Rabu, 1 September 2021

Komitmen Bersama

Konsep One Health yang diperkenalkan oleh Robert Virchow, seorang dokter dan ahli patologi Jerman di era 1800-an menemukan hubungan antara kesehatan manusia dan hewan yang kemudian melahirkan istilah zoonosis yaitu penyakit infeksi yang dapat ditularkan atau ditransmisikan antara hewan dan manusia. Secara sederhana, konsep One Health dapat didefinisikan sebagai upaya kolaboratif dari berbagai sektor, utamanya kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global untuk mencapai kesehatan yang optimal. 
 
Dalam perkembangannya, One Health menjadi konsep global yang didukung penuh oleh 3 organisasi dunia yaitu WHO (World Health Organization), FAO (the Food and Agricultural Organization), dan OIE (the World Organization for Animal Health). Ketiga organisasi terkait One Health ini terus mempromosikan respon multisektor terhadap bahaya-bahaya keamanan pangan, risiko dari zoonosis, dan ancaman kesehatan masyarakat seperti resistensi antibiotik, serta menyediakan pedoman dalam penurunan risiko-risiko tersebut.
 
Konsep One Health ini untuk memperbesar kesehatan dalam aspek keamanan kesehatan global. Aspek keamanan pangan tentunya akan terkait dengan konsep ini karena pangan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia dan berhubungan dengan kesehatannya. 
 
Sebagai bagian dari komoditas pangan yang berhubungan dengan keamanan pangan, beragam bisnis peternakan termasuk industri perunggasan akan terus dikaitkan dengan implementasi konsep One Health ini. Terutama menyangkut isu penggunaan antibiotik dan resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR). Upaya penyediaan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH) menjadi fokus seluruh stakeholder perunggasan di tanah air.
 
Berbagai aturan dan kebijakan dikeluarkan pemerintah guna memperketat penggunaan antibiotik dan meminimalkan resistensi antimikroba di industri perunggasan. Tercatat sejak 1 Januari 2018 pemerintah secara resmi mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter) yang tertuang dalam Permentan (Peraturan Menteri Pertanian) No. 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Bahkan aturan ini diperkuat dengan keluarnya Kepdirjen PKH No. 09111/KPTS/PK.350/F/09/2018 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Obat Hewan dalam Pakan untuk Tujuan Terapi.
 
Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan Colistin di 2020 yang tertuang dalam Kepmentan No. 9736/PI.500/F/09/2020 tentang Perubahan Atas Lampiran III Permentan No. 14 Tahun 2017. Kebijakan ini muncul sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan OIE di 2018. Implementasi kebijakan itu pun ditopang dengan Permentan No. 3 Tahun 2019 tentang Pelayanan Jasa Medik Veteriner. Dan sebagai langkah untuk pengawasannya, pemerintah mengeluarkan Permentan No. 16 Tahun 2021 tentang Kajian Lapang dan Pengawasan Obat Hewan. 
 
Berdasarkan hasil pengawasan dari pemerintah, survei penggunaan antimikroba di peternakan broiler (ayam pedaging) di 6 provinsi pada rentang waktu 2017 – 2020 menunjukkan ada penurunan penggunaan antibiotik untuk pencegahan/profilaksis sebesar 6 %. Ada penurunan antibiotik yang banyak digunakan di peternakan (Enrofloksasin, Amoksisilin dan Trimethoprim sulfamethoksasol) sebesar 12 – 18 %. Juga penurunan penggunaan Colistin sebesar 29 %.
 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 264/September 2021

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain