Sabtu, 1 Mei 2021

Industri Terdampak Kenaikan Harga

Industri Terdampak Kenaikan Harga

Foto: dok. TROBOS
Meningkatnya harga daging kerbau beku impor dari India, membuat industri pengolahan daging tekor

Harga daging kerbau turut merangkak naik bahkan disinyalir ada praktik pengoplosan daging sapi dengan daging kerbau di lapangan

 



Kenaikan harga bahan pokok penting (bapokting) menjelang Lebaran ini tidak hanya terjadi pada daging sapi, tetapi juga daging kerbau. Sebagai salah satu penyokong kebutuhan daging di Indonesia, daging kerbau digadang menjadi daging sapi versi lebih murah. Namun ternyata, daging kerbau pun ikut melambung sepanjang awal tahun hingga memasuki bulan Ramadan.

 


Keluhan ini disampaikan oleh Ketua Umum Nampa (National Meat Processor Association), Ishana Mahisa bahwa dalam kurun waktu Oktober 2020 hingga Maret 2021, daging kerbau yang diperuntukkan kepada industri sudah naik 31 %. “Pada Oktober saya beli daging kerbau dengan harga Rp 52.000 per kg, tetapi sekarang (Maret, red) sudah mencapai Rp 68.000 per kg. Kenaikan harga daging kerbau ini telah kita sampaikan ke pemerintah, tetapi tidak ada satupun instansi yang dapat menahan harga daging kerbau industri itu untuk turun,” sesalnya.

 


Menurut Ishana, daging kerbau beku untuk industri menjadi salah satu solusi jitu, sebab awal mula yang berjuang untuk daging kerbau ialah Nampa. Usai melalui proses yang panjang, akhirnya secara hukum daging kerbau dari India diizinkan masuk ke Indonesia.

 


Nyatanya euforia tersebut tidak berlangsung lama, sampai lahirlah PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak dan/atau Produk Hewan dalam Hal Tertentu yang Berasal dari Negara atau Zona dalam Suatu Negara Asal Pemasukan, yang intinya daging kerbau beku bisa diimpor hanya dengan penugasan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), yang notabene bukan pemain daging murni. “Selain itu, daging kerbau yang diimpor juga dijalankan oleh orang-orang India, dan hanya daging konsumsi (consumtive meat) yang harganya juga terbilang relatif mahal,” keluh Ishana.

 


Ketua ADDI (Asosiasi Distributor Daging Indonesia), Ahmad Hadi mengungkapkan harga daging kerbau beku (compensated buffalo meat) yang dibelinya di Desember 2020 kepada PT Berdikari yaitu sebesar Rp 56.000 per kg, sedangkan di Maret 2021 sudah mencapai Rp 68.000 per kg. Artinya, harga daging kerbau beku sudah naik sebanyak Rp 22.000 per kg. “Untuk sapi potong menjelang Lebaran yang laku adalah dagingnya. Sedangkan jeroannya dibuang, maka ada subsidi silang ke harga daging,” sebut Hadi membandingkan dengan kenaikan harga daging kerbau beku.

 



Malaysia Lebih Murah
Ishana mengungkapkan, daging kerbau beku baru masuk ke Indonesia pada 2016. Saat ini Indonesia sudah bertengger di ranking keempat pengimpor terbesar daging kerbau India. Sedangkan Malaysia berada di peringkat kedua, dan telah tiga dekade menggunakan daging kerbau. Pabrik burger dan sosis di negara itu mayoritas telah menggunakan bahan baku dari daging kerbau.

 


“Jenis daging yang diimpor ke Indonesia adalah compansated buffalo meat, sementara Malaysia tidak hanya mengimpor compansated buffalo meat tetapi juga industrial meat. Untuk harga daging kerbau di salah satu supermarket di Jakarta itu Rp 80.000 per kg (23/3). Sedangkan di supermarket yang sama di Kuala Lumpur, Malaysia hanya 18,99 RM (Rp 66.465) per kg. Sehingga selisihnya hampir Rp 13.000 per kg atau 17 %,” beber Ishana.

 


Ia mengaku, tidak menjajaki pasar tradisional, sebab kini daging sapi telah dioplos dengan daging kerbau. Ia pun mengisahkan saat bertandang ke Malaysia pada 2 – 3 November 2016, ternyata harga daging kerbau sampai saat ini terbilang relatif tidak banyak bergerak. Ishana pun menawarkan, apabila Nampa diberi izin impor daging kerbau, maka harganya bisa sama dengan Malaysia.

 


“Harga daging kerbau beku pada masa pandemi ini berada di posisi Rp 43.773 per kg, sedangkan Indonesia masih di kisaran Rp 50.000 per kg. Ini masih berbicara tentang compensated buffalo meat bukan industrial meat yang hanya sebesar 11 RM (Rp 38.500) per kg. Jika Nampa diberi izin untuk impor sendiri, harganya bisa 10,79 RM (Rp 37.765) per kg dengan biaya masuk bisa 0, karena Nampa memiliki fasilitas BMDTP (Bea Masuk Ditanggung Pemerintah),” tandas Ishana meyakinkan.

 

 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 258/Maret 2021

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain