukan.

 

“Masih banyak petani jagung di negeri ini yang belum sadar potensinya. Patut diingat, 50 % dari konsumen petani jagung adalah peternak. Maka dari itu, petani dan peternak harus berjalan beriringan. Dengan regulasi yang tidak memberatkan dari pemerintah,” terang pemilik Balebat Farm ini kepada TROBOS Livestock melalui sambungan telepon. ed/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain