Kamis, 1 Juli 2021

Informasi Layer Modern Terkini dari USSEC

Informasi Layer Modern Terkini dari USSEC

Foto: Istimewa


Indonesia berpotensi besar menjadi leader produsen layer dunia. Berbagai faktor pendukung kompetisi dimiliki Indonesia yang tidak dipunyai negara lain
 
The U.S. Soybean Export Council (USSEC) kembali menggelar Layer Nutrition and Feed Technology Conference. Konferensi ini diselenggarakan selama dua hari secara virtual (9-10/6) dengan menghadirkan pembicara-pembicara ahli di bidangnya yang berasal dari Eropa, Kanada, dan Indonesia.
 
Dalam sambutannya Ibnu Wiyono, Country Director, USSEC Indonesia menyebutkan konferensi ini akan menyajikan informasiinformasi ilmiah terbaru mengenai nutrisi layer (ayam petelur), pakan, dan manajemen. Tentunya sangat penting bagi negara-negara ntropis seperti Asia Tenggara, karena konsumsi protein hewani di Asia Tenggara didominasi oleh daging, susu, dan telur.
 
Turut memberikan sambutan Timothy Loh, Regional Director, USSEC, Asia Tenggara & Oceania. Ia mengatakan selama lebih dari 60 tahun, produsen kedelai AS berinvestasi dan mendukung industri peternakan serta pertanian Asia. Kedelai AS diproduksi dengan standar tertinggi, memperhatikan keamanan pangan, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan dengan didukung oleh sistem logistik yang canggih serta efisien. “USSEC terus berkomitmen untuk memperkuat hubungan antara industri kedelai AS dengan konsumen-konsumennya termasuk di Indonesia,” tegasnya.
 
Update Layer Modern
General Manager Hendrix Genetics Indonesia, Henry Hendrix sebagai pembicara pertama membahas perkembangan genetik terbaru pada layer modern. Contohnya pada 1960-an, produksi telur rata-rata adalah 205 butir dalam satu siklus hidup selama 80-90 minggu. Jauh berbeda dengan saat ini, dimana ayam petelur dapat mencapai usia 100 minggu dan menghasilkan telur sebanyak 465 butir. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kemajuan genetik dan perkembangan teknologi di industri layer.
 
Pembicara selanjutnya adalah Prof Budi Tangendjaja, Technical Consultant USSEC Indonesia. Dalam presentasinya ia menyebutkan beberapa karakteristik peternak layer di Indonesia, seperti manajemen kandang yang masih tradisional. Lalu, sistem kandang masih didominasi kandang terbuka, walau beberapa sudah mulai mengadopsi sistem kandang tertutup.
 
Kemudian beberapa peternak tidak meng-update sistem manajemen layer lama ke yang baru. Padahal Budi utarakan genetik ayam terus berubah dan meningkat setiap tahunnya. Dari sisi pakan, perternak yang melakukan self-mixing masih banyak yang menggunakan cara sederhana untuk formulasi pakan. Namun saat ini, beberapa sudah dilatih untuk menggunakan program khusus di komputer.
 
Budi mengajak peternak layer Indonesia bisa berkompetisi di kancah dunia, karena Indonesia memiliki potensi yang besar ke arah sana. Melihat data FAO, Indonesia berada diposisi ke 9 sebagai negara penghasil telur terbesar di dunia. 
 
“Indonesia sangat berpotensi sebagai leader di dunia. Banyak faktor yang mendukungnya. Seperti DOC (ayam umur sehari) layer jantan laku dijual, mampu memproduksi jagung sendiri, harga dedak lebih murah dibanding negara ASEAN, ayam afkir masih bernilai jual sehingga bisa diputar lagi menjadi modal, telur ukuran kecil juga laku dijual, biaya pakan, buruh, serta listrik relatif rendah. Hal ini seharusnya menjadi keuntungan Indonesia dalam berkompetisi.Namun tantangannya adalah bisa atau tidaknya memproduksi telur secara efisien untuk menekan biaya produksi,” papar Budi.
 
Sementara itu Richard Han, Consultant USSEC, China menceritakan produksi layer di China. Berdasarkan data FAO, untuk wilayah Asia produksi telur Indonesia berada di bawah China dan India. Produksi telur China sendiri mencapai 28,4 juta ton dengan populasi layer sebanyak 1,07 miliar ekor. “Untuk meningkatkan produksi dan kualitas produksi layer, pemerintah China memberlakukan peraturan diantaranya perbaikan genetik, standarisasi produksi, pencegahan wabah penyakit, industrialisasi produksi dan operasi, serta modernisasi peralatan dan fasilitas. Sistem produksi layer dilakukan secara komprehensif di semua rantai nilai termasuk pengolahan,” imbuh Richard.
 
Sambungnya, seperti Indonesia produksi layer China juga menghadapi berbagai tantangan. Diantaranya banyaknya peternak kecil, biaya produksi yang terus meningkat seperti bahan pakan dan buruh, resiko epidemik, pengolahan telur lanjutan, peraturan lingkungan yang semakin ketat, dan pembuangan limbah.
 
Dr Doug Korver dari University Alberta, Kanada, menjadi pembicara berikutnya. Doug menyebutkan tujuan utama pemeliharaan layer adalah puncak produksi yang tinggi, kestabilan tinggi, siklus produksi panjang, ukuran telur sesuai permintaan pasar, kualitas kerabang yang baik, serta rangka tubuh yang kuat.
 
Untuk itu perlu memastikan kondisi ayam harus selalu prima. Ia juga menyinggung pasar telur di Indonesia, bahwa memiliki keunikan tersendiri. Pasar Indonesia menginginkan ukuran telur lebih kecil. Hal ini berbeda dengan negara lain yang menginginkan sebaliknya. “Harus hati-hati, bila ingin telur ukuran kecil lalu kita biarkan berat badan pullet kecil. Hal ini akan menimbulkan masalah. 
 
Energinya tidak cukup untuk mencapai puncak. Kebutuhan energi, protein, kalsium sangat tinggi sedangkan cadangan gizi, nafsu makan, konsumsi pakan rendah saat berat badan ayam kurang optimal. Jadi perlu diperhatikan cadangan gizi harus cukup,” terang Doug. Ia juga menyarankan berat badan melebihi sedikit target, yakni 75-100 gr.
 
Selanjutnya Dr Robert Swick dari Poultry Hub Australia memaparkan mengenai manajemen dan pemberian pakan layer di daerah tropis. Disebutkannya, kandang di daerah tropis harus dirancang dapat mencegah panas matahari dan pemanasan air minum. Ia menyarankan penerapan sistem kandang tertutup dengan tunnel atau evaporative cooling. Hal ini dapat membantu mengatasi heat stress akibat suhu dan kelembaban tinggi. Heat stress mengakibatkan penurunan produksi dan kualitas telur bahkan kematian.
 
Menurut Robert diperlukan juga ransum pakan yang dapat mengurangi panas tubuh serta sistem pemberian pakan diatur pada saat hawa dingin.
 
Selanjutnya Dr Kees Geerse, USSEC Consultant, Eropa, menjelaskan tentang kebutuhan energi dan asam amino pada layer modern. Ia mengemukakan dasar formulasi adalah menyediakan zat gizi untuk memenuhi kebutuhan ayam selama produksi dengan biaya terendah.
 
Diperlukan data yang akurat dan lengkap dari bahan pakan untuk menyusun formula. Dalam formulasi perlu mempertimbangkan energi, AME, protein, dan asam amino yang mudah dicerna, makromineral, dan zat gizi lain. Disebutkan Kees, sumber asam amino dominan berasal dari BKK. Untuk itu perlu memperhatikan kualitas BKK. Ia menegaskan nilai kecernaan asam amino pembatas yang tidak tepat akan mempengaruhi performa layer.
 
Kees juga membahas cara mengendalikan kesehatan usus ayam dengan nutrisi pakan. Disampaikannya pelarangan antibiotik menyebabkan perhatian khusus terhadap kesehatan usus ayam. Beberapa alternatif pengganti antibiotik yang dapat meningkatkan kesehatan usus adalah prebiotik, probiotik, fitogenik, yeast, dan lainnya. Namun pemecahan masalahnya harus menyeluruh tidak bisa dari satu sisi saja.
 
Pemaparan berikutnya adalah Dr Jan Van Eys, Technical Consultant & Nutritionist, Gans Inc, Perancis. Ia mengungkapkan saat ini produksi pakan dunia adalah sebesar 1,13 miliar ton dan 14 persennya merupakan pakan layer. Diprediksi pada 2030 akan meningkat menjadi 1,38 miliar ton. Seiring dengan meningkatnya populasi, pendapatan, serta kebutuhan protein. Produksi kedelai dan jagung juga ikut meningkat dalam 30 tahun terakhir. Fluktuasi harga bahan baku pakan harus menjadi perhatian negara-negara pengimpor bahan baku pakan. lTROBOS/Adv
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain