Jumat, 1 Oktober 2021

Peternak Layer Tuntut Solusi

Berdialog dengan stakeholder terkait bahkan dengan Presiden, konsolidasi, demonstrasi hingga membagikan telur secara gratis menjadi ikhtiar sekaligus bentuk protes agar usahanya bisa segera diselamatkan

 


Beberapa bulan ke belakang, peternak layer (ayam petelur) gencar menyuarakan harga telur yang anjlok dan harga jagung yang menjulang kepada pemerintah. Anomali harga jagung yang sempat bertengger di angka Rp 6.000 per kilogram (kg), membuat peternak tidak berkutik. Pasalnya, jagung merupakan bahan pakan esensial bagi ayam petelur yang memiliki persentase sebesar 50 %.

 


Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin ini kiasan yang tepat untuk menggambarkan kondisi peternakan ayam petelur sekarang. Selain harga jagung yang meroket, harga telur di tingkat peternak pun terpantau lesu. Kesempatan untuk berdialog dengan pemerintah juga terus dilakukan bahkan dengan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), guna menemukan solusi jitu dari kemelut budidaya ayam petelur.

 


“Kesulitan peternak dari tahun ke tahun terulang lagi. Itu lagi itu lagi, masalahnya harga jagung yang naik terus sekitar Rp 5.800 per kg, tidak sesuai dengan harga di acuan Permendag (Peraturan Menteri Perdagangan). Setiap kenaikan harga bahan baku impor, harga pakan naik terus yang tadinya sekitar Rp 5.000 per kg sekarang sekitar Rp 6.000 per kg. Otomatis karena harga jagung naik, harga pakan juga naik,” terang Sekretaris Jenderal PPN (Pinsar Petelur Nasional), Awan Sastrawijaya kepada TROBOS Livestock.

 


HPP (harga pokok produksi) peternak, ia melanjutkan, menjadi naik dan berbeda dengan tahun sebelumnya. Sekarang HPP telah nyentuh angka Rp 21.000 – 23.000 per kg. HPP dijadikan dasar sebagai acuan harga di Permendag, namun sekarang telur di Blitar, Jawa Timur dijual dengan harga Rp 16.000 per kg. Peternak nomboknya sekitar Rp 5.000 – 6.000 per kg dan Awan mengatakan bagaimana peternak bisa kuat? Lama-lama peternak tidak bisa beli pakan dan jagung, akhirnya ayam diapkir.

 


Tantangan di Tengah Krisis
Meningkatnya harga komoditas bahan baku pakan dunia dan pandemi Covid-19 (coronavirus disease 2019) yang tak kunjung usai membuat kondisi peternak semakin kritis. Seiring dengan itu, tantangan-tantangan lain terus menghantui peternak layer.

 


Seperti yang diungkapkan Ketua Umum PPRN (Paguyuban Peternak Rakyat Nasional), Rofi Yasifun bahwa tantangannya pasti harga pakan, sebab HPP itu terbentuk 80 % dari pakan dan 50 % di dalamnya adalah jagung. “Artinya, penyumbang terbanyak dari pakan adalah jagung. Tantangan yang kedua adalah harga telur yang tidak bisa stabil, dalam satu tahun terakhir ini cenderung jauh di bawah HPP,” keluhnya.

 


Perhitungan HPP telur, ia mengimbuhkan, yaitu 3,5 dikali harga pakan. Harga pakan sebelumnya ialah Rp 5.500 – 5.700 per kg, sehingga HPP pada kondisi normal sekitar Rp 18.000 – 20.000 per kg. Diketahui, bahan baku pakan asal impor naik sebesar 30 %, sementara jagung lokal kenaikannya juga di atas 20 %. Seharusnya harga jagung itu Rp 4.500 – 5.000 per kg, sekarang menjadi Rp 6.000 per kg.

 


Menurut keterangan Rofi, harga bahan baku pakan dunia tersebut mulai naik sejak awal September 2020, sehingga tepat satu tahun yang lalu. “Kami merugi persis sejak setahun yang lalu dan semenjak itulah beternak ayam petelur tidak pernah untung, tapi malah menambah dan menumpuk hutang ke bank. Semakin banyak menggunakan tambahan hutang untuk menutup kerugian ini membuat peternak sudah tidak mampu membayar bunga dan angsuran bank,” sesalnya.

 


Tantangan berikutnya ialah regulasi yang berkaitan dengan kebijakan SE (Surat Edaran) Dirjen PKH (Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan) Kementerian Pertanian terkait pemangkasan HE (hatching egg) yang sudah berkali-kali dikeluarkan. Tantangan yang terakhir adalah adanya pemberlakuan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat), sebab sangat mempengaruhi demand atau permintaan akibat daya beli dari masyarakat yang turun.

 


Adapun Ketua PPN Kendal, Jawa Tengah, Suwardi menerangkan tantangannya saat ini ialah iklim usaha yang tidak sehat, karena pemerintah dinilai belum melindungi peternak rakyat. Adanya fluktuasi harga telur ini terjadi sejak akhir 2020 sampai sekarang. HPP telur saat kondisi normal ialah Rp 19.000 – 21.000 per kg, namun sekarang HPP mencapai Rp 20.700 –23.000 per kg dengan harga telur on farm Rp 18.500 per kg.

 


Senada dengan Rofi, Ketua PPN Lampung, Jenny Soelistiani mengungkapkan tantangan beternak layer saat ini ialah karena efek pandemi, terlebih lagi PPKM. Pabrik kue maupun pabrik lainnya yang menggunakan campuran telur itu permintaannya menurun. PPKM juga membatasi kegiatan seperti hajatan, otomatis daya beli masyarakat tidak ada.

 


“Saat pandemi sebelumnya secara umum masih terbantu oleh program bansos (bantuan sosial) dan sebagainya. Namun sepertinya ekonomi bertambah buruk karena daya beli masyarakat sudah habis. Usaha pun sudah tidak berjalan lama,” sesal Jenny.

 


Realitanya, peternak ayam petelur itu butuh jagung sebanyak 50 % yang seharusnya bisa diusahakan oleh negara ini. Berbeda dengan sejenis SBM (soybean meal) dan MBM (meat bone meal), itu tidak mungkin diteriakkan oleh peternak, karena tidak bisa diusahakan oleh negara atau pemerintah.
Jagung sendiri sudah ada acuan dari Permendag dan dikendalikan oleh pemerintah. “Harga jagung sudah Rp 6.000 per kg, sedangkan harga acuannya yaitu Rp 3.150 per kg sehingga sudah hampir dua kali lipat harganya. HPP kita kemarin diputuskan 3,5 dikali harga pakan, maka setiap kenaikan jagung itu sudah meningkatkan HPP hampir dua kali lipat,” tegas dia.

 


Ketua Presidium Tetap PPN, Yudianto Yosgiarso turut mengimbuhkan bahwa memang betul permasalahan ini karena dampak pandemi Covid-19, tetapi jangan sepenuhnya disalahkan. Pria yang karib disapa Yudi ini pun mengaku, PPN memberi apresiasi yang setinggi-tingginya untuk Presiden Jokowi, karena telah berupaya untuk menyelamatkan bangsa Indonesia terlebih dahulu dari bahaya kematian. Sedangkan yang lain-lain, bisa dipikirkan dan diusahakan.

 


“Semua harus dipikirkan, dalam hal ini HPP versi peternak rakyat, kami sudah mengimbau dan mengadakan evaluasi. Bagi kami, yang paling sesuai adalah 3,5 kali pakan. Pendapat itu memang bervariasi, ada yang koefisiennya 3,2 dan 3,4, tergantung masing-masing peternaknya. Jika peternaknya efisien dan betul-betul bagus, mungkin 3,2 bisa, sehingga tolong satu per satu aturan main ini diselesaikan terlebih dulu,” pinta Yudi.



Imbas ke Peternak
Segala hambatan yang peternak ayam petelur alami saat ini, tentu memberikan dampak bagi usahanya. Berdasarkan penuturan Rofi, sudah banyak sekali peternak layer yang gulung tikar. Ia mendengar bahwa beberapa anggota koperasi menyatakan angkat tangan, sehingga ayamnya diapkir semua. Namun demikian jika kondisinya sudah membaik mereka akan mulai usaha lagi.

 


“Pastinya yang masih bertahan ini cara efisiensi dengan ‘kanibal’, artinya, ayam diapkir untuk beli pakan. Itu pun masalahnya apkir ini sulit sekali dikeluarkan, karena pedagang apkir belinya kurang. Tapi memang infonya pasar sedang sangat lesu, sehingga berjualan juga sulit menyerap apkir,” lapornya.

 


Rofi menambahkan informasi bahwa ayam apkir seharga Rp 24.000 per ekor saja tidak mau diambil pembeli. Harga Rp 24.000 per ekor itu artinya harga per kg hanya Rp 12.300. Harga ayam apkir per kg di bawah Rp 13.000 dinilainya sudah kacau sekali. Ini diindikasi berlangsung mulai 1 – 2 pekan ke belakang per Rabu (8/9), karena harga ayam apkir terus berkurang.

 


“Serapan ayam apkir ini pasarnya yang tidak bisa cepat. Akibatnya karena kesulitan itu, juga membuat masalah baru. Sebab, kita sudah memaksa untuk menjual selama 1 – 2 pekan ini, tetapi masih tidak bisa mengeluarkan ayam,” cetus dia.

 


Selaras dengan Rofi, Awan juga menjelaskan bahwa peternak telah berusaha semaksimal mungkin dengan mengapkir ayamnya. Sebab harga sedang tidak bagus, dan supaya kebutuhan pakan per hari bisa tercukupi. Ada juga peternak yang menjual kandangnya untuk membayar hutang.

 


Ada pula wacana jagung impor lewat Bulog (Badan Urusan Logistik), namun ini juga menjadi dilema untuk para peternak karena prosedurnya yang rumit. “Kita harus deposit uang dulu, baru nanti bisa mengambil jagung ke sana. Padahal kondisi keuangan peternak itu sudah habis-habisan, bagaimana mau mengambil jagung Bulog? Jagung harus diambil sendiri, ini menjadi dilema buat peternak,” ungkap Awan secara gamblang.

 


Informasi lain diutarakan oleh Jenny, harga pakan sekarang Rp 6.500 per kg, sehingga HPP-nya 3,5 dikalikan Rp 6.500 sama dengan Rp 22.750 per kg. Jika sekarang ini harga telur Rp 15.000 per kg, maka peternak sudah bonyok. Sehingga, biaya tenaga kerja dan penyusutan tidak terbayar apalagi yang diperketat masih dapat dukungan dari perbankan, bunga bank juga tidak terbayar.

 


“Sekarang peternak mau tidak mau melakukan depopulasi, artinya ayam yang tua itu diapkir. Sebenarnya peternak ini kemarin ayam petelurnya bisa dipelihara sampai 100 pekan. Hanya sekarang pasti sudah tidak ada, usia 80 – 90 pekan pasti sudah dibuang,” urainya.

 


Menurut Jenny, bagi peternak yang kapasitas populasinya besar mungkin akan mengurangi ayam yang sudah tua untuk dijual. Sedangkan untuk peternak dengan skala kecil sudah tidak kuat. Pasti juga sudah banyak peternak ayam petelur yang gulung tikar, namun ia belum bisa memberi data seberapa banyak.

 

 


Skala kepemilikan ayam milik peternak ini dirasa Jenny sangat bervariasi. “Peternak dengan skala 500 ribu ekor banyak, ratusan ribu juga banyak, kemudian dari kandang yang tradisional sampai yang sudah closed house (kandang tertutup) pun ada. Jika bicara yang paling punya daya tahan paling sedikit pasti yang tradisional, apalagi mereka manajemennya masih manual, biasanya mereka akan menyerah lebih dulu,” nilainya.

 


Di samping itu, munculnya peternak dengan skala yang sudah besar ini harusnya dijaga. Ia meminta, di situasi ini masih ada harapan supaya peternak-peternak UMKM (usaha mikro kecil menengah) masih bisa dilindungi. Sebab, jika ini juga hancur, akhirnya nanti bisnis peternakan layer akan seperti broiler.

 


Selaras dengan lainnya, Suwardi menuturkan bahwa peternak layer saat ini merugi semua. Jumlah peternakan yang gulung tikar sekitar 10 %, serta sebanyak 20 % peternak rata-rata mengurangi populasi ayamnya. Sedangkan peternak yang bertahan diperkirakan sebanyak 90 % dengan pengurangan populasi.

 


Audiensi Peternak dengan Presiden
Menanggapi permasalahan yang sedang dihadapi oleh peternak layer saat ini, Presiden RI pun berkenan menerima para perwakilan asosiasi peternak unggas serta pengusaha pakan ternak untuk berdialog di Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu (15/9). Yudi yang berkesempatan mengikuti pertemuan itu menyatakan, presiden memberikan pengarahan bahwa ini juga tidak lepas dari pandemi Covid-19, yang mengubah kondisi dunia usaha dan tidak hanya peternakan yang terkena dampak.

 


“Saya selaku ketua PPN memberikan apresiasi penuh terhadap Presiden Jokowi, bahwa dengan PPKM baik yang level 3, 2, 1 yang berjilid-jilid ini, ternyata memang yang paling utama manusianya terselamatkan lebih dahulu. Itu artinya, uang bisa dicari jika kita selamat. Kemudian jika ini berdampak kepada industri peternakan, yang perlu saya garis bawahi, jangan terus mempermasalahkan Covid-19 dan PPKM, karena sebelumnya di industri peternakan sendiri sudah menyisakan dua masalah besar,” tegasnya.

 


Masalah yang pertama yaitu supply dan demand, terutama di broiler yang berat dan tidak segera menemukan penyelesaian dengan baik. Yudi mengaku, bahwa ia tidak ingin terjebak dengan pertentangan SE Dirjen PKH tentang cutting HE. Selaku penggiat perunggasan, khususnya layer, ini memang harus dicarikan solusinya.
 

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 265/Oktober 2021

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain