Kamis, 6 Mei 2021

Peptida untuk Bioreseptor Pendeteksi Bakteri

Peptida untuk Bioreseptor Pendeteksi Bakteri

Foto: dok.istimewa


Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Peptida merupakan rantai asam amino, umumnya terdiri dari 2 hingga 50 asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Peptida sendiri ada yang alami dan juga buatan atau hasil dari hidrolisis. Protein yang dipotong juga dapat menjadi peptida.

 

Menekuni riset terkait bioreseptor berbasis peptida, Peneliti di BBLitvet (Balai Besar Penelitian Veteriner) Kementan (Kementerian Pertanian), Eni Kusumaningtyas menerangkan bahwa material biologi atau biomolekul reseptor itu bisa menggunakan enzim, antibodi, glukosa, protein, peptida dan MIP (molecularly imprinted polymers). Kemudian untuk material pengembangan biosensor atau platform, dapat menggunakan karbon, emas, silver, platinum dan grafena.

 

"Pada crosslinker-nya, jika kita memiliki banyak pilihan, salah satu yang sekarang saya pakai yaitu Sulfo-LC-SPDP. Sedangkan untuk transdusernya, ada magnetik, optik dan elektrokimia,” sebut dia dalam webinar bertajuk Biosensor for Veterinary Diagnosis Application (27/4).

 

Eni mengemukakan penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, bahwa biasanya dalam memanfaatkan biosensor, bioreseptornya menggunakan probe. Guna mendeteksi bakteri, maka digunakan antimikrobial yang dapat mendeteksi Escherichia coli (E. coli) dan Salmonella typhimurium

 

Penelitian tersebut menunjukkan, bahwa beberapa peptida yang berbeda akan menghasilkan sensitivitas yang berbeda pula. “Ini juga dapat dilihat dari tipe transduksinya, yaitu FS (full scale) dan EIS (electrochemical impedance spectroscopy), yang sama-sama mendeteksi E. coli itu limitasinya berbeda, yaitu 105 dan 103  ketika diaplikasikan di struktur yang berbeda,” bubuhnya.

 

Nilai Plus Peptida

Beberapa pertimbangan Eni menggunakan peptida sebagai bioreseptor, yakni karena peptida dapat mengenali berbagai analit, termasuk protein, asam nukleat, bakteri, fungi, metal ion, enzim maupun antibodi. Sehingga, peptida bisa melekat pada berbagai jenis analit tersebut. 

 

Kemudian, Eni melanjutkan, kelebihan lain dari peptida yaitu bisa dimodifikasi strukturnya guna meningkatkan selektivitas dan spesifikasinya. 

 

“Peptida memiliki struktur yang banyak dan mempunyai gerakan struktur, sehingga kita bisa memilih peptida mana yang akan dipakai. Bahkan, kita bisa mendesain peptida sesuai dengan yang diinginkan,” jelasnya.

 

Kelebihan peptida lainnya yaitu mudah dimodifikasi, misanya peneliti memiliki peptida tetapi belum stabil untuk digunakan. Maka, bisa membuatnya menjadi lebih stabil dengan mengurangi, menambahkan atau mengubah asam amino di dalamnya. Kemudian binding site atau sisi ikatannya dapat didesain dengan memodifikasi asam amino tadi, sehingga sisiikatannya bisa ditentukan sesuai keinginan.

 

“Terkadang peptida memberikan performa yang lebih baik dibandingkan antobodi. Itu tergantung pada sekuen asam aminonya. Namun, beberapa juga perlu modifikasi untuk alamiahnya. Kemudain peptida biasanya efektif untuk reseptor alami, sebab beberapa peptida memiliki reseptor alami (natural receptor),” papar Eni.

Sebagai informasi, bahwa peptida itu sendiri sangat luas, seperti di dalam sel darah putih manusia, peptida peptida yang dapat membunuh bakteri arau virus tertentu. Secara alamiah, petida berikatan dengan sel targetnya, sebagai contoh, bakteri ptogen bisa juga dideteksi dengan petida antimikroba. Sehingga, peptida mampu berikatan dengan apa saja.

 

Kemudian selektivitas dan spesifikasi peptida, Eni memberi contoh antimikroba untuk bakteri gram negatif, yang mana hanya bisa berikatan dengan bakteri gram negatif.

 

“Ketika bertemu dengan bakteri gram positif, makanpeptida tidak akan berikatan, sebab peptida tidak mengenali. Peptida itu mudah untuk diutak-atik, baik mengurangi, menambahkan maupun menggantiasam amino” tandasnya. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain