Rabu, 1 September 2021

Ade M Zulkarnain: Pembibitan Ayam Lokal yang Berkelanjutan

Ade M Zulkarnain: Pembibitan Ayam Lokal yang Berkelanjutan

Foto: 


Secara historis Indonesia merupakan salah satu pusat ayam dunia bersama dengan China dan Lembah Hindus India. Bahkan telah diakui oleh lembaga peternakan terkemuka di dunia, ILRI (International Livestock Research Institute) yang berbasis di Nairobi, Kenya. ILRI mencatat ayam-ayam yang didomestikasi di dunia berasal dari ketiga kawasan tersebut termasuk Indonesia. Pada dasarnya tidak ada ayam asli (indigenous chicken) di Amerika, Afrika, Eropa, dan Australia. Ayam-ayam yang ada di benua tersebut didatangkan melaui jalur perdagangan maupun jalur kolonialisme dari ketiga kawasan itu. 
 
 
Indonesia sudah seharusnya patut berbangga dengan adanya sumber daya genetik ayam yang diakui dunia bahkan terdapat 26 strain ayam asli Indonesia. Dari 26 strain, terbagi ke dalam ayam produksi dan hobi. Ayam produksi terbagi lagi menjadi ayam produksi pedaging dan ayam produksi petelur. Salah satu yang diarahkan untuk produksi pedaging yaitu ayam kedu yang juga disebut dengan ayam dwiguna. Mengingat tidak hanya sebagai pedaging melainkan juga mampu berproduksi sebagai petelur. Berikutnya ada ayam sentul yang diarahkan juga untuk produksi daging.
 
 
Sedangkan untuk produksi telur, selain ayam kedu dalam 15 tahun terakhir muncul ayam Kampung Unggulan Balitnak (KUB) yang baru diresmikan sejak 2009. Ayam KUB merupakan hasil seleksi dari Balai Penelitian Ternak, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitnak Balitbangtan), Ciawi, Bogor Jawa Barat yang diarahkan mampu menghasilkan produksi telur yang tinggi dibandingkan dengan sebelumnya. Selain itu, untuk ayam hobi terdapat ayam pelung dan cemani yang memiliki karakteristik suara yang khas. Sehingga Indonesia patut berbangga karena memiliki sumber daya genetik ayam lokal yang sangat banyak sebagai kelebihan atau keunggulan yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
 
 
Target 25 %
Tepat pada 1800-an, ada dua jenis ayam Indonesia yang mendapatkan sertifikasi dari American Poultry Association yaitu ayam jawa/kedu yang diarahkan untuk produksi dan ayam black sumatera untuk dijadikan ayam petarung. Puncaknya, pada 1916 ketika dimulainya industrialisasi ayam dunia salah satunya dengan memanfaatkan ayam asal Indonesia tersebut. Sehingga saat ini negara-negara yang mengembangkan bibit ayam ras pedaging (broiler) tidak terlepas dari peran ayam yang berasal dari Indonesia. Bahkan ada ilmuwan sekaligus akademisi dari Amerika Serikat menyebutkan bahwa kontribusi ayam jawa di industrialisasi ayam di dunia cukup besar. 
 
 
Mengacu hal itu, Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) pada 2009 melansir sebuah program yang bernama “Unggas Lokal Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri”. Tujuannya ialah ayam lokal asli Indonesia mampu memberikan kontribusi sebesar 25 % dari total produksi ayam nasional untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di tanah air. Namun perlu digarisbawahi bukan memproduksi ayam lokal sebesar 100 % melainkan hanya 5 %. Itu artinya kalau saat ini produksi broiler sekitar 4 miliar ekor seharusnya ayam lokal mampu diproduksi sebesar 1 miliar ekor per tahun. Faktanya, sampai hari ini masih jauh memenuhi produksi tersebut. Namun untuk mencapai target itu harus ada komitmen dari stakeholder agar tujuan tersebut tercapai. 
 
 
Rasa optimis itu muncul mengingat sejak 2009 sampai saat ini gairah masyarakat Indonesia dalam beternak ayam lokal setiap tahunnya mengalami peningkatan. Meskipun, peningkatan ini tidak diimbangi oleh pasokan bibit yang baik karena di lapangan usaha pembibitan masih sedikit dan bahkan tidak sesuai dengan standar pembibitan di Indonesia. Selain itu, di Indonesia pada tahun tersebut belum ada perusahaan pembibitan yang menciptakan struktur pembibitan ayam lokal yang baik dan terarah. Mulai dari pure line, GPS (grand parent stock), PS (parent stock), sampai dengan FS (final stock). Bahkan ada kecenderungan akibat belum adanya struktur pembibitan yang baik tersebut PS ayam lokal sudah dijadikan ayam konsumsi. Kondisi itu, sangat disayangkan bahkan juga parahnya lagi GPS pun juga dijadikan ayam konsumsi. 
 
 
Kondisi ini merupakan kelemahan yang kemudian pada 2011 ayam lokal ini harus mampu berproduksi dengan baik sesuai dengan standar peternakan yang baik pula. Baik itu di pembibitannya dengan good breeding practice maupun usaha di pembesarannya melalui good farming practice. Kelemahan dalam menghasilkan ayam umur sehari final stock (DOC FS) yang baik tentu menjadi hambatan sehingga perlu dorongan dari berbagai pihak untuk membuat usaha pembibitan yang baik. 
 
 
Nyatanya, membuat usaha pembibitan yang baik tidak mudah dan tidak murah karena sangat kompleks. Lagi-lagi pembibitan harus sesuai dengan standar pembibitan bukan pembiakan yang sekadar ada ayam lalu bertelur kemudian menjadi DOC. Bukan seperti itu, melainkan pembibitan harus menciptakan bibit yang baik agar menghasilkan turunan yang berkualitas. Sehingga mampu dikembangkan dalam budidaya atau pembesarannya. Sekaligus dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh peternak maupun dikonsumsi dengan baik oleh masyarakat. 
 
 
Mengarah ke Industri
Gagasan untuk industrialisasi ayam lokal pun dikedepankan yaitu mengolah ayam lokal secara industri bukan lagi secara backyard farming. Artinya ayam lokal yang akan diproduksi dengan jumlah yang banyak dan berkualitas sehingga mampu memenuhi pasokan daging seperti yang dicetuskan Himpuli. Maka faktor bibit menjadi sentral yang memiliki peranan penting. Untuk menggairahkan tujuan mulia itu pada usaha pembibitan perlu pihak-pihak tertentu yang memiliki kapital dan modal serta kemampuan pengetahuan yang didukung dengan teknologi mumpuni. 
 
 
Hal ini perlu dilakukan mengingat saat ini pemenuhan daging ayam lokal tidak lebih dari 6 % dari total produksi unggas nasional per tahunnya. Agar capaian 25 % dan 1 miliar ekor ayam lokal mampu terpenuhi. Ke depan, usaha ayam lokal harus dibangun dengan skala industri yang baik. Entah untuk industri skala menengah maupun skala kecil. Tetapi khusus untuk pembibitan karena memerlukan modal yang cukup besar perlu mendatangkan beberapa pihak yang memiliki kapital yang cukup untuk mengembangkan segmen pembibitan ayam lokal. 
 
 
Di sisi lain, usaha ayam lokal yang sebelumnya diproteksi dan dilindungi berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Negatif Investasi (DNI) dimana usaha peternakannya “diproteksi”. Peraturan itu dinilai menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi ingin melindungi peternak kecil dari perusahaan besar, tapi di sisi lain menghambat peningkatan produksi guna memenuhi permintaan pasar. 
 
 
Kini dengan adanya Undang-undang Cipta Kerja (Ciptaker) membuat usaha ayam lokal menjadi terbuka dikembangkan oleh perusahaan yang memilki modal cukup. Sekarang ini, hasilnya mulai terlihat setidaknya sudah ada 10 perusahaan yang menangani usaha ayam lokal khususnya pembibitan dengan populasi yang bervariasi yang menghasilkan DOC di kisaran 10.000 hingga 600.00 ekor per bulan. 
 
 
Kabar baiknya beberapa bulan terakhir, diprediksi akan bermunculan 3-4 perusahaan baru yang akan masuk dalam usaha ayam lokal khususnya pembibitan. Munculnya perusahaan tersebut akan mampu memenuhi permintaan masyarakat untuk mendapatkan DOC ayam lokal asli Indonesia yang baik. Sehingga peternak mampu mengusahakan budidaya dari DOC yang baik serta menghasilkan profit yang menjanjikan.
 
 
Wajar hal itu perlu dilakukan karena jika mengharapkan DOC dari hasil pembiakan cenderung merugikan peternak tetapi jika DOC yang dihasilkan berasal dari usaha pembibitan yang baik kemungkinan hasil DOCnya bisa menguntungkan para peternak meliputi performa, tingkat pertumbuhan, dan risiko penyakit. Ke depan, perusahaan pembibitan akan mampu memanfaatkan potensi ayam lokal sebanyak 26 strain tersebut. Meskipun butuh waktu yang lama apalagi harus dilakukan pemurnian dan seleksi yang kemudian menghasilkan kualitas yang baik. Ini hanya bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang memilki kemampuan untuk itu. 
 
 
Sedangkan di sektor hilir juga perlu menjadi perhatian, mulai dari aspek kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) sampai soal labeling serta inovasi pemasarannya. Pengusaha peternakan ayam asli Indonesia pun mulai berpaling dari sekedar berjualan ayam hidup (live bird) menjadi produk yang bernilai tambah. Tentunya, berbagai persyaratan harus dipenuhi. Misalnya membangun sarana Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPHU) khusus ayam asli Indonesia yang sesuai standar kesmavet, sertifikasi halal, uji mutu daging, pemasaran dengan sistem rantai dingin serta membangun merek yang menjadikan produk ayam asli Indonesia berdaya saing.
 
 
Semua ketentuan itu harus dipenuhi kalau ingin produknya berdaya saing di pasar domestik maupun pasar global. Jika tidak maka secara perlahan tapi pasti, akan tergilas dengan masuknya produk sejenis dari negara lain. Pelaku peternakan di tanah air tidak perlu khawatir dengan potensi pasar ayam asli Indonesia maupun ayam lokal hasil persilangan yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah diatur oleh pemerintah. Masih terbuka lebar ceruk pasar untuk produk dari jenis ayam tersebut. Pertumbuhan kelas menengah dengan pendapatan dan daya beli yang lebih baik serta kesadaran mengonsumsi produk ternak sehat adalah ceruk pasar yang masih menganga.
 
 
Porsi Peternak Mandiri
Lantas, di mana porsi peternak rakyat/peternak mandiri? porsi peternak rakyat diarahkan pada usaha budidaya agar peternak tidak dibebani usaha pembibitan yang mahal. Sehingga di dalam UU Ciptaker harus ada pembagian yang jelas antara usaha pembibitan yang dilakukan oleh perusahaan yang memiliki modal cukup serta usaha budidaya yang dikerjakan peternak rakyat skala UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). 
 
 
Arah ini mulai terlihat apalagi dari perusahaan tersebut sudah melewati skala menengah ke bawah karena usahanya terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir. Ke depan, harus ada klasifikasi yang lebih detail sehingga porsi antara perusahaan dan peternak jelas. Termasuk peternak yang memiliki kapital besar dengan peternak yang masih skala UMKM. Jangan sampai ada “kanibal” antara yang besar dan yang kecil.
 
 
Diharapkan pada 2022/2023 pasca pandemi Covid-19, permintaan ayam lokal akan lebih diminati masyarakat. Apalagi tekstur daging yang lebih disukai dan tingkat risiko penyakit pada ayam lokal lebih rendah dibandingkan dengan jenis ayam lainnya membuat usaha ayam lokal menjadi peluang yang menjanjikan. Apalagi diperkuat dengan komitmen industri ayam lokal yang akan menjawab tantangan agar unggas lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. TROBOS
dituliskan kembali oleh zulendra erin aryaza
 
 
 
 
Ade M Zulkarnain
Ketua Umum Himpuli (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia)
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain