Senin, 16 Agustus 2021

PT Januputra Ekspor Telur Tetas ke Myanmar

PT Januputra Ekspor Telur Tetas ke Myanmar

Foto: dok.istimewa


Klaten (TROBOSLIVESTOCK.COM). Bisnis perunggasan Indonesia kembali menembus pasar mancanegara di tengah pandemi Covid-19. Kali ini PT Januputra Sejahtera mengekspor telur tetas (hatching egg) parent stock (PS, calon induk) ayam broiler ke Myanmar dan Vietnam.  

 

Komisaris Utama PT Januputra Sejahtera - Singgih Januratmoko menyatakan perusahaannya sejak tahun lalu sudah merintis dan membidik pasar telur tetas untuk menghasilkan bibit induk ayam broiler ke mancanegara. Bukan hanya ke dua negara disebutkan di atas, melainkan juga ke Afrika dan Kamboja.

 

“Sebagai perusahaan perunggasan yang bergerak di hulu atau pembibitan, ada peluang kebutuhan PS ayam broiler di kedua negara itu. Akhirnya kami mendapat pasar untuk mengirim secara reguler,” jelas Singgih.

 

Ekspor perdana ini ditujukan ke Myanmar sebanyak 166.000 butir telur tetas PS. Dari jumlah tersebut akan menghasilkan sedikitnya 24 juta ekor final stock ayam broiler. “Tahap awal pada Agustus ini kami ekspor  66.000 butir HE dan pada September 99.000 butir,” ujar Singgih yang juga Ketua Umum Perhimpunan Insan Petunggasan Rakyat (Pinsar Indonesia).

 

Selain ke Myanmar, PT Januputra juga akan mengekspor telur tetas PS ke Vietnam sebanyak 145.000 butir yang nantinya menghasilkan 21 juta ekor anak ayam atau final stock DOC (day old chicks). “Ekspor ke Vietnam kami lakukan November dan Desember tahun ini,” dia menambahkan.

 

Keberhasilan PT Januputra, selain menunjukkan kemampuan peternak dalam negeri untuk bersaing di pasar global, juga sebagai antisipasi over supply produksi ayam broiler yang sudah terjadi tiga tahun terakhir.

 

“Ini bentuk komitmen kami untuk mengatasi masalah over supply produksi ayam broiler sehingga diharapkan bisa membantu peternak mandiri di dalam negeri,” tegas Singgih.

 

Subsektor peternakan, khususnya kontribusi dari petunggasan pada masa pandemi ini ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan sekitar 7%. Singgih menyebutkan salah satu upaya dengan terus mencari peluang  di pasar mancanegara. “Ini bagian dari kepedulian peternak mandiri yang non integrator,” lanjutnya.

 

Singgih, yang juga ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia  ini menyampaikan masukan, agar ekspor seperti ini dapat berjalan berkelanjutan dengan negara tujuan yang lebih banyak serta volume yang yang besar. Kementerian Pertanian harus konsisten dengan komitmennya membantu perusahaan yang melakukan ekspor.

 

“Salah satunya adalah komitmen untuk memberikan reward penambahan produksi grand parent stock (GPS). Kami minta Menteri Pertanian maupun Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk konsisten dengan komitmennya,” pungkas dia. ist/ed/yops

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain