Selasa, 4 Mei 2021

Beternak Domba Sepenuh Hati

Beternak Domba Sepenuh Hati

Foto: ist/dok.ZOOM-Unwiku


Purwokerto (TROBOSLIVESTOCK.COM). Peternak domba didorong untuk masuk industrialisasi agar lebih efisien dan berdaya saing. Caranya, peternak kecil harus bersatu membentuk sebuah korporasi sehingga populasi semakin banyak dan ekonomis.

 

Executive Director Bitec (Biofarming Teaching and Education Center) NDayu Park - Sragen, Budi Rustomo menuturkan salahsatu peluang bisnis domba datang dari ritual akikah. Angka kelahiran anak di Indonesia yang berasal dari orangtua muslim dan mampu melakukan akikah adalah 2,9 juta jiwa. Untuk transaksi jasa akikah, nilai yang mencuat adalah Rp 5 triliun. Sementara itu, omzet penjualan dari anggota Aspaqin (Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia) baru mencapai Rp 860 miliar. Artinya, masih banyak potensi yang belum tersentuh.

 

Walaupun demikian Budi mengakui terdapat indikasi supply shortage. Supply domba dinilai jauh lebih rendah dibandingkan angka demand, dan krisis bibit atau bakalan domba juga terjadi.

 

“Harga domba mengalami peningkatan. Pada 2019 lalu, harga betina adalah Rp 32.000 – 35.000 per kg. Naik menjadi Rp 50.000 – 55.000 per kg pada tahun berikutnya,” kata Budi dalam seminar daring bersama Fakultas Peternakan Universitas Wijayakusuma (Fapet Unwiku), Purwokerto.

 

Lanjutnya, harga domba jantan tanpa tanduk adalah Rp 38.000 – 40.000 per kg pada 2019. Level harganya naik menjadi Rp 65.000 – 70.000 per kg. Terakhir, pada 2019 pula harga domba jantan bertanduk adalah Rp 43.000 – 45.000 per kg. Mengalami peningkatan harga menjadi Rp 72.000 – 75.000 per kg.

 

Budi saat ini mengelola Bitec Farm dengan populasi antara 1.000 – 1.200 ekor. Dengan presentase domba laktasi sekitar 20 – 30 %, domba bunting sebanyak 40 – 60 % dan anak domba sebanyak 10 – 20 %. Untuk penjualannya, Budi beserta pihaknya tidak menjual domba betina. Melainkan hanya domba bakalan jantan.

 

Perhatikan Keswannya!

Dengan menerapkan model 5 prinsip kebebasan dalam manajemen pembibitan domba, Budi berharap pengembangan model ini sebagai upaya untuk memenuhi tuntutan masyarakat nasional maupun internasional. Kemudian, mampu juga memberikan contoh agar model peternakan berbasis animal welfare atau keswan (kesejahteraan hewan) ini semakin marak diaplikasikan di masyarakat.

 

“Sejauh ini, pemeliharaan yang mengedepankan keswan belum sepenuhnya berjalan di Indonesia,” Budi menyayangkan.

 

Prinsip pertama adalah domba yang dipelihara harus bebas dari rasa haus dan lapar. Hal ini dilakukan dengan menyediakan kemudahan akses air minum dan penyediaan pakan dalam jumlah cukup dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi domba. Jika tak terpenuhi, besar kemungkinan domba akan terserang penyakit.

 

“Pakan yang digunakan adalah silase jerami padi. Terkadang, kami juga menggunakan silase daun jagung atau pakan hijauan odot. Kami sengaja tidak memberikan jerami padi dalam setahun full agar ada variasinya,” tambah Budi. Khusus untuk domba laktasi, Budi sengaja menambahkan blok nutrisi agar tetap terjaga asupannya.

 

Prinsip kedua adalah domba yang dipelihara harus bebas dari rasa ketidak nyamanan atau penyiksaan fisik. Prinsip ini dipenuhi dengan persiapan kandang dan pola pemeliharaan yang baik sesuai aturan atau SOP. Kandang yang terdapat di peternakan milik Budi dibuat per blok, tergantung dari fase yang sedang dilalui domba tersebut. Seperti kandang khusus domba bunting, anak domba, kandang khusus melahirkan bahkan kandang khusus kawin.

 

Model kandang yang digunakan bukanlah kandang panggung, tapi lesehan dengan bedding saw dust dan rice straw atau serbuk gergaji dan jerami padi. Penggunaan lantai dasar ini memang sangat nyaman untuk domba dan sangat memenuhi animal welfare. Fungsi lain dari kandang bedding adalah bisa didekomposisi sehingga bisa menjadi pupuk organik.

 

Prinsip ketiga, domba harus bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit. Upaya yang diterapkan adalah terkait dengan pencegahan penyakit, penanganan atau pengobatan cepat dan tepat. Apabila prinsip ini tidak terpenuhi, maka akan memicu penyakit yang berakibat pada kematian domba dan ancaman penularan penyakit antar domba atau manusia.

 

Prinsip selanjutnya adalah domba bebas untuk mengekspresikan perilaku alamiahnya. Kebebasan ini dipenuhi dengan penyediaan ruang dan fasilitas yang cukup untuk pemeliharaan domba, penataan domba berdasarkan fisiologis, fisik dan reproduksinya.

 

Prinsip kelima dan terakhir adalah domba harus bebas dari ketakutan dan rasa tertekan. “Kondisi ini dipenuhi dnegan memberikan perlakuan yang dapat mencegah rasa takut dan penderitaan,” tukas Budi.

 

Menyadari betapa kompleksnya manajemen pemeliharaan dan pembibitan domba, maka peternak sudah sepatutnya harus sepenuh hati dalam mengimplementasikannya. Jangan sampai abai atau lalai, karena akan mengakibatkan tak maksimalnya produksi hingga tingginya tingkat mortalitas. ed/ajeng

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain