Rabu, 1 September 2021

Antibiotik & Perunggasan

Antibiotik & Perunggasan

Foto: TROBOS Ramdan


Aturan yang ketat termasuk larangan penggunaan AGP telah dikeluarkan pemerintah. Berbagai inovasi dan alternatif solusi dimanfaatkan stakeholder agar performa unggas optimal dan keamanan pangan tetap terjaga
 
 
Sejak 1 Januari 2018 pemerintah secara resmi mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter) yang tertuang dalam Permentan (Peraturan Menteri Pertanian) No. 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Bahkan aturan ini diperkuat dengan keluarnya Kepdirjen PKH No. 09111/KPTS/PK.350/F/09/2018 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Obat Hewan dalam Pakan untuk Tujuan Terapi.
 
 
Tidak sampai disitu, pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan colistin di tahun lalu yang tertuang dalam Kepmentan No. 9736/PI.500/F/09/2020 tentang Perubahan Atas Lampiran III Permentan No. 14 Tahun 2017. Pemerintah beralasan, kebijakan ini dikeluarkan sesuai dengan rekomendasi yang dikeluarkan OIE atau Organisasi Kesehatan Hewan Sedunia di 2018.
 
 
Implementasi kebijakan itu pun ditopang dengan Permentan No. 3 Tahun 2019  tentang Pelayanan Jasa Medik Veteriner. Dan sebagai langkah untuk pengawasannya, pemerintah mengeluarkan Permentan No .16 tahun 2021 tentang Kajian Lapang dan Pengawasan Obat Hewan. 
 
 
Ketua Umum GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional) – asosiasi yang membawahi para peternak broiler (ayam pedaging) – Herry Dermawan mengatakan, profesi sebagai peternak ayam itu sangat berat karena yang mengawasi saat ini sangat banyak. Mulai dari pengawasan harga oleh Satgas Pangan dan juga oleh Satkes terkait obat-obatan. “Saya yakin semua peternak itu berusaha bila perlu tidak pakai obat, tidak pakai antibiotik, tidak pakai vaksin, tidak pakai apapun. Supaya menekan biaya produksi, walaupun pemakaian obat dan antibiotik itu tidak banyak tapi kalau bisa dihilangkan agar lebih menguntungkan,” ungkapnya dalam FGD (Focus Group Discussion) bertema “Rambu-Rambu Penggunaan Antibiotik di Perunggasan” yang digagas Format (Forum Media Peternakan) yang terdiri atas majalah TROBOS Livestock, majalah Poultry Indonesia, majalah Infovet, tabloid Sinar Tani, dan majalah Swadaya yang digelar secara daring pada Kamis (5/8). 
 
 
Ia mencontohkan, di daerah Priangan Timur seperti Tasikmalaya dan Ciamis yang mengkhususkan diri panen bobot ayam antara 1,0 – 1,3 kg pada umur 22 – 23 hari sudah banyak yang menerapkan tidak pakai vaksin sekalipun apalagi antibiotik. “Hal ini sudah banyak dipraktikkan dan sampai sekarang masih berjalan cara seperti itu karena hasilnya tidak mengecewakan. Meskipun kita tidak berani mengklaim bahwa ini adalah peternakan organik, non antibiotik,” kilahnya.
 
 
Terkait pelarangan AGP, lanjut Herry, bukan ranahnya karena AGP sudah dicampurkan ke dalam pakan dan peternak hanya tinggal pakai. Namun ia yakin pabrik pakan tidak akan berani melanggar aturan pemerintah. “Kembali lagi ke masalah pemakaian antibiotik, jangan khawatirkan peternak. Kata kuncinya peternak sedapat mungkin tidak memakai antibiotik, bahkan tidak memakai vaksin. Peternak mulai memakai obat-obat herbal. Artinya keinginan peternak tidak pakai obat dan antibiotik tapi ayam sehat, asal manajemen perkandangannya benar. Dan tentunya kita berharap pakan yang dibeli benar-benar memenuhi syarat, memenuhi nutrisi untuk ayam yang akhirnya terpenuhi kebutuhannya sehingga ayam bisa sehat,” paparnya.
 
 
Herry menegaskan, sangat mendukung kebijakan pemerintah yang menyangkut hidup orang banyak karena ternak tersebut dipelihara untuk dimakan yang akibat akhirnya pada kesehatan manusia. Apalagi lambat laun sudah ditemukan formula yang meskipun tidak sebaik AGP tetapi saat ini sudah mulai stabil, tentunya harus dikalkulasikan dengan harga pakan. 
 
 
Ketua Bidang Kesehatan Masyarakat Veteriner Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat) Indonesia, Rakhmat Nuriyanto berpendapat, penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada manusia sudah berlangsung lama dan menjadi tabungan kebiasaan yang menimbulkan resistensi. “Sehingga kondisi itu bukan semata-mata karena budidaya di perunggasan,” tegasnya. 
 
 
Kondisi lingkungan di tanah air yang panas dan lembap merupakan tempat yang cocok atau nyaman bagi berkembangnya bakteri. Terdapat setidaknya 3 bakteri yang hampir selalu ada di tubuh ayam yaitu E.coli dan Eimeria di saluran pencernaan, serta Mycoplasma gallisepticum di saluran pernapasan. “Tidak heran kalau DOC (ayam umur sehari) yang masuk kandang beberapa hari kemudian akan timbul gejala-gejala penyakit sehingga penanggulangan yang dilakukan peternak sebenarnya dosisnya pengobatan dan waktunya juga waktu pengobatan. Jadi kita perlu mengerti ada keadaan seperti itu,” terangnya. 
 
 
Ia meminta pemerintah bersama-sama dengan stakeholder untuk mengarahkan peternak menerapkan good farming practice atau praktik budidaya yang baik. “Perlu upaya bagaimana mengkampanyekan hal ini bahkan kalau perlu memberikan semacam intensif atau yang lainnya,” sarannya. 
 
 
Penataan Bersama
Budidaya ayam saat ini sudah sangat mudah yang ditunjang dengan teknologi yang begitu terbuka. Siapapun bisa membudidayakan ayam dengan mudah dan tidak terbatas dengan tingkat pendidikannya yang penting memiliki tekad, niat, dan modal untuk bisa memelihara ayam dengan baik. “Saat ini ada peternakan yang manajemennya sudah tertata rapi bahkan sudah mengikuti sertifikasi NKV (Nomor Kontrol Veteriner) sehingga pemakaian obat-obatan semakin berkurang,” ungkap Ketua Presidium PPN (Pinsar Petelur Nasional) – asosiasi yang membawahi para peternak layer (ayam petelur) – Yudianto Yosgiarso.
Pria yang akrab disapa Yudi ini menyatakan, masalah resistensi antibiotik ini jangan semata-mata dilimpahkan pada para peternak baik broiler maupun layer. Karena para peternak yang sudah melaksanakan NKV dari sisi penggunaan obat-obatan sudah berkurang sekali.
 
 
Untuk itu, ia meminta peranan pemerintah untuk menjalankan aturan-aturannya sekaligus mendorong peternak dengan menggandeng perguruan tinggi untuk berbondong-bondong mengurus sertifikasi NKV. Pemerintah pun bisa membantu para peternak yang terkendala perizinan khususnya izin prinsipnya padahal mereka sudah bertahun-tahun beternak. “Pemangku kebijakan bisa mengemas ini semua agar bisnis peternakan layer bisa tertata dengan baik dan peternak tidak takut dan bisa membuka diri,” usul Yudi.  
 
 
Selain itu, ia meminta pemerintah bersama asosiasi terkait untuk melakukan pengawasan yang ketat terkait peredaran obat hewan. Agar penggunaan obat hewan sesuai dengan dosis yang dianjurkan dan jangan sampai peternak menebak bahkan meningkatkan dosis obat yang diberikan sehingga jalan menuju resistensi menjadi semakin kuat. “Jangan sampai isu ini mengganggu pertumbuhan industri peternakan itu sendiri,” pesannya.
 
 
Untuk para produsen obat hewan pun bisa menaati peraturan yang telah dilaksanakan dan dikeluarkan oleh pemerintah. Adanya kebijakan mengenai antibiotik yang sudah tidak diperbolehkan, jangan sampai produknya bisa keluar lagi di pasaran. Untuk melawan resistensi antibiotik, tidak hanya dari peternak tetapi harus dimulai dari hulu dengan bibit ayam dan pakan yang baik serta obat-obatan yang sesuai agar peternakan bisa tertata rapi dan pemakaian obat bisa diminimalisir. “Saya pikir penggunaan antibiotik otomatis akan menjadi berkurang seperti yang diharapkan pemerintah dan kita semua bisa mengonsumsi ayam serta telur dengan aman,” ucap Yudi optimis. 
 
 
Sudah Dikontrol
Menurut Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas), Achmad Dawami, banyaknya regulasi yang mengatur penggunaan obat hewan termasuk antibiotik serta upaya kontrol dari pemerintah menjadi hal yang positif. “Perlu komitmen bagi para pelaku usaha obat hewan karena kalau sudah dilarang pastinya akan memiliki tujuan yang baik,” ujarnya.
 
 
Ia sepakat, meminimalisir pemakaian obat-obatan dengan misalnya cukup menggunakan vitamin atau vaksin merupakan cita-cita semua peternak termasuk di breeding farm (usaha pembibitan). Namun terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti masalah biosekuriti. “Kalau biosekuriti dan sanitasinya bagus akan menjamin penggunaan obat-obatan terkurangi,” katanya. 
 
 
Berikutnya, jika manajemen baik otomatis kesehatan atau imunitas yang ada di dalam tubuh ayam menjadi baik. Manajemen itu memiliki arti luas mulai dari manajemen perkandangan, litter (alas kandang), dan sebagainya. 
 
 
Sedangkan yang menjadi faktor berikutnya adalah obat-obatan atau vaksin. “Jika tidak digunakan pun tidak apa-apa cuma masalahnya apakah bisa mencegah lalu lintas kendaraan ke dalam kandang dan sejauh mana kebersihannya karena bisa menularkan bakteri dan sebagainya. Untuk itu, manajemen harus diperketat dan diperbaiki,” sarannya. 
 
 
“Kembali lagi bahwa semua antibiotik sudah dikontrol oleh pemerintah, kepararelan antara perubahan dengan pelarangan antibiotik dengan peningkatan manajemen ini yang diharapkan nanti akan bisa mengurangi bahkan zero penggunaan obat-obatan dan antibiotik seperti yang di cita-citakan,” imbuhnya. 
Saat ini sudah beredar beberapa pengganti antibiotik yang dilarang oleh pemerintah termasuk produk herbal yang tidak akan berefek kepada manusia. “Untuk itu, semua tidak perlu khawatir karena pemerintah sudah mengeluarkan banyak aturan dan banyak pengawasan yang telah dilakukan meskipun belum optimal,” kata Dawami.
 
 
Dipastikan Keamanannya
Daging ayam dan telur itu merupakan sumber protein hewani utama bagi Indonesia yang memberikan kontribusi lebih dari 65 % sebagai sumber protein bagi asupan gizi masyarakat. ”Kita tahu bahwa masyarakat butuh asupan dan sumber gizi yang utama untuk protein adalah ayam. Apalagi dalam masa pandemi ini, asupan gizi sangat diperlukan lagi dalam pembentukan imunitas tubuh,” terang Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Desianto Budi Utomo.
 
 
Pria yang akrab disapa Desi meyakini, seluruh antibiotik yang beredar di Indonesia telah lolos dan terdaftar di Kementerian Pertanian dan dapat dipastikan keamanan, khasiat, dan mutunya. “Yang resmi diedarkan di masyarakat dan digunakan oleh pabrik pakan itu semua antibiotik yang sudah lolos dan terdaftar di kementan yang dipastikan keamanan, khasiat dan mutunya. Semua aturan yang menyangkut antibiotik sudah disosialisasikan, didiskusikan bahkan dilatihkan ke pemangku kepentingan terkait termasuk juga pengawas obat hewan dan penanggung jawab teknis obat hewan. Sekarang pabrik pakan sudah harus punya penanggung jawab teknis obat hewan kalau dia pakai antibiotik,” urainya. 
 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 264/September 2021 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 263/Agustus 2021 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain