Minggu, 1 Agustus 2021

Transformasi di Tengah Badai

Transformasi di Tengah Badai

Foto: Istimewa


Berbagai terobosan dan inovasi dilakukan peternak mandiri broiler agar usahanya bisa lebih adaptif dengan kondisi yang baru serta tetap eksis dan berkelanjutan
 
 
Iklim industri perunggasan telah berubah, tidak ada pilihan untuk bertahan bagi peternak mandiri khususnya komoditas broiler (ayam pedaging), selain segera bangkit dan menyesuaikan diri. Sepanjang sejarah industri, yang bertahan dari gerusan gelombang zaman adalah mereka yang mampu bertransformasi di
tengah hantaman badai.
 
 
Bisnis berorientasi pasar dengan menciptakan pasar, bukan selalu mengisi pasar yang sudah ramai dengan trik dan permainan. Belum adanya pasar harus dibaca sebagai peluang membangun pasar dengan minim persaingan. Kekosongan permintaan adalah ruang tanpa batas meraup pelanggan. Ruang-ruang kosong itu senantiasa bisa ditemukan, bahkan diciptakan melalui kreativitas dan inovasi dari pelaku industri.
 
 
“Bagaimana mau menganggap Indonesia tidak prospektif soal bisnis ayam. Perusahaan sarana produksi perunggasan besar dari berbagai negara masuk di sini. Juga berbagai negara ingin memasukkan produk unggasnya ke Indonesia,” ujar Abby AP Dharmaputra, Head of Central Marketing of Tri Group dalam seminar daring MIMBAR TROBOS Livestock The Series ke-19 bertema “Transformasi Peternak Mandiri” yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication), digelar melalui aplikasi Zoom, dan disiarkan secara langsung oleh Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock pada Selasa (6/7).
 
 
Selain Abbi, pada forum yang disponsori oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk; PT Boehringer Ingelheim Animal Health; PT Ceva Animal Health Indonesia; serta Tri Group ini tampil pula Sugeng Wahyudi, peternak broiler senior sekaligus Ketua Koperasi Wirasakti Utama; Roni Maulana Yusup, CEO Berkah Chicken; dan Hary Adam, peternak broiler milenial, CEO Alkea Naratas Farm.
 
 
Abbi menyatakan, industri perunggasan nasional saat ini memasuki era transformasi. “Era transformasi semua harus mengadaptasikan diri dan usahanya, dengan keadaan riil di industri. Maka apakah masih akan bertahan dengan pola lama yang jelas sulit bertahan saat ini,” ungkap dia.
 
 
Indikator keharusan melaksanakan transformasi yang tak dapat ditolak adalah rekaman grafi k harga live bird (LB/ayam hidup) broiler, terlihat sangat berfl uktuasi. “Jika tak bisa transformasi dengan gaya-gaya yang baru kita akan tergerus oleh grafi k harga LB ini. Harga pokok produksi (HPP) kita sudah sangat tinggi,” ujar dia. Pada Mei saja ada penurunan grafi k harga yang cukup tinggi, HPP LB dengan bobot di bawah 1,5 kg bisa Rp 19.000 per kg. Rata-rata HPP dari berbagai bobot panen sekitar Rp 17.000 per kg.
 
 
Abbi menggambarkan transformasi pada perunggasan, dengan mengambil inspirasi dari Bumblebee, tokoh film animasi robot Transformer. “Bumblebee bisa marah pada saat dibutuhkan, bisa jadi mobil yang hebat saat dibutuhkan, dan bisa menjadi petarung yang bertempur dengan sangat kuat. Demikian pula usaha perunggasan, harus mampu bertransformasi sesuai realita industri,” ujar dia. Transformasi bisnis perusahaannya-sebagai representasi peternak mandiri-dituangkan dalam tagline Tri Group Mini Integrasi 2025.
 
 
Lagi-lagi Abbi menukil karakter Bumblebee, yang melakukan transformasi bentuk dan karakter sebagai respons menjelang saat genting, bahkan sudah pada kondisi chaos. Demikian pula transformasi bisnis, seringkali dilakukan justru saat genting di tengah badai yang menggulung industri. Menggunakan insting untuk bertahan, agar lebih adaptif dengan kondisi yang baru.
 
 
“Kita putuskan mendirikan bangunan di tengah badai, membangun kejayaan di atas gelombang ombak. Di setiap krisis, pasti ada peluang. Setiap cobaan, pasti ada jalan,” ujarnya, mengutip pesan ayahnya, Tri Hardiyanto, April tahun lalu. Saat itu harga LB hanya Rp 8.000 per kg, setengah dari HPP. Bukan dengan cara
gegabah, namun bermodal NIAT, yang merupakan kependekan dari nominal (kekuatan fi nansial dan kalkulasi bisnis), inovasi, akal
(strategi bisnis), dan tekad.
 
 
Pondasi Transformasi
Transformasi bukanlah proses statik yang dilakukan hanya satu kali sepanjang hidup perusahaan. Dikatakan Abbi, pada setiap periode akan muncul tantangan dan krisis yang berbeda, sehingga menuntut transformasi kembali sebagai respons untuk bertahan. Diantaranya pada 1998 krisis perunggasan terjadi menyusul resesi dan krisis politik, pada 2003 krisis penyakit dan serbuan impor juga menghempas perunggasan, pada 2012 gejolak terjadi kembali, dan krisis harga 2018 yang juga tak kalah berat.
 
 
“Pak Tri memotong ayam (berjualan karkas) saat butuh uang untuk membayar pakan, sementara harga dan pasar ayam hidup tidak sedang baik-baik saja. Kami juga melakukannya, saat kondisi sedang tidak baik, daripada biaya terbuang menjadi kerugian, maka lebih baik melakukan ekspansi terukur untuk menyelamatkannya. Agar bisa bertahan pada jangka menengah dan jangka panjang. Pada jangka pendek pasti akan ada bagian yang terganggu karena harus mengeluarkan biaya,” urai dia.
 
 
Diantaranya, membangun RPA (Rumah Potong Ayam) dan pengolahan saat harga panen LB hanya 50 % dari HPP. Sehingga transformasi melalui ekspansi justru menjadi solusi saat ada masalah yang meningkatkan potensi rugi jika sampai membuat bisnis berhenti. Dia menunjukkan alasan yang mendorong peternak unggas mandiri harus bertransformasi. Pertama, usaha yang dijalankan sudah terlalu keras kompetisinya. Kedua, terlalu banyak peternak konvensional. Ketiga, broiler merupakan komoditas yang sensitif pada semua sisi baik itu sisi pasokan, harga, pasar/permintaan, dan karakter produk yang perishable (mudah rusak) sehingga harganya terlalu fluktuatif. Tak ada pilihan selain membuat pasar sendiri dari ujung hulu sampai ke hilir, menjadikannya integrasi vertikal.
 
 
Tidak berupa integrasi vertikal yang besar, namun cukup untuk internal perusahaan. Membuat produk yang bagus kemudian memasarkannya melalui jalur sendiri dan pasar yang dibentuk sendiri. Keempat, peternak mandiri harus menjaga eksistensi dengan inovasi. Kelima, untuk bertahan dan berkembang perlu daya saing.
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 263/Agustus 2021 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain