Minggu, 1 Agustus 2021

Teknologi Biosensor untuk Deteksi Bakteri

Teknologi Biosensor untuk Deteksi Bakteri

Foto: istimewa


Menjadi peluang bagi dunia veteriner sebab uji diagnostik penyakit hewan belum banyak terekspos
 
 
Biosensor merupakan alat ukur dengan prinsip interaksi antara bioreseptor dan analis. Bioreseptor berfungsi guna mengenali analisnya, sehingga apapun target atau senyawa yang akan dideteksi, harus dipastikan terlebih dahulu kecocokan bioreseptornya. Adapun, bagian lain yang melengkapi biosensor yaitu transduser (transducer) atau konverter (converter). 
 
 
Menurut Peneliti Departemen Toksikologi, Balitvet (Balai Penelitian Veteriner) Kementan (Kementerian Pertanian), Hasim Munawar, transduser berfungsi untuk mengubah interaksi antara biosensor dengan analis menjadi energi atau sinyal lain. “Dalam bioreseptor yang diubah yaitu sinyal atau interaksi antara sinyal atau kimia dan biologi menjadi sinyal elektronik. Lalu, setelah bioreseptor dan analis berinterkasi, maka transducer inilah yang akan bertugas jika ada sinyal,” jelas Hasim.
 
 
Terdapat dua ciri khas dari biosensor, Hasim menyebutkan, yaitu ada bioreseptor dan trandusenya. Inilah yang akan menjadi brand atau nama biosensornya sendiri, seperti contohnya antibodi biosensor. Artinya, biosensor tersebut dinamai dengan jenis bioreseptornya yaitu antinodi. 
 
 
 “Bioreseptor jenisnya ada banyak, diantaranya yakni enzim, antibodi, sel, DNA dan biomimetik. Biomimetik bahannya dari kimia atau disebut juga antibodi sintetis, sedangkan transduser ada tiga, yaitu optikal, basis massa (mass bases), dan elektrokimia (electrochemical). Fokus kami pada elektrokimia, dan bedanya dengan yang lain adalah mampu membaca atau mendeteksi target atau sinyal sampai kuantitatif, sehingga tidak hanya kualitatif,” papar dia.
 
 
Prinsip elektrokimia, yang diambil dari kata elektron dan kimia, yaitu terdapat perubahan energi dari interaksi kimia menjadi elektronik atau disebut juga reaksi redoks. Sehingga, setiap reaksi umumnya masuk ke dalam elektron. 
 
 
Sementara itu, pemanfaatan biosensor untuk uji diagnostik dipecah menjadi parasit, virus, jamur, bakteri serta toksin yang merupakan bidang yang digeluti oleh Hasim. “Contohnya adalah bioreseptor untuk Escherichia coli (E. coli) yang salah satunya berasal dari bakteri. Jika dilihat, ini adalah biosensor yang menggunakan reseptor berupa antibodi untuk mendeteksi adanya E. Coli,” terangnya.
 
 
Manfaat lain dari penggunaan biosensor yaitu sebagai aplikasi serbaguna, sensitivitasnya tinggi, prosedur fabrikasi sederhana, instrumen pemantauan sederhana atau dalam deteksi lapangan dan konstruksi desain yang sederhana. Selain itu operasinya sederhana untuk penentuan secara langsung, respon atau sistem umpan balik cepat, sistem biayanya rendah serta pengukurannya akurat.
 
 
Peluang di Dunia Veteriner 
Biosensor telah berkembang sangat pesat dalam rentang waktu dua dekade terakhir. Teknologi ini menjadi peluang bagi dunia veteriner, sebab uji diagnostik penyakit hewan belum banyak terekspos. “Pemanfaatan biosensor untuk uji diagnostik berdasarkan ketentuan Balitvet, yakni parasit, virus, jamur dan juga toksikologi,” ujar Hasim. 
 
 
Sebaga contoh, bioreseptor untuk Escherichia coli yang salah satunya adalah bakteri. Jika dilihat bagaimana fabrikasi, sensor dan juga hasilnya, ini adalah biosensor yang menggunakan reseptor berupa antibodi. “Antibodi digunakan sebagai reseptor untuk E. coli dan hasilnya terlihat bahwa sensor cukup baik performanya,” kata dia. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 263/Agustus 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain