Jumat, 1 Oktober 2021

Titah Presiden

Industri perunggasan merupakan bisnis protein hewani di tanah air dengan omzet sekitar 450 triliun dan menyerap hampir 30 % lapangan kerja. Dinamika di industri ini pun terus bergulir dengan segala problematika yang dihadapinya. 
 
Di broiler (ayam pedaging), kondisi harga live bird (ayam hidup) yang fluktuatif bahkan anjlok di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) masih dikeluhkan para pelaku usaha khususnya peternak rakyat/mandiri. Kondisi itu diperparah dengan pandemi Covid-19 yang membuat permintaan (demand) akan ayam menurun.
Terbitnya kebijakan dari pemerintah berupa SE (Surat Edaran) Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan tentang pemangkasan produksi broiler dirasakan masih belum optimal hasilnya. Meskipun kebijakan ini telah dikeluarkan beberapa kali namun peternak tetap saja merugi. 
 
Kondisi serupa terjadi pula di bisnis peternakan layer (ayam petelur). Dampak pandemi dan harga telur di tingkat peternak yang anjlok dalam jangka waktu lama di bawah HPP menekan ketahanan beternak. Ditambah lagi dengan kelangkaan dan melambungnya harga jagung lokal hingga menyentuh di atas Rp 6.000 per kg membuat biaya produksi yang membengkak. Alhasil, kerugian peternak semakin bertambah. 
 
Sementara itu, Kementerian Pertanian mengklaim ketersediaan jagung nasional cukup untuk pakan. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengklaim terjadi kelebihan stok jagung hingga lebih dari 2 juta ton. Panen jagung dilakukan lebih dari 15 juta ton dengan rincian 13 juta ton digunakan untuk konsumsi dan pakan ternak, sehingga terdapat kelebihan jagung di atas 2 juta ton. 
 
Kementerian Pertanian menyodorkan data, panen jagung pada periode September hingga Oktober 2021 dilakukan di 529.126 ha lahan jagung dengan jumlah produksi 2.127.988 ton jagung berkadar air 14 %. Sedangkan prediksi periode Januari hingga Desember 2022 panen jagung dilakukan pada 36.144 ha lahan jagung dengan total produksi mencapai 166.796 ton jagung berkadar air 14 %.
 
Mewakili keresahan batin dari para peternak lainnya akan usaha peternakan layer yang semakin berada di ujung tanduk ini mendorong Suroto, peternak layer di Blitar, Jawa Timur nekat membentangkan poster ke arah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang melakukan kunjungan kerja saat melintas di Jalan Moh. Hatta, Blitar, Jawa Timur, pada Selasa (7/9). Dengan poster bertuliskan “Pak Jokowi, bantu peternak beli jagung dengan harga wajar” Suroto ingin agar Jokowi mendengar dan melihat langsung kondisi para peternak layer. 
 
Aksi yang dilakukan Suroto ini menjadi viral, baik di medsos (media sosial) maupun di berbagai media tanah air. Meski sempat diperiksa aparat keamanan namun aksi ini berbuah manis. Suroto beserta perwakilan stakeholder perunggasan lainnya secara khusus diundang untuk bertemu dan berdialog secara langsung dengan Presiden Jokowi di istana negara, Rabu (15/9).
 
Saat bertemu dan berdialog dengan presiden, perwakilan stakeholder perunggasan baik di broiler maupun layer bergantian menyampaikan pandangan dan informasi terkini terkait bisnisnya masing-masing. Semua berharap, segera ada solusi konkrit setelah pertemuan dengan presiden sehingga persoalan di industri perunggasan menemukan solusi yang tepat dan tidak berlarut-larut.
 
Pasca pertemuan dengan presiden para peternak melakukan konsolidasi. Peternak mandiri broiler menyampaikan berbagai aspirasinya dengan mengusulkan kepada pemerintah yaitu perlunya segmentasi produk broiler. Juga meminta pemerintah secara rutin mengadakan jagung dengan harga yang wajar dan persediaan yang cukup. Seperti kondisi saat ini harga jagung yang mahal maka meminta pemerintah melakukan impor jagung untuk peternak mandiri lewat BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Pangan atau Koperasi.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 265/Oktober 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain