Jumat, 30 April 2021

Belajar dari Perkoperasian Selandia Baru

Belajar dari Perkoperasian Selandia Baru

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Komoditas sapi perah menjadi andalan New Zealand (Selandia Baru), mayoritas pelakunya tergabung dalam koperasi yang sangat besar dan terkenal di dunia, Fonterra. Dengan total populasi sapi perah 5 juta ekor, setiap penduduk memiliki lebih 1,5 ekor sapi perah.

 

Fakta tersebut diungkapkan oleh Dekan Fapet UGM (Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada), Ali Agus pada Sabtu (24/4).

 

Dia menuturkan, Selandia Baru merupakan negara kepulauan di wilayah Barat Daya Pasifik, yang memiliki luas 268,021 km2 dengan jumlah penduduk hanya sekitar 4 juta jiwa. Komoditas domba di sana, jumlah populasinya cukup banyak yaitu 39 juta ekor. Sehingga, jika dibagi untuk 4 juta penduduk, berarti 1 orangnya memiliki kurang lebih 8 ekor domba. 

 

“Mengapa koperasi? Sebab menurut mereka, guna meraih suatu keberhasilan itu tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri. Saya kira, semua pelaku bisnis setuju dengan kegiatan bermitra, baik di hulu maupun hilirnya. Hanya perbedaannya, untuk konsep kemitraan di dalam koperasi dan kemitraan non koperasi, yaitu untuk koperasi, bisa jadi tidak putus, tetapi untuk kemitraan non koperasi bisa beli-putus,” sebut Ali.

 

Artinya, ia imbuh dia, jika menguntungkan nanti akan berlanjut, namun jika tidak menguntungkan, pengusaha tersebut dapat berpindah atau berganti mitra. Ini menjadi pelajaran penting yang dipetik oleh Ali, ketika berkesempatan untuk mengunjungi Selandia Baru. Bahwa, perkoperasian yang kuat, kokoh dan mengakar di Selandia Baru ini dapat menjadi salah satu prototip atau model yang bisa diadopsi oleh Indonesia.

 

Menurut Ali, salah satu keuntungan dari berkoperasi yakni lebih menekankan pada partisipasi anggota, bukan dari investasi. Kontrol usaha dilakukan secara demokratis, dan demokrasi ekonomi inilah yang sebenarnya telah dipikirkan oleh Wakil Presiden pertama, yaitu Muhammad Hatta. 

 

“Memang koperasi itu menjadi salah satu pilihan, sehingga inilah alasan di dalam UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 Pasal 33, yaitu koperasi menjadi salah satu pilar di samping swasta dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara),” terang dia.

 

Skala koperasi di Selandia Baru ini PDB-nya (Produk Domestik Bruto) pada lima tahun lalu, untuk anggota asosiasi koperasi Selandia Baru memiliki total omzet 27 miliar USD. Setengah dari omzet tersebut, berasal dari koperasi susu, sehingga mayoritas semua peternak sapi perah di sana berkoperasi. Yang mana sebanyak 22 % dari PDB Selandia Baru, berasal dari bisnis yang dikelola oleh koperasi.

 

“Koperasi yang bergerak di bidang susu, sebanyak 95 % mulai dari penjualan, pemrosesan, pengemasan dan pemasarannya dilakukan untuk ekspor. Sebab, dengan jumlah penduduk hanya 4 juta jiwa, produksi susunya melimpah. Indonesia pun termasuk negara yang mengandalkan susu dari Selandia Baru,” paparnya.

 

Ali mengamati, tidak semua anggota koperasi di Selandia Baru harus memelihara sapi. Ada anggota yang pekerjaannya memelihara rumput untuk pakan sapi. Mereka memiliki hamparan padang rumput, dan pekerjaannya hanya mengelola padang rumput saja, rumput tersebut disewakan kepada peternak yang memelihara sapi. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain