Jumat, 1 Oktober 2021

Konsumsi Susu dan Pencegahan Covid-19

Supaya tubuh sehat perlu makan makanan yang beragam dan seimbang. Terdapat tiga grup utama makanan yaitu yang berfungsi sebagai pembangun tubuh seperti daging, ikan, telur, susu dan produk olahannya. Makanan yang berfungsi sebagai pelindung adalah buah dan sayuran. Sementara makanan yang berfunsi sebagai pemberi energi adalah roti, beras, kentang, pasta, dan kacang-kacangan serta makanan dan minuman lain yang mengandung lemak, gula/energi.
 
 
Kalau berbicara secara spesifik tentang susu, maka adalah sekresi (cairan yang keluar) dari kelenjar ambing mamalia (hewan dan manusia), yang berfungsi sebagai sumber makanan (pangan) utama bagi anak mamalia tersebut terutama di awal-awal pertumbuhan/kehidupannya. Sedangkan ternak perah adalah hewan mamalia yang telah didomestikasi/dipelihara manusia dengan maksud untuk diambil produksi susunya.
 
 
Diantara ternak perah yang banyak dikenal antara lain sapi perah, kerbau perah, kambing perah,
juga unta, kuda bahkan rusa (di suku nomad Mongolia). Masing-masing ternak perah memiliki bangsa (breed) yang berbeda, misalnya untuk sapi perah dikenal bangsa Frisian Holstein (FH) yang paling banyak dipelihara di dunia; Jersey; Guernsey; Sahiwal; dan Ayrshire.
 
 
Anak-anak dan orang dewasa dianjurkan untuk tetap mengkonsumsi susu dan produk-produk olahannya. Minum susu layaknya seperti minum suplemen nutrisi cair, yang dibutuhkan dalam pola makan yang sehat beragam dan seimbang. Juga minum susu menjadi sumber asupan nutrisi yang berkualitas.
Para ahli nutrisi merekomendasikan untuk mengkonsumsi 2 – 3 porsi susu/produk susu per hari untuk mendapatan jumlah yang tepat dari kalsium atau kandungan nutrisi lainnya. Adapun satu porsi sama dengan 200 ml susu sama dengan satu botol sedang yogurt, atau sama dengan keju seukuran kotak korek api. 
 
 
Bukan Obat
Susu bukan obat atau vaksin. Susu adalah bahan pangan (makanan). Sebagaimana bahan pangan lainnya, susu merupakan sumber nutrisi bagi tubuh untuk menjaga proses metabolisme normal termasuk mencegah inflamasi juga meningkatkan imunitas tubuh.  
 
 
Sesuai data-data hasil riset, susu selain mengandung komponen makronutrien seperti protein, karbohidrat/gula dan lemak, juga mengandung mineral, vitamin, mikronutrien, dan dan konstituen minor lainnya. Protein susu, sebagaimana protein hewani lainnya, memiliki kandungan asam amino esensial dan nilai biologis/net protein utilization yang tinggi (90 %) dibanding sumber protein lainnya. Nilai biologis menunjukkan persentase protein yang benar-benar diserap dan digunakan oleh tubuh. 
 
 
Susu juga mengandung enzim lipase, katalase, fosfatase, dan peroksidase. Mengandung vitamin A dan D (larut dalam lemak) serta B1, B2 dan C (larut dalam air). Juga Vitamin A dan C (asam askorbat) yang dikenal sebagai antioksidan. Pada susu juga mengandung mineral termasuk zinc (seng) yang terkandung cukup banyak. Zinc dikenal dapat membantu mengatasi inflamasi dan peningkatan kekebalan tubuh. 
 
 
Selain itu, susu mengandung komponen bioaktif yang memiliki fungsi-fungsi metabolis tertentu. Dari lemak susu mengandung asam butirat (antikanker), asam lemak bercabang (anti kanker), asam linoleat terkonyugasi/CLA (anti tumor, meningkatkan imunitas tubuh). Sementara dari protein susu mengandung laktoferin (antimikroba, antikanker), colistrinin (mencegah kerusakan syaraf), peptida bioaktif (meningkatkan daya tahan/imunitas tubuh, menurunkan tekanan darah). Juga dari karbohidrat susu mengandung oligosakarida (antipatogen, prebiotik).
 
 
Komponen-komponen yang terkandung dalam susu tersebut selain sumber nutrisi juga banyak  yang memiliki karakteristik bio-fungsional atau bio-aktif. Bio-fungsional/bio-aktif artinya komponen/senyawa asal susu tersebut selain menjadi sumber nutrisi juga berkontribusi terhadap perbaikan fungsi fisiologis tubuh sehingga meningkatkan status kesehatan. Dalam artian, komponen-komponen bioaktif tersebut memiliki fungsi diantaranya sebagai antikanker, antipatogen, anti inflamasi, aktivitas antioksidan, meningkatkan imunitas tubuh, dan lain-lain.
 
 
Sebagaimana protein hewani lainnya, protein susu memiliki kelebihan dibanding protein nabati, yaitu kandungan asam amino esensial berupa asam amino yang tidak dapat diproduksi tubuh manusia,hanya dari asupan makanan; hanya disediakan oleh protein hewani. Juga nilai biologis/Net Protein Utilization (NPU) yang tinggi yaitu patokan seberapa banyak (persentase) protein dari makanan benar-benar diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh manusia.
 
 
Konsumsi susu dalam konteks pola makan sehat dan berimbang serta sesuai saran penyajian dapat membantu menjaga dan meningkatkan status kesehatan tubuh termasuk didalamnya meningkatkan imunitas tubuh terhadap serangan patogen dan virus. Oleh karena itu, konsumsi susu dapat membantu menjaga kondisi fisiologis tubuh dan meningkatkan imunitas tubuh untuk mencegah infeksi Covid-19.
 
 
 Aspek Pengolahan Susu
Susu diolah menjadi berbagai produk turunannya dengan berbagai teknik pengolahan seperti pemanasan, pendinginan/pembekuan dan fermentasi. Perlakuan dengan panas (heat treatment) adalah teknik utama yang digunakan dalam pengolahan susu.
 
 
Susu segar biasanya diolah dengan perlakuan panas yaitu pasteurisasi dan sterilisasi. Sterilisasi biasanya dilakukan dengan 2 cara yaitu in flow sterilization dikenal juga dengan istilah ultra high temperature (UHT) dan in bottle/container sterilization atau disingkat dengan sterilisasi saja. Sehingga produknya dikenal dengan susu pasteurisasi, susu steril dan susu UHT baik yang bahan bakunya 100 % susu segar (murni) atau dicampur dengan susu bubuk dan bahan-bahan lain.
 
 
Metode pemanasan baik dengan pasteurisasi ataupun sterilisasi, dari data hasil studi, tidak nyata menurunkan kandungan makronutrien susu seperti protein, karbohidrat, lemak. Demikian juga dengan kandungan vitamin dalam susu, proses pasteurisasi HTST (high temperature short time; 72-75 °C selama 15 detik) ataupun UHT hanya menurunkan sedikit kandungan pada beberapa vitamin, beberapa vitamin lainnya bahkan hampir tidak berkurang. Vitamin C (yang dapat berfungsi sebagai antioksidan) cukup banyak berkurang, diikuti vitamin B12, B6, B1. 3. Hal yang menarik adalah proses pemanasan justru dapat meningkatkan kapasitas antioksidan dalam susu disebabkan oleh beberapa mekanisme seperti protein unfolding dan pembentukan melanoidin.
 
 
Prinsip dasar dari kualitas nutrisi bahan pangan, termasuk susu, adalah semakin segar bahan pangan tersebut saat dikonsumsi, maka kandungan nutrisinya relatif masih lengkap. Dalam konteks susu, maka susu pasteurisasi masih memiliki kandungan gizi alami yang relatif masih lengkap dibandingkan susu UHT/steril.
 
 
Proses pengolahan memang akan mempengaruhi kandungan nutrisi, namun pengaruhnya tentu tergantung metode dan proses pengolahannya, ada yang sangat minim, ada juga yang cukup besar penurunannya. Komponen nutrisi yang berkurang akibat pengolahan dapat disubstitusi dengan proses fortifikasi/suplementasi. Beberapa aktivitas dari nutrien susu bahkan meningkat akibat pengolahan, seperti meningkatnya aktivitas antioksidan susu pasteurisasi atau sterilisasi/UHT dibanding susu segar (mentah). 
 
 
Dalam konteks kandungan nutrisinya, jenis susu steril tidak berbeda nyata dengan jenis susu sejenis (steril dan/atau UHT). Perbedaan yang ada biasanya pada bahan baku atau formulasi susu steril/UHT tersebut. Susu merek tertentu ada yang mencantumkan dalam kemasannya 100 % berbahan baku susu segar dan beberapa susu sejenis dari merek lainnya ada pula yang hanya menggunakan bahan tambahan lain selain susu segar misalnya susu bubuk skim, laktosa, dan penstabil.  
 
 
Kandungan nutrisi/nilai gizi, dari setiap produk olahan susu dicantumkan dalam kemasan produk tersebut. Hal itu merupakan kewajiban dari BPOM terkait peraturan iklan dan label pangan. Nilai gizi dengan jelas tertulis di kemasan termasuk persentase kandungan zat gizi tersebut dalam memenuhi AKG
(angka kecukupan gizi)/% AKG per sajian. 
 
 
Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia adalah suatu nilai yang menunjukkan kebutuhan rata-rata zat gizi tertentu yang harus dipenuhi setiap hari bagi hampir semua orang. Tentunya dengan karakteristik tertentu yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat aktivitas fisik, dan kondisi fisiologis, untuk hidup sehat (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi). 
 
 
Jika ada produk yang mengklaim misalnya mengandung antioksidan lebih tinggi, vitamin D lebih tinggi, zinc yang lebih tinggi dan sebagainya maka klaim tersebut harus tercantum dalam label produk karena itu bukti telah adanya persetujuan klaim tersebut dari BPOM sesuai Peraturan BPOM No. 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Jika tidak ada, maka klaim tersebut dapat dianggap penipuan. 
 
 
Dengan demikian, masyarakat tidak perlu panik. Pasalnya, semua jenis olahan susu cair baik itu pasteurisasi, steril dan/atau UHT dari berbagai merek yang beredar di pasaran memiliki kandungan nilai gizi yang hampir sama sehingga manfaat kesehatan yang didapatkan pun relatif sama. 
 
 
Membangun Kesadaran 
Kesadaran masyarakat/konsumen untuk mengkonsumsi susu (juga produk olahan susu lainnya) dalam rangka menjaga status kesehatan termasuk imunitas tubuhnya perlu didukung oleh berbagai pihak terkait. Bagi masyarakat/konsumen, teruskan mengkonsumsi susu dan protein hewani lainnya (daging, telur). Juga protein nabati (sayur, sereal dan buah) sebagai sumber serat yang tidak dimiliki susu, dalam rangka melakukan pola makan yang sehat beragam dan seimbang. 
Untuk para pelaku pasar dihimbau untuk tidak mengambil keuntungan sesaat dengan menaikkan harga jual produk susu diluar kewajaran dengan memanfaatkan kepanikan masyarakat disaat kondisi pandemic Covid-19 ini. Juga menghimbau agar pemerintah bersama-sama dengan pengusaha industri pangan dan peternak/petani untuk dapat menjamin pasokan produk-produk olahan pangan yang dapat membantu menjaga status kesehatan masyarakat agar ketersediaan dan keterjangkauan harga belinya terjaga bagi masyarakat secara umum. TROBOS
dituliskan kembali oleh yopi safari
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain