Kamis, 3 Juni 2021

Food Estate untuk Cukupi Gizi Anak Bangsa

Food Estate untuk Cukupi Gizi Anak Bangsa

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Food estate merupakan rencana pengembangan terintegrasi antara pertanian, perkebunan dan peternakan di Indonesia dalam Rencana Strategis Nasional bidang ketahanan pangan.

 

Mengupas tuntas food estate, topik “Kompleksitas Pangan Nasional dari Hulu ke Hilir” diangkat pada gelar Indonesia Food Summit 2021 besutan Media Group News, pada Selasa (25/5).

 

Pada acara itu Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi mengatakan bahwa Indonesia perlu untuk dapat memastikan kebutuhan beras dan juga daging sapi yang jumlah impor setiap tahunnya sekitar 600 ribu ekor.

 

“Kita membutuhkan gula setidaknya 5,3 juta ton, yang hari ini produksi gula baru bisa dipasok di dalam negeri kira-kira 2 juta ton saja. Sedangkan sisanya sebanyak 3,3 juta ton, itu masih harus impor. Kita juga masih mengimpor sekitar 3 juta ton kebutuhan kacang kedelai, dan ini memang merupakan tantangan yang luar biasa, serta bukan pekerjaan yang gampang pula,” ujar Lutfi.

 

Tentunya, ia mengimbuhkan, kebutuhan untuk beras dalam negeri sudah bisa diatasi, sebab suplainya melimpah dari hasil kerja keras Kementan (Kementerian Pertanian). Kendati demikian, Lutfi merasa masih banyak pekerjaan rumah (PR) lain yang harus dikerjakan.

 

Menurutnya, ini bukan sesuatu hal yang mustahil, karena ekspor terbesar non migas Indonesia hari ini yaitu minyak kelapa sawit. Ini merupakan harga tertinggi dalam sejarah dan akan terus tinggi dalam dua tahun ke depan, karena adanya super cycle dari pada harga-harga komoditas. Hari ini, harga kelapa sawit tidak kurang dari 1.200 dolar per tonnya, sehingga menyebabkan industri pertanian Indonesia mendapatkan hasil tertinggi, mungkin di masa 5 – 6 tahun terakhir.

 

Artinya, menurut Mendag, ketika komoditas pertanian dikelola secara korporasi, profesional dan baik, maka akan menghasilkan hasil yang baik pula untuk petani-petani lokal. Demand side-nya sudah jelas, Indonesia membutuhkan setidaknya 3 juta ton kacang kedelai, 5 juta ton gula yang 3,5 juta ton diantaranya masih impor, dan tambahan 600.000 ekor sapi serta komoditas-komoditas lainnya.

 

“Sebab untuk menjaga supaya ketika panen tidak ‘meluber’ dan menyebabkan harga turun, serta saat paceklik harga menjadi tinggi, sehingga petani-petani kita tidak bisa menikmati hal tersebut,” terang dia.

 

Lutfi yakin, dengan food estate yang akan dikerjakan bersama-sama secara profesional, akan menjembatani petani-petani dengan konsumen. Selanjutnya, sistem elektronik akan mengubah dan merevolusi petani-petani lokal dalam menanam, memproduksi dan menjual serta membangun networking (jaringan) dengan baik.

 

“Saya merasa yakin, dengan kerja sama yang kita selesaikan hari ini, dengan diskusi yang kita laksanakan, maka kita bisa mencapai suatu kedaulatan atau kemandirian pangan untuk bangsa dan negara,” ungkap Lutfi. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain