Selasa, 4 Mei 2021

Berkelimpahan Jagung Cara Amerika Serikat

Berkelimpahan Jagung Cara Amerika Serikat

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Amerika Serikat menjadi negara produsen sekaligus pengekspor terbesar di dunia yang kemudian disusul Argentina, Brasil dan Ukraina.

 

US Grain Council merupakan organisasi yang mengembangkan pasar ekspor berupa barley, jagung, sorgum dan produk AS terkait termasuk hasil samping dan etanol yang terdapat lebih dari 50 negara dan Uni Eropa. “Mengingat, eskpor sangat penting dalam pembangunan ekonomi global dan profitabilitas pertanian di AS termasuk petani,” tutur Caleb Wurth, Assistant Regional Director U.S Grains Council Malaysia pada seminar online bebarapa waktu yang lalu. 

 

 Lebih lanjut, Caleb mengungkapkan jika penyebab sistem ekspor jagung di AS selaku lebih baik karena mampu menjaga kualitas jagung. Dengan melaporkan kualitas pakan pada saat panen maupun ekspor. Seperti faktor fisik, kadar air, komposis kimia, dan mikotoksin pada jagung.

 

Siklus perjalanan jagung dari mulai di tingkat petani di lapangan sampai dengan konsumen dan pengguna sangat ketat. “Untuk jagung yang paling penting diperhatikan adalah pertumbuhan jamur dan pembentukan mikotoksin yang berbahaya. Apalagi tidak hanya untuk ternak melainkan juga manusia yang mengonsumsi produk pangan ini,” tegas dia.

 

Di AS sendiri kata Caleb dalam pemilihan benih jagung, para petani mperhatikan juga tipe tanah dan serangan hama. Biasanya petani, lebih memilih benih jagung yang sudah mengalami produk rekayasa genetika (PRG).

 

“Agar mampu menjaga kualitas dan terlindungi dari gulma dan serangan insekta. Walhasil akan mengurangi penggunana insektisida atau pestisida,” ujar Caleb.

 

Namun terkadang tidak hanya benih PRG yang ditanam melainkan juga tergantung pada permintaan pasar. Ketika panen berlangsung, petani di AS menggunakan alat panen yang disebut dengan combine harvester yang sudah dilengkapi dengan drown. Sehingga memudahkan petani dalam melakukan proses panen termasuk mendapatkan data yang dapat mengukur kualitas jagung berupa kadar air.

 

Selain itu, petani di AS juga memiliki tempat penyimpanan sebagai antisipasi harga yang anjlok saat panen. Sehingga jagung dapat ditahan dan disimpan terlebih dahulu. Caleb menegaskan saat proses penyimpanan tidak akan meningkatkan kualitas jagung. Yang paling penting di AS, petani melakukan konservasi tanah agar pertanian tetap berkelanjutan. Sedangkan biaya produksi jagung di AS berkisar Rp 2.000 per kg biji pipil.

 

“Di dalam infrastruktur penanganan jagung ini, AS sangat memperhatikan dalam menetapkan titik-titik kritis dari segi lapangan sampai ke pengguna,” tutup Caleb.ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain