Selasa, 1 Juni 2021

Perbaikan Bibit & Memperkuat Kemitraan

Perbaikan Bibit & Memperkuat Kemitraan

Foto: Istimewa


Perbaikan kualitas bibit secara terus menerus dan kemitraan tripartit (peternak, koperasi, IPS) yang kuat menjadi modal dasar untuk berkembang guna mencapai target produksi SSDN yang diharapkan di 2025
 
 
Dua puluh tahun silam, rerata produksi harian susu sapi perah di Belanda baru berada di angka 20 liter per ekor per hari. Sekarang angkanya telah naik menjadi 30 liter per ekor per hari. “Kita masih berada di angka 10 – 13 liter per ekor per hari. Ini bukan masalah yang terlalu rumit sebenarnya. Jelas ini adalah masalah bibit, perbibitan. Karena di Indonesia tak ada perusahaan atau peternak yang fokus menangani pembibitan juga. Saya belum melihat ada perkembangan yang berarti untuk perbibitan sapi perah ini,” ungkap Efi Lutfillah, Freshmilk Relationship Manager PT Frisian Flag Indonesia pada seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke – 17 bertema "Komitmen Industri Dalam Pengembangan Persusuan Nasional", Selasa (11/5).
 
 
Acara yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication), dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock ini menghadirkan pula Ketua GKSI (Gabungan Koperasi Susu Indonesia) Jawa Barat – Dedi Setiadi; Head of Dairy Development and Sustainability Government, Environment & Safety Farm Dairy PT Greenfields Indonesia – Heru Prabowo; Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian – Fini Murfiani; serta Kabid Peternakan dan Keswan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta – Rismiati.
 
 
Efi menguraikan, industri sapi perah di negara maju tidak hanya mengenal peternak sapi perah yang memproduksi susu, namun ada peternak khusus pembibit. Sehingga peternak tak perlu terlalu pusing dengan manajemen pembibitan dan perawatan pedet. “Selain peternak membesarkan pedet sendiri, ada khusus peternak pembibit yang membeli, merawat membesarkan pedet sapi perah secara baik. Bibit ini dijual kembali kepada peternak produksi susu untuk pengganti atau replacement,” dia menuturkan. Proses rearing bibit sapi perah ini dilakukan dengan seksama, memperhatikan pertumbuhan badan dan perkembangan ambingnya sehingga diharapkan mampu menghasilkan susu dengan produktivitas tinggi setelah memasuki fase produksi.
 
 
“Peternak dari Jawa Barat (Jabar) ada membeli pedet sapi perah ke Jawa Tengah (Jateng). Padahal, lokasi pembesaran pedet itu ada yang bermasalah, terutama dengan ketersediaan pakan yang rendah. Jadi nanti setelah menjadi sapi dara kita yakin tidak akan tinggi produksi susunya,” urai dia. 
 
 
Sependapat, Dedi Setiadi menegaskan, selama belum ada peternak khusus pembibit, peternak sapi perah seharusnya memelihara bibit dari kecil dengan cara yang sangat baik. “Sekarang kita jual pedet ke Jateng, dibesarkan di Jateng, lalu dijual lagi ke Jabar. Sehingga tidak diketahui bagaimana kondisi pemeliharaan pedet hingga siap produksi,” ujarnya.  
 
 
Efi menyesalkan kosongnya pembibitan sapi perah oleh swasta, karena panennya lama, 1,5 tahun. Maka tugas pemerintah untuk menjembatani kesulitan perbibitan sapi perah ini. Agar produksi pembesaran bibit dapat dilakukan oleh peternak khusus pembibit, perusahaan swasta, maupun koperasi. 
 
 
Naik 2 Liter Saja
Efi berharap peternak yang memiliki 5 ekor sapi perah dan 2 – 3 ekor pedet yang lahir setiap tahun dapat dipelihara dengan benar, agar produksinya bisa naik sampai 20 liter. Dia menyatakan dampaknya akan sangat besar kalau produksi sapi perah dapat ditingkatkan 2 liter per ekor per hari saja daripada biasanya, melalui perbibitan yang baik. Menurut dia, jika dikalikan populasi, kenaikan itu sudah sangat tinggi, signifikan bagi pertumbuhan produksi susu segar dalam negeri (SSDN). “Tetapi ini memang tidak ringan,” tegasnya. 
 
 
TROBOS Livestock mencoba menyajikan gambaran kalkulasi kasar dari pernyataan itu. Referensinya, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menerbitkan angka produksi susu segar nasional 2020 sebanyak 997.350 ton, populasi sapi perah sebanyak 568.265 ekor, dan rasio sapi perah betina produktif sebesar 53,51 % dari populasi. Sehingga, merujuk pada harapan Efi di atas, kenaikan produksi susu segar sebesar 2 liter (kg) per ekor per hari akan menaikkan produksi SSDN sebesar 2 kg x (53,51 % x 568.265 ekor) x 305 hari laktasi = 185.487.946 kg = 185.487 ton per tahun. Maka total produksi SSDN akan terdongkrak menjadi 997.350 ton + 185.487 ton = 1.182.837 ton. Atau dengan kata lain, dimungkinkan produksi SSDN berpotensi akan tembus 1,1 – 1,2 juta ton per tahun.
 
 
Dedi Setiadi menyatakan untuk meningkatkan produksi susu 2 liter per ekor per hari secara cepat membutuhkan upaya serius, tidak seperti pada farm perusahaan. “Big farm sangat beda dengan koperasi. Karena koperasi anggotanya ribuan orang. Dengan berbagai kemampuan dan keadaan,” kata dia. Namun dia pun percaya bukan mustahil, mengingat peternak sapi perah sudah teruji ketangguhannya. Peternak tidak punya lahan, tapi bisa bertahan selama 50 tahun sampai sekarang. Tersedianya rumput dapat menjadi pengungkit bagi peningkatan kualitas dan kuantitas produksi.
 
 
Breed Alternatif 
Industri sapi perah perlu mencoba alternatif breed sapi perah baru yang berpotensi produksi lebih baik dan atau lebih adaptif dengan kondisi di Indonesia. Heru Prabowo menyatakan perusahaannya sudah 2 – 3 tahun ini mencoba mengembangkan sapi jersey. “Masih sangat baru buat kita, baru buat kita sendiri. Sebelumnya kita tahu sapi jersey hanya dari cerita dan bacaan. Di Farm 1 Gunung Kawi, populasi 4.000 ekor dengan produksi 42.340 ton per tahun. Populasi FH (friesian holstein) dan jersey perbandingannya 50 : 50,” dia menjelaskan.
 
 
Sapi jersey ini merupakan pilot project yang dijalankan sejak 2017. Pengembangannya sangat terbatas, dengan pantauan dari pemerintah. Heru berharap setelah pemantauan nanti, selain menjadi pengetahuan dan pengalaman bagi para pihak yang terlibat, akan dilanjutkan dengan pelepasan sapi jersey menjadi salah satu breed sapi perah yang diizinkan untuk dikembangkan di Indonesia. “Setelah sapi jersey dilepas sebagai breed sapi perah di Indonesia, mestinya izin impor dara akan mulai diizinkan dan produksi semen beku jersey bisa mulai diprogramkan,” ujarnya berharap. 
 
 
Heru mengaku sudah banyak peternak menanyakan cara mendapatkan sapi jersey. “Pemerintah barangkali akan memproduksi semen beku usai uji coba. Kita siap menyediakan pejantan yang akan dipakai untuk produksi semen beku jersey itu,” dia menerangkan. 
 
 
Dijelaskannya, sapi jersey layak diakui menjadi breed sapi perah di Indonesia dari sisi ukuran tubuh yang lebih kecil, adaptasi terhadap iklim lokal lebih baik, kualitas susu lebih baik, feed intake (asupan pakan) lebih kecil, dan mudah dalam manajemen breeding. “Perbandingannya, konsumsi pakan sapi FH 24 kg per hari, sapi jersey hanya 18 kg per hari. Total solid susu sapi FH berada di kisaran 12,5 – 12,7 %, susu sapi jersey bisa sampai 14 %. Sehingga, karena harga susu ditentukan berdasar kualitas, maka harga per liter susu sapi jersey jelas akan bersaing,” dia menguraikan. Walaupun demikian, tubuh kecil sapi jersey juga berefek pada volume produksi susu yang tidak setinggi sapi FH, rata – rata 23 – 24 liter per ekor per hari pada laktasi pertama, jauh di bawah FH yang mampu menghasilkan 33 – 34 liter per hari. 
 
 
“Kita berharap, semakin lama akan semakin naik produksinya, bisa lebih dari 25 liter per hari. Banyak sisi untuk sapi jersey ini. Tahan iklim tropis, mudah bunting, jarang mastitis, dan jarang pincang,” tandas heru. Kekurangannya, berat lahir pedet kecil, hampir hanya separuh dari pedet FH yang bisa 38 kg. Hal ini menuntut manajemen pemeliharaan pedet yang lebih baik. Susu yang diberikan untuk pedet sapi jersey harus susu kolostrum jersey sendiri dan tak bisa diganti dengan susu sapi FH. Sebab tubuhnya yang kecil perlu susu yang berkualitas lebih bagus. 
 
 
“Sapi jersey lebih tahan panas dibanding FH. Kita coba pelihara selama 2 tahun dengan kemampuan pemberian pakan yang dimiliki peternak. Ternyata performa sapi jersey mendekati potensi genetiknya dibanding ketika potensi pakan peternak itu diberikan kepada  sapi FH,” dia menuturkan. 
 
 
Modernisasi Kemitraan Koperasi
Hubungan bisnis antara peternak dengan koperasi susu/persusuan adalah bentuk kemitraan yang paling awal dibangun di Indonesia. Begitu pula antara koperasi susu dengan Industri Pengolahan Susu (IPS). Kemitraan ini bermakna kepastian pasok bahan baku bagi industri dan kepastian pasar bagi peternak dan koperasi.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 261/Juni 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain