Rabu, 14 Juli 2021

Meningkatkan Efektivitas Reproduksi Domba dan Kambing

Meningkatkan Efektivitas Reproduksi Domba dan Kambing

Foto: ist/dok.ZOOM-Unpad


Pangandaran (TROBOSLIVESTOCK.COM). Budidaya domba dan kambing akan berhasil jika kondisi tubuh ternak sehat dan memiliki performans reproduksi yang baik. 


Menurut Kundrat Hidajat, Dosen Fakultas Peternakan Unpad, ada beberapa faktor yang harus disajikan dalam hal membiakkan domba dan kambing secara umum yaitu bibit baik jantan maupun betina, perkandangan, pakan, pengendalian penyakit, serta perkawinan domba itu sendiri.


Domba dan kambing dikenal memiliki siklus reproduksi poliestrus murni di daerah tropika, artinya dapat menunjukkan gejala berahi sepanjang tahun tanpa mengenal musim.  Masa kebuntingan yang hanya 5 bulan menjadikan kedua jenis ruminansia kecil ini melahirkan 3 kali dalam 2 tahun.


“Potensi lainnya adalah domba dan kambing termasuk dalam kelompok short day breeder, jadi aktivitas reproduksinya itu berlangsung pada saat durasi masa terang atau lama siang menurun,” jelasnya pada webinar “Meningkatkan Efektivitas Reproduksi dan Manajemen Kesehatan Domba dan Kambing” yang digelar Program Studi di Luar Kampus Utama Univeritas Padjajaran  (PSDKU Unpad) Pangandaran pada Sabtu (10/7). 


Teknologi Reproduksi

Dijelaskan Hidajat, teknologi reproduksi dapat diterapkan pada ternak domba dan kambing. Diantaranya teknologi modifikasi estrus untuk mempercepat estrus. Misalnya menggunakan hormon progesteron,  bisa menggunakan spons vaginal yang berisi Medoxyprogesteronesteron Acetate(MAP) atau menggunakan CIDR (Controlled Internal Drug Release) yang berisi Fluoro-geston Acetate(FGA). Progesteron ini berfungsi sebagai hormon pemelihara kebuntingan, sehingga ketika diaplikasikan tidak menyebakan abortus. Adapun kelemahannya adalah biayanya per ekor lebih tinggi. 


“Selain itu dapat menggunakan preparat homon prostaglandin (PGF2α) berupa larutan injeksi, keuntungannya biaya per ekornya lebih murah, waktu respon lebih singkat (2-3 hari). Kelemahannya kalau kita kurang hati-hati tidak menseleksi domba yang akan di-treatment, terutama berdasarkan catatan reproduksi, maka apabila diaplikasikan pada ternak bunting akan menyebabkan abortus pada ternak betina tersebut,” paparnya.


Selain pendekatan dengan hormon, menurut Hidajat, ada pendekatan secara tradisional yaitu pemandian dan penjemuran. yang merupakan aplikasi paling sederhana dari rekayasa pencahayaan. Prinsipnya, ketika hewan betina dimandikan otomatis dia harus dijemur, karena harus dikeringkan. Pada saat pejemuran itu retina matanya akan menerima suplai cahaya yang tidak terbatas. Matanya akan terpapar cahaya yang banyak.


“Kemudian, setelah dijemur domba akan kembali dimasukkan ke dalam kandang dan umumnya pada sore hari, dikandang umumnya beratap sehingga cahaya yang diterima oleh matanya jauh lebih sedikit dari pada pada saat dijemur tadi. Decreasing of light itu penurunan pencahayaan tersebut yang akan menyebabkan terjadinya aktifitas folikulogenesispada domba betina tersebut. Sehingga 1-2 hari setelah dijemur banyak domba betina yang menunjukkan gejala berahi dan bisa dikawinkan,” kata dia.


Manajemen Kesehatan

Dwi Cipto Budinuryanto, Dosen Fakultas Peternakan Unpad menjelaskan beberapa aspek manajemen kesehatan ternak domba dan kambing, mulai dari biosekuriti, program vaksinasi, pengendalian parasit, nutrisi yang baik, deteksi dini dan pengobatan, memiliki rekording yang bagus, serta sistem culling.Peternakan domba dan kambing prlu mewaspadai beberapa jenis penyakit seperti internal parasites,foot rot,diarrhea, bloat, penyakit respirasi dan penyakit reproduksi.

 

Melanjutkan pemaparannya, Dwi Cipto mengatakan, program pengendalian penyakit setidaknya harus menerapkan 4 hal. Pertama mencegah munculnya organisme penyebab penyakit, melalui sanitasi, isolasi, lingkungan yang bagus, eradikasi (pemberantasan) jika perlu. 


“Kekebalan ternak harus dijaga cukup tinggi sehingga bisa resisten. Caranya, menjaga keseimbangan nutrisi, melakukan vaksinasi dan seleksi bibit yang baik. Kalau pun sudah terjadi, resiko penyebaran harus dikurangi dengan cara mengisolasi ternak yang sakit, melakukan observasi pada semua ternak, melakukan diagnosa awal, segera melakukan pengobatan pada ternak yang sakit. Tidak kalah penting kebiasaan melakukan pencatatan dan rekording,” tutupnya. ed/shara

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain