Sabtu, 1 Mei 2021

Sukses Menanggulangi ND dengan VectormuneŽ ND

Sukses Menanggulangi ND dengan VectormuneŽ ND

Foto: 
Penyerahan Kenang Kenangan kepada pembicara

Tidak kurang dari 140 juta dosis Vectormune® ND sudah disuntikan keayam – ayam di Indonesia dan 43 miliar dosis di seluruh dunia

 

PT Ceva Animal Health Indonesia (Ceva) kembali menghadirkan acara rutin tahunannya, CHICK DAY(31/3/21). Acara ini dipersembahkan untuk para stakeholder perunggasan dan pelanggannya di tanah air. CHICK DAY 2021 mengusung tema Recipe for Success: Indonesia’s Real Case and Value yang diselenggarakan secara hybrid (online dan ofline).

 

Seminar ofline diadakan di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat dengan protokol kesehatan yang ketat. Sebelum memasuki ruangan, seluruh peserta harus melakukan tes swab antigen terlebih dahulu, tetap menggunakan masker, dan menjaga jarak.

 


Dalam sambutannya, Edy Purwoko selaku Country Manager PT Ceva Animal Health Indonesia mengungkapkan rasa bahagianya bisa kembali mengadakan CHICK DAY yang sudah ditunggu-tunggu peternak. Walaupun acara digelar dengan batasan tamu undangan via ofline, tidak mengurangi antusiame peserta
dari seluruh Indonesia.

 


Pada kesempatan ini, Edy juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada peternak unggas di tanah air. Karena telah mempercayakan vaksin hatchery nya kepada Ceva. Sebagai leader di vaksin unggas terutama di hatchery, Ceva berkomitmen menggunakan seluruh tenaga dan pikirannya untuk menghasilkan produk, peralatan, dan servis yang maksimal.

 


Edy menginformasikan perkembangan vaksin Vectormune® ND yang diluncurkan September 2019 lalu. “Vectormune® ND dapat mengurangi virus shedding penyakit ND dengan perlindungan maksimal dan tidak menimbulkan efek samping. Menurut catatan kami, tidak kurang dari 140 juta dosis sudah
disuntikan ke ayam-ayam di Indonesia,” ungkap Edy.

 


Di awal acara, Ceva tidak lupa mengajak peserta untuk turut mendukung kampanye online milik Ceva yaitu C Our Future (@courfuture) - Embrace Chicken and Egg to Break the Cycle of Child Stunting. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat luas atas isu stunting di Asia. Ceva mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi ayam dan telur untuk mencegah permasalahan ini.

 


Proteksi Maksimum terhadap ND
CHICK DAY 2021 menghadirkan 3 orang pembicara yang sudah sangat dikenal di kalangan industri perunggasan tanah air yaitu, Tony Unandar - Poultry Private Consultant, Achmad Dawami - Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas), dan Ayatullah M. Natsir - Poultry Business Unit
Manager PT Ceva Animal Health Indonesia. Tony Unandar didapuk sebagai pembicara pertama yang membahas mengenai infeksi virus ND (Newcastle Disease) pada unggas.

 

Tony menyinggung fakta bahwa kasus ND masih terjadi, walaupun program vaksinasi dan teknologinya terus berkembang. Hal yang perlu disadari menurut Tony adalah virus selalu mencari sel induk semang untuk hidup. Bisa jadi di suatu wilayah, induk semangnya selalu ada sehingga virus ND tidak pernah hilang. “Banyak hal yang menyebabkan virus ND bisa menular dan bertahan. Diantaranya kondisi kandang tidak bersih, masih banyak sisa kotoran, ventilasi tidak memadai, serta kepadatan yang tinggi. Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi ayam sendiri misalnya stres,” jelas Tony.

 


Walaupun program vaksinasi sudah dilakukan, namun ayam membutuhkan waktu untuk membentuk kekebalan yang cukup. Di sela waktu pembentukan antibodi tersebut, virus masih bisa menginfeksi. Tony menyebutkan program vaksin yang cocok untuk mengatasi ND adalah vektor vaksin. Karena vektor vaksin memiliki teknologi untuk mengurangi shedding. Hasilnya bisa konsisten sepanjang hidup ayam.

 


Namun demikian ia mengingatkan peternak tidak bisa semata-mata mengandalkan vaksinasi. Harus diikuti dengan program biosekuriti yang ketat, ventilasi yang optimal, dan mereduksi stres pada ayam.

 


Ayatullah menjelaskan lebih detail mengenai keunggulan vektor vaksin dibandingkan vaksin konvensional. Ia mengatakan di tengah tantangan ND yang semakin meningkat,  Vectormune® ND menjadi solusi terbaik untuk memberikan perlindungan maksimal dari penyakit ND. Vektor pembawa Vectormune®
ND adalah Marek HVT dengan donor gen F dari virus ND.

 


Menurut Ayatullah, terdapat 3 masalah umum vaksinasi konvensional baik live maupun kill ND saat ini. Seperti interferensi kekebalan asal induk terhadap kerja vaksin ND konvensional, kualitas aplikasi vaksin dan adanya reaksi pasca vaksinasi. Sedangkan Vectormune® NDterbukti efektif menghindari
timbulnya maternal antibodi dan perlindungannya lebih kuat, cepat sehingga kejadian subklinis sangat kecil sekali.

 


Keunggulan lain dari Vectormune® ND adalah mampu menggertak kekebalan humoral, mukosal, dan kekebalan berperantara sel (tidak bisa digertak oleh vaksin kill). Kemudian vaksin ini dapat diaplikasikan secara subkutan atau in ovo. Berbeda dengan vaksin ND kill dan live yang tidak bisa diaplikasikan
in ovo. Selain itu perlindungan terhadap shedding virus lebih kuat dibandingkan vaksin kill, mampu memberikan perlindungan yang kuat terhadap semua genotipe virus ND, dan memberikan perlindungan sepanjang masa.

 

Ayatullah memaparkan monitoring yang dilakukan Ceva pada 2019-2020 terhadap 256 broiler komersial farm. Monito ring ini bertujuan membandingkan kinerja  Vectormune® ND dengan vaksin kill. Hasilnya adalah ayam yang divaksin menggunakan Vectormune® ND mempunyai rata-rata bobot tubuh meningkat sejumlah 17 gr, rata-rata kematian berkurang 4 %, FCR berkurang 0,043, dan indeks performa naik 25,6. Kalau dihitung secara keseluruhan menghasilkan tambahan mencapai Rp 721 per ekor.

 


“Dengan kondisi tantangan ND yang sangat tinggi di Indonesia, kami berharap semakin banyak peternak yang menggunakan Vectormune® ND. Sehingga kejadian outbreak semakin mengecil dan transmisi di lapangan semakin berkurang,” harap Ayatullah. Ia juga menginformasikan hingga 2020 tercatat
Vectormune® ND sudah digunakan di 80 negara dengan 43 miliar dosis.

 


Bisnis Poultry Indonesia
Di sesi akhir CHICK DAY 2021, Achmad Dawami memaparkan isu bisnis perunggasan di Indonesia. Dikatakannya panjangnya skema mata rantai penjualan adalah penyebab utama kenapa gejolak harga live bird (ayam hidup) sangat tinggi di Indonesia.

 


Ia mencontohkan Malaysia, pemotongan hewan unggas di pasar becek sudah dihentikan sejak 1991. Ini dilakukan pemerintah di sana untuk memotong mata rantai distribusi penjualan, sehingga harga semakin terjangkau. Menurut Dawami, pelan-pelan Indonesia sudah menuju ke arah sana. Sesuai dengan
Permentan Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi yang mengatur tentang Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan fasilitas rantai dingin.

 


Dawami juga menyinggung konsumsi daging ayam Indonesia masih rendah dibandingkan Filipina dan Vietnam. Padahal pendapatan perkapita Indonesia lebih tinggi Lalu, diketahui bersama bahwa kandungan protein daging ayam lebih tinggi dibandingkan sapi dan kambing serta dapat membantu menurunkan angka stunting juga.

 


“Kita harus terus melakukan promosi dan pendidikan yang perlu disampaikan ke  masyarakat akan pentingnya mengonsumsi protein. Bisa dimulai dari keluarga kecil kita. Pemerintah juga harus bertindak sebagai lokomotif untuk peningkatan konsumsi daging ayam dengan mempromosikan secara kontiniu agar  konsumsi ayam meningkat,” terang Dawami.
lTROBOS/Adv

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain