Kamis, 1 Juli 2021

Sapi Potong untuk Lahan Bekas Tambang Kaltim

Sapi Potong untuk Lahan Bekas Tambang Kaltim

Foto: ist/dok.DisnakKaltim


Kutai Negara (TROBOSLIVESTOCK.COM). Ground breaking lokasi kedua mini ranch Jayatama yang terletak di desa Jonggon Jaya, kecamatan Loa Kulu, kabupaten Kutai Kartanegara dihadiri oleh  Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Isran Noor pada Kamis (10/6).

 

Gubernur tak segan memberi kritik bahwa produksi sapi ternyata masih rendah. Sebab, setiap tahun Kaltim masih memasok sapi dari luar daerah seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

“Produksi daging serta sapi di Kaltim, akan mencapai swasembada ataupun lebih, jika dapat menghasilkan 1,5 kali dari jumlah penduduk di Kaltim. Sementara, populasi sapi di Australia itu jumlahnya 15 kali lipat dari penduduk Australia. Kita jauh, jika ada, upaya ini menjadi peluang bisnis yang sangat tinggi,” kata Isran.

 

Selain itu, ia juga mengkritik luasan lahan mini ranch yang dimiliki PT Bramasta Sakti di Desa Jonggon Jaya. Ia menilai, lahan untuk kebutuhan hijauan sapi masih kurang, karena dalam perhitungannya seekor sapi membutuhkan setengah hektar (Ha) tempat untuk dilepasliarkan.

 

Menurutnya, apabila ranch tanaman rumput ada 200 Ha, maka masih tidak cukup. “Idealnya, satu ekor sapi adalah untuk setengah Ha untuk dilepas, supya bisa merumput sendiri. Lebih luas areanya dibandingkan populasi”, tekannya.

 

Kendati demikian, harus diakui bahwa sektor peternakan juga menjadi penyumbang pendapatan Kaltim. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Munawwar mengatakan, pada 2020 PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) di Kaltim mencapai Rp 2,19 Triliun. Ia menegaskan, memang kontribusi sub sektor peternakan dalam PDRB mencapai 0,36 persen saja, tetapi itu berpengaruh.

 

“Kaltim masih belum menjadi daerah swasembada sapi, sebab dari data yang telah dihimpun pada 2020, populasi sapi di Kaltim mencapai 123 ribu ekor. Ini masih jauh dari jumlah yang ditargetkan, yaitu 650 ribu ekor. Untuk itu, pemerintah mengapresiasi kegiatan pihak swasta dalam peningkatan kebutuhan daging sapi di Kaltim, yang mana program inilah yang kita kembangkan di area eks tambang batubara, pola kolaborasi integrasi sawit yang harus ditingkatkan,” jabar Munawwar.

 

Dalam kunjungan ke Desa Jonggon, Isran Noor juga melihat langsung lahan bekas tambang milik PT Bramasta Sakti. Peternakan yang telah berjalan lebih dari setahun ini, telah mengalami kemajuan yang signifikan. Selain jumlah sapi bertambah, pengelola pun terus meningkatkan kualitas sapi, salah satunya dengan meningkatkan kualitas genetiknya.

 

Pembina Yayasan Life After Mine, Andrew Hidayat menyatakan perbaikan genetik sapi tersebut, direalisasikan dengan mendatangkan sapi berkualitas langsung dari Kupang.

 

“Saat ini pihak kami telah mengembangkan kawasan eks tambang selain peternakan, bahkan kami mulai fokus di pertanian jagung. Setelah ditinjau dan dipelajari, lahan pasca tambang lebih baik dikelola untuk  peternakan dulu. Kita butuh pangan jagungnya ada ekosistem lengkap, antara peternakan dan pangannya, sehingga lebih baik secara ekosistemnya,” jelasnya.

 

Ia pun menyampaikan, pihaknya membutuhkan lahan seluas 1.000 Ha hingga 1.500 Ha. Saat ini populasi sapi hampir mencapai 2.000 ekor. Bak gayung bersambut, Gubernur Isran Noor mengapresiasi program tersebut.

 

Dia mengingatkan kelompok tani di desa tersebut, untuk terus meningkatkan kemampuan dalam mengelola peternakan maupun pertanian. ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain