Sabtu, 1 Mei 2021

Utak-Atik Pasokan Daging

Utak-Atik Pasokan Daging

Foto: TROBOS Ramdan


Menjelang HBKN seperti Ramadan dan Lebaran, harga daging sapi merangkak naik. Solusi instan digodok pemerintah untuk mengatasi ketimpangan pasokan dan permintaan pada momen khusus ini
 
 
Kebutuhan daging sapi dalam negeri selama bulan puasa hingga Lebaran tahun ini, diperkirakan akan melonjak seiring dengan dilarangnya aktivitas mudik Lebaran akibat pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease). Peningkatan konsumsi daging ini, diprediksi akan terkonsentrasi di wilayah dengan konsumen daging sapi terbesar, yaitu Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) serta Bandung Raya, Jawa Barat.
 
 
Sementara, harga daging sapi di pasaran belakangan ini terpantau mengalami kenaikan hingga Rp 130.000 per kg. Selain harga daging sapi yang mahal, ketersediaan sapi yang siap potong di dalam negeri belum dapat mencukupi kebutuhan. Dengan begitu, otomatis pemerintah harus mengimpor, baik sapi hidup maupun daging sapi beku, ke Indonesia.
 
 
  Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang turut andil dalam stabilisasi harga bahan pokok penting (bapokting) seperti daging sapi ini, telah berupaya agar pasokan daging terpenuhi dengan harga yang kompetitif. Disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN) Kemendag, Syailendra bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), kebutuhan konsumsi daging sapi secara nasional sekitar 637.200 ton atau kira-kira 2,36 kg per kapita per tahun.
 
 
Jika dibagi lagi, untuk kebutuhan horeka (hotel, restoran dan katering), rumah makan serta penyedia makanan dan minuman, kurang lebih 1,9 kg per kapita per tahun atau setara kira-kira 513.000 ton per tahun. “Apabila nilai tersebut dikonversi ke sapi, kira-kira membutuhkan sebanyak 2,67 juta ekor. Kemudian, konsumsi rumah tangga sendiri hanya 0,29 kg per kapita per tahun,yang setara dengan 78.300 ton daging per tahun, dan jika dikonversikan ke sapi potong kira-kira perlu sejumlah 408.000 ekor,” sebut Syailendra.
 
 
Selanjutnya, ia mengatakan, kebutuhan daging sapi untuk industri besar, sedang serta UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) ini kira-kira 0,15 kg per kapita per tahun, yang setara dengan 40.500 ton daging, atau dikonversi ke sapi sekitar 211.000 ekor. Adapun, kebutuhan daging untuk jasa kesehatan adalah 0,02 kg per kapita per tahun yang setara dengan 45.400 ton atau jika dikonversikan dalam bentuk sapi, yaitu sebesar 28.000 ekor.
 
 
“Untuk penyaluran daging sapi, berdasarkan diskusi antara Kemendag dengan Aspidi (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia), mulai dari Desember 2020 hingga 14 Januari 2021, rata-rata sebanyak 950 ton. Angka ini setara dengan 150 ton daging beku per pekan, dengan persentase untuk horeka 20 %, industri pengolahan 20 %, dan ADDI (Asosiasi Distributor Daging Indonesia) sekitar 60 %. Umumnya setelah masuk ke ADDI, lalu akan tembus ke pasar becek, UMKM dan konsumsi rumah tangga,” jelas dia.
 
 
Mengamankan Ketersediaan 
Ditemui dalam forum yang berbeda, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah menguraikan walau April ini umat muslim menjalankan ibadah puasa, tetapi kondisi permintaan daging masih dalam batas normal. Sebab, Indonesia masih dalam kondisi Covid-19, dan aktivitas perekenomian belum sepenuhnya pulih.
 
 
“Hasil prognosa kami dengan memperhitungkan kebutuhan normal di April, yaitu sekitar 26.000 ton, kemudian di Mei yang bertepatan dengan puasa dan Lebaran, yaitu kurang lebih butuh 76.000 ton. Ini masih dalam posisi kebutuhan normal, dan dengan adanya Covid-19, membuat daya beli masyarakat turun, serta horeka pun belum sepenuhnya normal. Tentu angka ini bisa terkoreksi, tetapi terus kami perbaharui setiap akhir bulan,” ungkapnya. 
 
 
Nasrullah membeberkan, stok daging di Februari dan Maret dalam kondisi surplus dan angka itu akan memperkuat ketersediaan daging nasional di periode April dan Mei mendatang. Jika di total, stok daging di Maret ditambah kekuatan produksi dalam negeri, dapat dipastikan pemenuhan daging masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri dalam posisi yang aman.
 
 
Pada Maret, kebutuhan masyarakat tercatat sebanyak 37.000 ton, dan ada surplus sekitar 27.000 ton. “Untuk periode berikutnya, stok juga dipenuhi dari sapi bakalan dan sapi lokal. Jumlahnya kurang lebih sebanyak 188.000 ekor yang siap dipotong, untuk periode April dan Mei. Persediaan daging beku yang ada di gudang-gudang pada Maret, ada 24.000 ton, angka suprlus ini untuk memperkuat stok di April, dan jika di total pada Mei nanti, stok daging sapi atau kerbau cukup untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat selama puasa dan Idul Fitri,” urai Nasrullah.
 
 
Menanggapi data prognosa kebutuhan daging yang dikeluarkan oleh Kementan, Direktur PT Berdikari (Persero), Harry Warganegara menyodorkan data kebutuhan konsumsi daging sepanjang 2021. Kebutuhannya yaitu sebanyak 696.956 ton, sedangkan produksi dalam negeri hanya 425.978 ton, sehingga defisitnya mencapai 270.978 ton. Harry mengaku, data ini diperoleh dari hasil rakornis (rapat koordinasi teknis) dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) dan Kemendag. 
 
 
“Harga sapi hidup sekarang sudah di level paling murah, yakni sebesar 3,9 USD (Rp 56.543,56) per kg. Namun jika dibandingkan dengan awal 2020 lalu ataupun dua tahun sebelumnya, harga sapi hidup berada di angka 2,6 USD (Rp 37.695,71) per kg, kenaikan harga ini cukup signifikan. Sehingga, saat ini teman-teman feedloter (industri penggemukan sapi potong) tidak bisa mengisi sapi di kandangnya secara penuh,” sesal dia.
 
 
Terkadang, Harry mengimbuhkan, feedloter harus menunggu dan melihat (wait and see), tetapi jika tidak segera mengambil keputusan maka tidak bisa mengambil posisi. Artinya, tidak dapat dipungkiri bahwa memang harga sapi atau daging di dunia beranjak naik, sebaliknya untuk komoditas daging kerbau dari India, harganya masih terbilang stagnan. 
 
 
Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Gapuspindo (Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia), Joni Liano melihat bahwa defisit ketersediaan daging sapi sebanyak 270.000 ton tersebut, menandakan produksi lokal trennya setiap tahun naik, tetapi belum mampu mengimbangi laju konsumen. Sedangkan data yang diperlihatkan oleh Joni, laju konsumsi masyarakat Indonesia yaitu 8,1 % per tahun, sementara laju produksinya masih 5 %.
Dari data yang disingkap oleh Joni, terlihat bahwa terdapat ketimpangan laju konsumsi dan produksi sapi potong setiap tahunnya, sehingga mau tidak mau, Indonesia memang harus impor. “Selama ini impor, baik sapi hidup maupun daging sapi beku, porsi terbesar disokong oleh Australia, bahkan untuk impor sapi hidup 100 % dari Australia. Persoalannya, apabila Australia mengambil satu kebijakan tertentu, Indonesia langsung panik, artinya ketergantungan Indonesia masih tinggi terhadap Australia,” cecar dia.
 
 
Oleh karena itu, sejak Oktober 2020 Joni telah melaporkan hal itu kepada Dirjen PDN Kemendag, bahwa terjadi sale of crisis dari Indonesia. Menurutnya, kondisi ini adalah hal serius. Jika populasi sapi di Indonesia sebanyak 18 juta ekor, lalu yang boleh dipotong maksimal hanya 15 % dari total populasi, maka apabila melebihi jumlah itu dalam kurun waktu tiga tahun saja populasi sapi di Indonesia akan habis.
 
 
Mahalnya harga sapi dan masih kurangnya stok sapi untuk momen Lebaran, mendesak Syailendra untuk segera ketok palu terkait impor sapi hidup serta daging sapi beku. Ia pun telah merancang perhitungan dengan Gapuspindo. “Kita akan lihat lagi, sapi ex bakalan ini ada kira-kira 4.984 ton, dan akan masuk suplainya dari Gapuspindo. Jika tidak salah hitung, angka tersebut setara dengan hampir 25.000 ekor sapi. Kemudian di April akan masuk kontribusi dari Gapuspindo lagi sebanyak 6.491 ton dan Mei 8.400 ton. Importir daging lainnya yang kita rencanakan, seperti dari Aspidi sebanyak 3.728 ton di Maret dan sekitar 4.000 ton di April, sehingga totalnya ada sekitar 36.000 ton,” paparnya.
 
 
Selanjutnya dari APPHI (Asosiasi Pengusaha Pemotongan Hewan Indonesia), berkontribusi sebesar 9.000 ton. Informasinya, akan masuk di Maret sekitar 2.772 ton, April 20.000 ton dan Mei 14.000 ton. Diharapkan, daging sapi beku ini akan masuk sebelum hari raya, jika datangnya setelah itu maka momen akan terlewat. 
 
 
Syailendra mengatakan bahwa hal tersebut akan sangat membantu dalam menyeimbangkan harga daging sapi di pasar. “Saat menyusun neraca ketersediaan daging sapi, kami berharap di Maret daging bisa masuk sekitar 5.000 – 10.000 ton untuk membuat psikologis pasar, bahwa semua daging tersedia dan harga akan terkendali. Karena dalam perhitungan, paling tidak 30 – 40 % kami bisa seimbangkan dengan ini,” ungkapnya.
 
 
Ia pun berharap, distribusi daging sapi ini bisa dilakukan secara merata melalui ADDI dan APPHI. Syailendra mendorong supaya suplai daging sapi di April bisa naik ke posisi 25.000 ton, dan di Mei boleh turun sedikit, sehingga surplusnya bisa dijaga.
 
 
Opsi Lain Negara Pemasok
Mahalnya harga daging sapi pada momen-momen spesifik, seperti Ramadan dan Lebaran, telah terjadi dan terus berulang setiap tahunnya. Faktor kebijakan dari Australia yang membuat harga sapi melonjak, harusnya menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk mencari solusi alternatif guna mendapatkan sapi dengan mudah dan murah. Kendati demikian, ini bukanlah hal yang mudah, sebab Indonesia memiliki peraturan yang cukup ketat terkait impor sapi, seperti negara pengimpor harus bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK).
 
 
Terkait mahalnya harga daging sapi ini, Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan, Kemenko Perekonomian, Pujo Setio mengungkapkan bahwa sesungguhnya harga daging sapi di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan Singapura. Walaupun memang lebih mahal dari Malaysia dan Bangladesh. Sehingga, jika dibandingkan dengan harga daging di dunia, sebenarnya Indonesia masih belum terlalu mahal. 
 
 
“Kemudian, bagaimana dengan negara ASEAN? Sebenarnya, harga sapi di ASEAN masih terbilang rendah, bahkan pada November 2020 mulai turun. Tetapi untuk harga sapi hidup ini juga masih rendah, jika dibandingkan dengan negara lainnya, kecuali pada Januari dan Februari 2021 di Filipina yang mengalami penurunan harga,” tutur dia. 
 
 
Pujo menjelaskan, harga sapi hidup di Indonesia masih bagus dibandingkan Filipina. Meskipun tidak mengetahui secara persis, ia menyarankan untuk dapat membuka peluang impor dari Filipina sebagai salah satu solusi jangka pendek. Pujo mengaku, belum mengetahui secara pasti apakah Filipina memang benar-benar sudah terbebas dari segala penyakit, termasuk PMK. 
 
 
Pasalnya untuk masalah kesehatan, harus dibicarakan terlebih dahulu dengan Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner (Ditkesmavet) Kementan, jika Indonesia mau mengimpor sapi hidup. “Apabila Indonesia mau mengimpor daging sapi, tentunya harus ada jaminan kehalalannya. Ini mungkin merupakan salah satu potensi juga,” ungkap Pujo. 
 
 
Ia menilik dari beberapa perkembangan harga, bahwa sesungguhnya harga dari Amerika dan Australia ini cukup tinggi, sementara dari Brazil dan Argentina lebih rendah. Hanya yang menjadi kendala ialah jarak dan waktu pengiriman. Walaupun sekarang masih dalam kondisi pandemi secara global, di beberapa negara harga sapi juga sudah tinggi, sehingga ia yakin Berdikari dan kawan-kawan pun kesulitan mendapatkan daging sapi dari Brazil.
 
 
“Bagaimana pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional dalam jangka pendek ini? Memang sampai saat ini, kita mengalami defisit terkait dengan produksi daging sapi dan kerbau. Sehingga, belum mampu memenuhi secara nasional. Mau tidak mau Indonesia harus melakukan importasi, baik sapi bakalan maupun daging sapi beku,” desaknya.
 
 
Berbicara terkait kebutuhan daging sapi untuk HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional), Harry menyampaikan bahwa tidak perlu khawatir. Apalagi, Berdikari dibantu oleh feedloter, walaupun saat ini isunya harga sapi dari Australia naik. Sebab, kini Australia dalam kondisi repopulasi, sehingga berefek kepada Indonesia. 
 
 
Indonesia memang mengimpor sapi hidup dari Australia saja dan belum ada dari negara lain. “Opsi lainnya, seperti negara Meksiko, Chili, dan Filipina. Kami sudah berkomunikasi dengan duta besarnya. Mereka sudah dideklarasi secara negara tanpa vaksin untuk bebas dari PMK,” terang Harry.
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 258/Maret 2021
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain