Selasa, 29 Juni 2021

Peternak Sapi Perah di Madiun, Bertahan dengan Produk Susu Olahan

Peternak Sapi Perah di Madiun, Bertahan dengan Produk Susu Olahan

Foto: dok.zul


Madiun (TROBOSLIVESTOCK.COM). Berbagai inovasi produk olahan susu yang variatif menjadikan usaha yang tergabung dalam Kelompok Tani Ternak (KTT) Sapi Perah ‘Nedyo Rahayu’ mampu bertahan di tengah guncangan ekonomi sepanjang pandemi.

 

“Saya berfikir positif di masa pagebluk seperti sekarang ini. Kuncinya jangan terlalu dipikirkan apalagi stres. Meskipun permintaan susu segar di pasar menurun 50 %. Kondisi itu, justru membuat kami berinovasi agar susu segar ini mampu diserap oleh pasar. Berbagai inovasi telah kami lakukan,” papar Kuswanto, Ketua KTT Sapi Perah ‘Nedyo Rahayu’ yang berlokasi di Kresek, Wungu kabupaten Madiun ini.

 

Dikatakannya, susu segar yang didapatkan berasal dari pemerahan sapi perah sebanyak 20 ekor yang dipelihara oleh anggota KTT. Bahkan selain 20 ekor indukan itu, masih ada lagi 30 ekor yang merupakan pedet.

 

“Sedangkan yang saya pelihara ada 4-5 ekor dengan rata-rata 80 liter per hari. Dengan harga jual susu segar Rp 11.000 - 13.000 per liter. Sedangkan kalau di totak keseluruhan ada 250 liter per hari," imbuhnya.

 

Agar terserap di pasar, susu segar itu diolah menjadi susu pasteurisasi berbagai rasa, yoghurt, keju mozarela. Dengan variasi produk pangan itu, itu berharap dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat khususnya anak-anak yang kurang menyukai susu segar. Bahkan dia pun membuat sabun susu, sebagai produk turunan non pangan.

 

Lebih lanjut, dengan produk olahan tersebut mampu mengkampanyekan akan pentingnya mengonsumsi susu apalagi di masa pandemi diharuskan mengonsumsi pangan yang bergizi. Salah satunya berasal dari protein hewani berupa susu.

 

Yuni Ernawati - istri Kuswanto yang menangani produksi olahan susu menyatakan telah merambah pasar virtual, dan dirasakannya sangat membantu pemasaran produknya.

 

“Saat ini kami juga bergabung dalam komunitas persusuan di wilayah Madiun. Setiap kegiatan yang diselenggarakan Pemkab, seperti senam pagi selalu pesan produk olahan susu dari kami. Paling sering memesan susu pasteurisasi dan yoghurt,” dia menerangkan.

 

Sayangnya, di tengah pandemi ini permintaan menurun. Sebelum pandemi, terjual 800 per gelas baik itu yoghurt maupun susu pasteurisasi dalam satu minggu. “Bahkan sebelum pandemi, kami juga mengambil pasokan susu segar di wilayah terdekat mengingat permintaan saat itu sangat membludak,” tutur dia.

 

Yuni berharap produk olahan susu yang diberi merk ‘TWOZULL’ dapat menjadi oleh-oleh khas Madiun. Apalagi desa Kresek pun juga merupakan tempat wisata bahkan bersejarah.

 

Tentu ini akan menjadikan susu sebagai minuman penting dan sehat yang mampu meningkatkan imun di tengah pandemi. Juga sebagai investasi ke depan menciptakan generasi yang unggul dan berdaya saing,” tandas Yuni. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain