Rabu, 5 Mei 2021

Pakan Broiler Bukan untuk Ayam Lokal

Pakan Broiler Bukan untuk Ayam Lokal

Foto: ist/dok.ZOOM


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Perbedaan performans antara ayam lokal dengan ayam broiler (ras pedaging) yang cukup jauh menyiratkan pesan, pemberian pakan pada kedua jenis unggas tersebut seharusnya berbeda pula.  

 

“Padahal terdapat perbedaan yang cukup siginifikan pada karakter dan performa ayam lokal jika dibandingkan dengan broiler. Walhasil dengan kondisi tersebut, penggunaan pakan ayam lokal merupakan suatu hal yang sangat disarankan,” ujar Muhammad Adyataruna, Research and Development Farmsco Feed Indonesia.

 

Lebih lanjut, antara ayam lokal dengan broiler memiliki karakteristik dan performa yang pastinya berbeda. Adyataruna lalu menyodorkan data yang membandingkan performa bobot badan antar keduanya. Pada umur 35 hari, ayam lokal hanya memiliki bobot badan sebesar 462,5 gram, sedangkan broiler sudah mencapai 2273 gram. Artinya broiler memiliki bobot badan 4,9 kali lebih besar dibandingkan ayam lokal saat umur 35 hari.

 

Di sisi lain, untuk mencapai bobot badan 1000 gram, ayam lokal membutuhkan waktu selama 70 hari. Pada broiler hanya perlu waktu 21 hari. Artinya ayam lokal dalam mencapai bobot badan 1000 gram membutuhkan waktu 3,5 kali lebih lama dibandingkan broiler. Juga untuk pertambahan bobot badan, ayam lokal 81 % lebih rendah dan konsumsi pakan 76 % lebih rendah dibandingkan broiler.

 

Dengan kata lain, menurut Adyataruna broiler memiliki umur pemeliharaan yang lebih singkat, performa pertumbuhan cenderung lebih cepat, lebih minim aktifitas, cenderung bertengger serta lebih rentan terhadap penyakit.

 

“Berbanding terbalik dengan ayam lokal yang memiliki umur pemeliharaan lebih lama, performa pertumbuhan cenderung lebih lambat, juga lebih banyak aktifitas dan cenderung suka bertengger. Serta lebih kuat terhadap penyakit,” papar Adyataruna.

 

Dengan karakter unggas yang berbeda, kata Adyataruna membutuhkan asupan nutrisi yang berbeda. Sehingga dalam penyusunan pakan ayam lokal harus diperhatikan formulasi pakan berdasarkan regulasi yang berlaku, dan beberapa literatur pendukung. Lalu dilakukan penyesuaian (fine tuning) berdasarkan feedback yang masuk.

 

“Artinya produk pakan yang akan didesain pada ayam lokal besar kemungkinannya pada percobaan pertama tidak langsung optimal,” ungkap Adyataruna.

 

Adyataruna mengutarakan bahwa tantangan dalam penyusunan pakan ayam lokal adalah masih terbatasnya informasi atau penelitian yang dilakukan terhadap kebutuhan nutrisi ayam lokal. Ditambah beberapa penelitian yang telah dilakukan belum banyak mencantumkan jenis spesifik ayam lokal yang diteliti. Apalagi jenis ayam lokal sangat banyak sekali.

 

“Dengan banyaknya persilangan yang terjadi, ayam lokal memiliki keragaman genetik yang berimplikasi terhadap kebutuhan nutrisi,” dia menerangkan.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan kenaikan populasi tahunan berkisar 6,7 juta ekor. “Artinya ada peningkatan 2,46 % setiap tahunnya,” ujar Adyataruna.

 

Kondisi itu, seyogyanya memberikan harapan besar bahwa ayam lokal dapat dijadikan sebagai pemenuhan protein hewani sekaligus kebutuhan nutrisi pada masyarakat. Salahsatu masalah faktual yang kurang disadari para pelaku sampai kini, budidaya ayam lokal masih menggunakan pakan broiler. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain