Minggu, 1 Agustus 2021

Dirgahayu Negeriku, Merdeka Ayamku

Dirgahayu Negeriku, Merdeka Ayamku

Foto: 


Cage free system dapat dijadikan peluang agar peternak kecil menikmatikue bisnis layer. Saat pemodal besar mencurahkan kapitalnya untuk budidaya layer super intensif, makacage free akan lebih mudah diterapkan oleh peternak yang belum mencapai ke sana. Konsekuensinya, perlu segmentasi pasar dan bahkan niche market untuk telur ayam cage free ini. Diharapkan, sebagaimana di negara lain, pasar akanmemberikan insentif harga lebih tinggi. Pasar ceruk ini juga diharapkan akan lebih bebas dari tekanan harga pasar komoditas telur yang sensitif terhadap guncangan
 
 
Tujuh puluh enam tahun kemerdekaan Indonesia, adalah berkat jasa para pahlawan pejuang yang mengorbankan jiwa raganya demi meraih kebebasan dari belenggu penjajahan. Namun perjuangan kemerdekaan Indonesia juga tak lepas dari induksi revolusi global melawan kolonialisme yang muncul bersama tren konsep negara dan bangsa kala itu. Kemerdekaan berarti pula kebebasan menentukan nasib sendiri, hidup tidak tergantung dan tidakditentukan oleh pihak lain.
 
 
Sejak memasuki era industrialisasi, hewan ternak dibudidayakan dan di eksplorasi secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti daging, telur, susu, tenaga kerja, dan kesenangan. Untuk tujuan tersebut, kandang, pakan, obat-obatan dan faktor lain yang menentukan produktivitas hewan ternak di cukupi semuanya oleh manusia seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Ternak yang dibudidayakan manusia tersebut dalam batas-batas tertentu bisa jadi tidak memiliki kebebasan alamiahnya untuk hidup normal sebagai salah satu makhluk Tuhan. Ternak industrialseperti unggas, ruminansia ataupun hewan kesayangan yang dibudidayakan ada yang tidak berproses secara alami misal perkawinan pada sapi, bertengger pada ayam, mengepakkan sayap, dan terbang.
 
 
Semangat memerdekakan ternak khususnya dalam hal ini ayam sebagai kelanjutandari aktualisasi kesejahteraan hewan (kesrawan, animal welfare) pada industri unggas dunia juga semakin progresif.
 
Dunia berbondong-bondong mengibarkan komitmen untuk memberikan “kemerdekaan” pada ayam agar dibebaskan dari sangkar (cage, baterai). Sementara itu, industri perunggasan Indonesia - khususnya layer (ayam petelur) terlihat masih adem-ayem dengan kandang baterai dan masih bergumul dengan problem klasik.
 
Disadari atau tidak, suka atau tidak, masanya telah tiba, yaitu peternak harus menghadapi induksi tren global cage free yang sudah merangsek ke regional ASEAN dan kini mengetuk pintu Indonesia. Gerakan terstruktur dan masif yang dimotori oleh para kelompok swadaya masyarakat penyayang hewan perlahan dan pasti mempengaruhi perilaku konsumen produk hasil ternak.
 
Bahkan banyak perusahaan pangan global telah berkomitmen mulai 2025 hanya akan menggunakan produk telur ayam cage-free. Diantara ketukan pintu itu, adalah Autogrill Indonesia, perusahaan Belanda yang terdaftar di Denpasar – Bali, mengoperasikan resto dan kafe berlabel internasional maupun lokal di bandara Ngurah Rai dan Soekarno Hatta. Namanya terdaftar pada organisasi cagefreeworld sebagai salah satu dari 45 perusahaan Asia yang komitmen untuk hanya menggunakan produk unggas cage free pada 2025. Di dalam daftar itu ada nama-nama besar seperti Hyatt, Marriott,Burger King, Carrefour, Accor, Four
Season, Kellogg’s, Ikea, Hilton, KraftHeinz, Peninsula, dan Unilever. Fakta, komitmen hanya menerima produk cage free pada 3 – 5 tahun ke depan itu juga tidak surut meski dunia masih menghadapi pandemi Covid-19. Bagaimana jika telur cage free belum diproduksi di dalam negeri, atau belum cukup jumlahnya untuk memasok kebutuhan mereka ?
 
 
Bergerak Progresif
European Comission – Eggs Market Situation Report pada 28/7/2021 memuat pasca pemberlakuan peraturan EC 2017/1185, sebanyak 193,6 juta atau setara 52 % populasi layer di Uni Eropa dipelihara secara cage free/non-caged. Sedangkan 48 % sisanya masih dipelihara dalam kandang enriched/ furnished cage atau cage yang diberi tempat bertengger dan area untuk mencakar/ menggaruk (Jw = ceceker, kekipu).
 
 
Mengutip laporan USDA (Maret 2021), jumlah ayam yang ditempatkan di kandang konvensional berkurang karena banyak peritel dan pengolahan makanan beralih ke telur cage free. Pada akhir 2020, 28 % populasi layer dipelihara cage free, naik dari 14 % (2016) dan 4 % (2010). USDA mentarget budidaya layer cage free tembus 66 % dari populasi ayam di AS pada 2026. Maret 2021, produksi telur cage free di AS sebesar 29,3 % (96,1 juta ekor layer), sebanyak 6,8 % adalah cage free – organik dan 22,5 % cage free non organik.
 
 
Cage Free di Asia
Di China industri besar lebih mudahuntuk mengadopsi cage free system karena ada industri pembuat peralatan yang kompatibel dengan cage free, juga di Thailand. Tumbuhnya permintaan telur cage free di Asia, tidak semata-mata terjadi karena tarikan konsumsi. Namun di drive olehkomitmen cage free minded oleh industri hilir, terutama yang melayani kelas middle – up. HealthyFarm, peritel dari Vietnam telah mengumumkan hanya akan menjual telur cage free untuk membuktikan supply chain mereka benar-benar mengindahkan kesrawan.
 
 
Awal tahun ini, perusahaan perunggasan global asal Thailand menyiarkan telah mendapatkan sertifikasi sistem cage free dari pemerintah. Produksi telur cage free pun dilipatgandakan menjadi 10 juta butir tahun ini setelah pilot farm dianggap berhasil. Mereka memasang tempat bertengger dan menerapkan kepadatan 7 ekor/m2, lebih rendah daripada standar 9 ekor/m2 yang diterapkan Uni Eropa maupun Amerika Serikat. Pemerintah negeri Gajah Putih itu tengah mentransformasi preferensi peternak dan konsumen kepada sistem dan produk cage free.
 
 
Proyek Percontohan
Tidak berhenti pada kegelisahan dan ketinggian wacana, Fakultas Peternakan UGM telah menginisiasi pusat percontohan dan penelitian cage free system sebagai wujud penerapan kesejahteraan ternak pada industri layer di kampus Bulaksumur. Bukansendirian, tetapi menggandeng Global Food Partners (GFP) dan AERES University of Applied Sciences. Pusat pelatihan kandang umbaran untuk ayam petelur ini mereka pastikan merupakan yangpertama di Indonesia dan Asia.
 
 
Populasi awalnya 1.000 ekor. Di tempat ini akan digelar best practices management dan produksi telur dengan sistem kandang umbaran/cage free system. Di dalamnya, ayam harus bahagia, sehingga disediakan tempat bertelur, bertengger, tumbuhan untuk dipatuk, dan pasir untuk kekipu. Sehingga dapat menjadi model peternakan yang dapat dicontoh oleh produsen telur sistem kandang umbaran, serta sebagai pusat penelitian dan pengembangan cage free layer farming di Indonesia. Teknologi ini nantinya akan ditransfer kepada peternak yang bersedia melakukannya.
 
 
Dengan model pemeliharaan yang unik cage free system ini dapat digabungkan dengan sistem budidaya organik. Pusat pelatihan dan percontohan merupakan
keniscayaan, karena sangat tidak mudah bagi peternak terlebih small scale farm untuk melakukan perubahan. Sebab mereka harus membangun kandang dan perlengkapan dan manajemen budidaya yang benar-benar baru, yang bisa jadi kurang efisien dan kalah produktif. Maka perlu role model yang bukan hanya bermanfaat bagi peternak namun bagi stakeholder industri perunggasan layer secara keseluruhan termasuk untuk para peneliti. Sebagai laboratorium lapangan, maka aspek manajemen, nutrisi, kualitas telur dan ekonomi diteliti secara simultan. Outputnya, selain datadata adalah juga kurikulum pembelajaran ilmiah cage free farming system, materi praktis pelatihan peternak unggas cage free, dan SOP budidaya unggas cage free untuk Indonesia. Sedangkan outcome-nya adalah menghasilkan peternak yang mengadopsi cage free system dan mengembangkan variasi produk telur cage free.
 
 
Meskipun cage free system ini secara tradisional bukan hal yang baru, namun data-data ilmiah maupun komersial mengenai sistem ini masih minim. Tapi itulah siklus kehidupan, awalnya ekstensif kemudian berkembang menjadi semi intensif,terus maju menjadi intensif bahkan super intensif dan akhirnya muncul tuntutan untuk kembali lagi cage free yang kurang lebih ekstensif. Dari survei pendahuluan yang dilakukan Fakultas Peternakan UGM, ada satu dua peternak (layer) yang sudah menerapkan cage free system ini, namun kebanyakan peternak masih memandang aneh.
 
 
Cage free system dapat diterjemahkan menjadi kandang model free stall berlantai satu atau lebih. Ayam dilepaskan dan bebas bergerak, disediakan pakan, minum, dan tempat bertengger. Atau ayam dilepaskan di halaman dengan pola semi intensif maupun ekstensif. Cage free system tidak memungkinkan untuk memelihara ayam pada kandang sempit dalam baterai, karena harus mengakomodasi kebiasaan bertengger, kekipu/ mandi pasir. Sebab aspek animal welfare ‘bebas mengekspresikan kebiasaan alaminya’ harus diakomodasi. Cage free system dapat dijadikan peluang agar peternak kecil menikmati kue bisnis layer. Saat pemodal besar mencurahkan kapitalnya untuk budidaya layer super intensif, maka cage free akan lebih mudah diterapkan oleh peternak yang belum
mencapai ke sana. Konsekuensinya, perlu segmentasi pasar dan bahkan niche market untuk telur ayam cage free ini. Diharapkan, sebagaimana di
negara lain, pasar akan memberikan insentif harga lebih tinggi. Pasar ceruk ini juga diharapkan akan lebih bebas dari tekanan harga pasar komoditas
telur yang sensitif terhadap guncangan.
 
 
Fenomena menarik, diam-diam di Sukabumi- Jawa Barat telah eksis produsen telur cage free, PT Inti Prima Satwa Sejahtera (IPSS). Tak tanggung-tanggung, farm ini memproduksi clean eggs untuk memasok perusahaan vaksin. Dihasilkan pula nature eggs, farmer eggs dan healthy eggs – produk telur hypoallergenic yang sejak 2017 dijual ke pasar modern. Profilnya pernah di muat di Majalah TROBOS Livestock (Februari 2018) dan cukup ramai dibicarakan di media regional
setahun belakangan.
 
 
Nah, siapa menyusul kembangkan ayam merdeka ? Merdeka peternaknya – bahagia ayamnya – sehat dan menyehatkan telur yang dihasilkannya.lTROBOS
 
 
 
Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada
Ketua DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia
(HKTI) - DI Yogyakarta

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain