Kamis, 1 Juli 2021

Membangkitkan Kembali Persusuan Nasional

Membangkitkan Kembali Persusuan Nasional

Foto: Istimewa


Melalui susu Indonesia bisa menyiapkan masyarakat super cerdas versi Indonesia yang tidak kalah dengan versi global
 
Susu ialah komponen minuman bergizi tinggi dan sempurna bagi tubuh, terlebih bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan. Melalui data prevalensi balita (bayi di bawah 5 tahun) stunting (kerdil) yang dihimpun oleh WHO (World Health Organization), diketahui bahwa Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga, dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara. Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia dalam kurun waktu 2005 – 2017 yakni 36,4 %.
 
Kondisi ini diperburuk dengan adanya pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) sejak setahun lalu, yang mana daya beli masyarakat menurun seiring dengan melemahnya pendapatan mereka. Mengonsumsi susu secara rutin dalam situasi seperti ini sangat dianjurkan, mengingat susu dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Susu juga berperan penting terhadap pertumbuhan anak, yang akan menjadi generasi penerus bangsa. 
 
Menurut Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pujo Setio, dalam empat tahun terakhir ini, peringatan HSN (Hari Susu Nusantara) mulai surut sehingga mendorong pihaknya untuk menggaungkan kembali kebiasaan minum susu, terutama pada momen HSN yang jatuh setiap tahun pada 1 Juni. “Menghadapi pandemi Covid-19, dibutuhkan imunitas tubuh yang tinggi. Susu sebagai sumber pangan hewani memiliki kandungan gizi lengkap, yang sangat bagus untuk meningkatkan energi dan imunitas masyarakat,” urainya pada seminar nasional memperingati HSN yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan topik ‘Kebangkitan Nasional Era New Normal’, di Bandung, Jawa Barat (31/5).
 
Ia menyatakan, sesungguhnya energi dari susu segar ini sangat besar. Sebab, mampu menggerakkan sel-sel guna membentuk imunitas tubuh yang tinggi, menggerakkan sel-sel otak membentuk masyarakat cerdas, menggerakkan anggota keluarga dengan lapangan pekerjaan, menghidupkan tanah-tanah yang mati akibat pupuk kimiawi dengan pupuk kandangnya, dan yang terpenting mampu menggerakkan roda perekonomian rumah tangga peternak, wilayah hingga nasional. Dengan demikian, susu sebagai emas putih dapat dikatakan pro health, pro poor, pro job, pro environment, dan pro food security. 
 
Supply & Demand Belum Seimbang
Menengok data yang dihimpun BPS (Badan Pusat Statistik), populasi sapi perah dan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) cenderung stagnan bahkan turun. Pada 2020 populasi sapi perah nasional hanya sebesar 584 ribu ekor, dengan produksi susu sebanyak 997 ribu ton. Sedangkan konsumsi susu nasional pada 2020 baru mencapai 16,27 kg per kapita per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi susu nasional masih lebih rendah dibandingkan konsumsi susu di negara Asia Tenggara lainnya. 
 
“Kebutuhan susu nasional yakni sebesar 4,4 juta ton, sementara produksi susu dalam negeri baru mencukupi sebanyak 21 % dari kebutuhan. Di satu sisi, pertumbuhan permintaan susu terus meningkat, dan belum dapat diimbangi dengan produksi dalam negeri,” sesal Pujo.
 
Adapun, Industri Pengolahan Susu (IPS) terus tumbuh, bahkan baru-baru ini salah satu IPS telah membangun pabrik baru di Jawa Tengah, dan akan beroperasi pada 2023 mendatang. Tentu, ini akan menambah permintaan susu segar yang akan dikombinasikan dengan bahan baku susu lainnya. Belum lagi pertumbuhan industri makanan dan minuman, yang menggunakan bahan baku susu tumbuh di atas 10 %. 
 
“Apabila kesenjangan antara produksi dan konsumsi terus berlanjut, maka ketergantungan impor kita semakin besar. Untuk itu, kita perlu membangkitkan persusuan ini terutama di sisi hulu untuk produksi,” ajaknya.
 
Upaya Membangkitkan Persusuan
Banyak hal yang dapat dilakukan guna membangkitkan persusuan nasional, antara lain penguatan koordinasi dan sinergitas lintas sektoral yang baik dengan payung hukum yang kuat, jelas, dan implementatif. Cetak biru persusuan Indonesia 2013 – 2025 dapat dijadikan sebagai bahan kebijakan dan ditingkatkan menjadi regulasi, guna mendorong pengembangan persusuan nasional yang tangguh dan maju. “Hal lain yang perlu dikuatkan adalah penyediaan infrastruktur, akses pembiayaan, kapasitas kelembagaan dan SDM (sumber daya manusia), iklim investasi yang kondusif, dan minat pemuda atau generasi milenial untuk terjun ke dalam agribisnis persusuan,” urai Pujo.
 
Menyoroti kembali terkait angka stunting di Indonesia, diketahui pada 2018 Indonesia tengah bertengger di posisi ke-4 di dunia dengan angka 30,8 %. Sedangkan di Jepang, pada 2013 angka stunting hanya 7,1 %. Belum lagi angka wasting dan obesitas Indonesia yang juga masih tinggi. Semua itu tidak terlepas dari asupan gizi yang dikonsumsi, sehingga susu menjadi salah satu kunci dalam membantu menurunkan angka stunting, sebab susu mengandung asam amino dan protein lainnya yang baik untuk sel-sel tubuh dan pertumbuhan. 
 
“Kita bersama-sama berupaya untuk membangkitkan persusuan nasional dengan mencari solusi dari semua permasalahan yang ada dan merumuskan rencana aksi yang paling mungkin dilakukan. Sehingga, secara perlahan persusuan nasional mampu menjadi tumpuan kemajuan bangsa,” pinta Pujo.
 
Ia pun mengajak seluruh stakeholder untuk bergerak bersama guna membangkitkan ruh persusuan nasional, demi terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, mandiri, dan berdaulat. Juga guna menuju bangsa Indonesia yang kuat dan ekonomi maju. “Segelas susu segar sehari, persusuan Indonesia bangkit, masyarakat sejahtera, ekonomi Indonesia maju,” tegasnya.
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 262/Juli 2021 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain