Jumat, 1 Oktober 2021

Teknologi Digitalisasi Pada Sapi Potong

Konsep digitalisasi mulai dari hulu hingga hilir bisnis sapi potong pada skala kecil hingga komersial akan lebih lebih kondusif, sehingga bermuara terhadap peningkatan swasembada protein hewani, peningkatan kesejahteraan petani peternak yang bercirikan pertanian maju, mandiri, dan modern
 
 
Pertanian di Indonesia akan mengalami banyak tantangan pada periode 2020-2024 yang terkait dengan perubahan penduduk dunia, baik dalam jumlah maupun komposisinya; perubahan iklim; kelangkaan sumber energi; ketahanan pangan; perubahan pasar global; dan adanya pandemi penyakit 
yang berpengaruh pada penyediaan bahan pangan sumber protein asal ternak.
 
 
Hal tersebut dipaparkan Dicky Pamungkas peneliti dari Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Jawa Timur Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian.
 
 
Ia menuturkan konsep pembangunan pertanian telah berubah dan bergerak mengikuti era industrialisasi 4.0 menuju tatanan pertanian yang maju, mandiri, modern. Smart farming merupakan metode penggunaan teknologi infromasi dan komunikasi dengan mengoleksi serta mengolah data yang berasal dari siklus siber isik manajemen peternakan menggunakan Internet of Things dan artiicial intelegence. Smart farming mencakup fenomena big data, yaitu volume data yang sangat besar dengan berbagai variasi yang dapat ditangkap, dianalisis, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.
 
 
Bangunan digitalisasi peternakan sendiri Teknologi Digitalisasi Pada Sapi Potong Konsep digitalisasi mulai dari hulu hingga hilir bisnis sapi potong pada skala kecil hingga komersial akan lebih lebih kondusif, sehingga bermuara terhadap peningkatan swasembada protein hewani, peningkatan kesejahteraan petani peternak yang bercirikan pertanian maju, mandiri, dan modern telah dimulai sejak 2012, yakni digitalisasi pendataan populasi 
ternak seperti sapi, kerbau, dan ayam secara online.
 
 
Program i-SIKHNAS sebagai aplikasi data base dalam pelaporan Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) dan Sikomandan (sapi 
dan kerbau komoditas andalan negeri) telah digunakan dalam menyajikan data secara real time. "Kurun waktu lima tahun terakhir, program aplikasi untuk sapi potong baik berasal dari luar negeri maupun dalam negeri telah diluncurkan, semuanya untuk mengawal dan menjalankan proses bisnis sapi potong menjadi efektif dan eisien,” terangnya.
 
 
Pemanfaatan IoT pada Sapi Potong
Dicky memaparkan Internet of Things(IoT) merupakan metode untuk menghubungkan dan bertukar data antara jaringan objek isik dengan perangkat lain seperti jaringan sensor nirkabel dan Wheater station yang ter-hubung ke jaringan, kamera dan smartphoneuntuk menyusun sejumlah besar data kinerja objek dan lingkungan mulai dari data deret waktu dari sensor, data spasial dari kamera hingga observasi manusia yang dikumpulkan 
dan direkam melalui aplikasi smartphone. 
 
 
Pemanfaatan IoT pada sapi potong diantaranya IoT rumen, cattle rustling, wearable sensordan cattle detection. Untuk IoT rumen, ia menuturkan mencakup bolus yang telah disematkan sensor pH dan suhu, terhubung dengan mikrokontroler, dan pemancar radio. Sistem ini mencakup gateway untuk pengumpulan data dari bolus yang dimasukkan kedalam rumen sapi, dihubungkan menggunakan Message Queuing Telemetry Transport (MQTT), server webdan database. “Prototipe ini memberikan sistem diagnosticstatus kesehatan sapi kepada pengguna, sehingga mereka dapat mengevaluasi status kesehatan sapi dan menerapkan tindakan lebih lanjut,” imbuh Dicky. 
 
 
Lanjutnya, IoT cattle rustlingmerupakan pemanfaatan IoT untuk mengatasi gangguan pencurian ternak dengan cara melakukan alisis akurat mengenai perilaku ternak. Prototipe yang diaplikasikan menggunakan teknologi Long Range (LoRa) yang memungkinkan untuk mengidentiikasi jika terjadi 
situasi abnormal pada kawanan sapi. LoRa menggunakan jaringan sensor nirkabel dimana hewan dianggap sebagai node bergerak.
 
 
Hewan dihubungkan dengan sensor dan router, kemudian diteruskan ke gateway. Gateway ini dapat ditempatkan pada lokasi ternak dan terhubung ke internet untuk mengirimkan data ke pusat pemrosesan. Gateway ini bisa langsung mengirimkan notiikasi ke peternak. Kemudian IoT wearable sensor yang merupakan alat berupa sensor yang ditempelkan kepada tubuh ternak untuk mendeteksi suhu tubuh, denyut nadi, dan juga lokasi ternak.
 
 
Wearabel sensor seperti sensor suhu dan sensor GPS dikombinasikan dengan teknologi Radio Frequency Identiication Module (RFID). Data dari wearable sensor dan RFID dapat disimpan dan diambil dari perangkat sehingga dapat memperoleh data dalam pengambilan keputusan untuk mengurangi biaya dan lama waktu usaha untuk mendapatkan produktivitas lebih tinggi.
 
 
LoT cattle detection yang merupakan teknik dalam mendeteksi ternak secara realtime menggunakan drone multirotor yang dikombinasikan dengan sistem ke cerdasan buatan. Misalnya penggunaan teknik kecerdasan buatan dalam analisis informasi yang ditangkap drone. Kamera yang dipasang di drone mengambil gambar yang kemudian dianalisis menggunakan Convolutional Neural Networks (CNNs) untuk mengidentiikasi objek yang ditangkap dalam gambar. 
 
 
Artiicial Intellegence di Sapi Potong
Artiicial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan adalah simulasi dari kecerdasan yang dimiliki oleh manusia yang dimodelkan didalam mesin dan diprogram agar bisa berpikir seperti halnya manusia. Dicky menjabarkan predicting greenhouse gas emissions menggunakan metode kecerdasan buatan dengan mengadaptasi neuro-fuzzy inference systems(ANFIS) dan artiicial neural network (ANN) untuk memodelkan dan memprediksi energi 
output dan greenhouse gas emissions dari penggemukan sapi. 
 
 
ANN merupakan paradigma pemrosesan informasi yang terinspirasi oleh sistem saraf biologis seperti otak. Elemen proses (neuron) yang sangat saling terhubung bekerjasama untuk memecahkan masalah tertentu. ANFIS adalah metodologi komputasi lunak dimana set data input-output yang diberikan diekspresikan dalam sistem inferensi fuzzy. Fuzzy ANFIS berbasis jaringan adaptif digunakan untuk menyelesaikan masalah terkait identiikasi parameter, Lameness scoring system (LSS), merupakan prosedur rutin untuk menyaring ternak yang mengalami lameness.
 
 
Lameness yang banyak terjadi yaitu laminitis, claw disease, digital dermatitis dan foot rot. Studi pembangunan LSS otomatis menggunakan pelat 
gaya dan kecerdasan buatan. Hasilnya, LSS otomatis dapat menilai kejadian lameness sebanding dengan metode penilaian ketimbangan subyektif yang bergantung pada pengamat. 
 
 
Balitbangtan Kementerian Pertanian melalui UPT lingkup Puslitbangnak telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi berbasis industri 4.0 dan bioteknologi, diantaranya ; 
1. Data Recording Program Pemuliaan dan Teknologi Reproduksi ; 2. Budidaya dan Pakan ; 3. Kesehatan ; 4. Startup start up bidang peternakan dan kesehatan hewan.Untuk data recording program pemuliaan dan teknologi reproduksi yaitu Sidik Peternakan yang merupakan aplikasi android untuk melakukan identiikasi dan recording ternak sapi. Identiikasi adalah proses/prosedur yang dilakukan untuk mengenali, mengidentiikasi karakter dan melacak ternak tertentu menggunakan suatu alat penanda khusus (marking). 
 
 
Recording adalah suatu proses kegiatan yang meliputi identiikasi, pencatatan silsilah, pencatatan data produksi dan reproduksi, serta pencatatan manajemen pemeliharaan dan kesehatan ternak dalam suatu usaha ternak. Lalu Tes Kit Kebuntingan yang merupakan tes kit kebuntingan dini pada sapi dengan desain mirip test pack atau pendeteksi kehamilan pada manusia. Tes kit kebunting anini juga dapat di gunakan lebih awal, yakni 15 hari setelah dikawinkan.
 
 
Keunggulan yang dimiliki yaitu mempersingkat evaluasi terjadinya kegagalan kebuntingan yang ber arti juga mempersingkat waktu kosong.  Kit ini juga tidak me nimbulkan trauma pada sapi, dan hanya perlu waktu kurang dari 1 jam peternak sudah bisa mengetahui hasilnya berdasarkan warna yang muncul pada alat.
 
 
Foramsi yang merupakan alat per hitungan formulasi pakan untuk sapi potong. Peternak dapat melakukan formulasi pakan menggunakan Aplikasi MS Excel dengan tahapan meng-update nilai proksimat bahan pakan dan harga bahan pakan, kemudian menambahkan batasan nutrisi ransum yang 
akan dibuat berdasarkan status isiologis ternak. Peternak memilih bahan pakan yang digunakan, prosentase bahan pakan yang diinginkan, selanjutnya akan muncul harga ransum dan perkiraan kandungan nutrientnya (protein kasar, lemak kasar, serat kasar, abu, total digestible nutrient, kalsium dan fosfor. 
 
 
Smart Feed Agrinak (SFA) yang merupakan aplikasi yang dikembangkan Balitnak yang digunakan untuk menyusun formulasi pakan ayam KUB (Kampung Unggul Balitbangtan) sesuai dengan umur ayam KUB. Selain itu juga dapat mempertimbangkan kadar kebutuhan nutrisi yang tepat untuk ternak sesuai dengan kondisi serta umur ayam. 
 
 
Terakhir, SiBOBA yang merupakan sistem informasi pendugaan bobot badan sapi potong yang sedang dikembangkan oleh Loka Penelitian Sapi Potong. Aplikasi ini menggunakan dasar database linear tubuh sapi potong untuk menduga bobot badan sapi potong lokal yang dikombinasikan dengan internet of things pada android dalam proses otomatisasinya. 
 
 
Sementara untuk kesehatannya adalah TAKESI yang merupakan aplikasi informasi kesehatan sapi berbasis android yang di kembangkan oleh Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet). TAKESI memiliki empat menu, yaitu penyakit dan gangguan reproduksi pada sapi indukan, penyakit dan gangguan pada anak sapi, manajemen kesehatan sapi dan kontak ahli.
 
 
Para wirausaha muda berlomba untuk mengamplikasikan teknologi ke bisnis peter-nakan sebagai salah solusi mengatasi kendala usaha. Saat ini tercatat tiga perusahaan rintisan bidang peternakan yang hadir dan mencuri perhatian dengan inovasi teknologi itu adalah Ternaknesia, Karapan, dan SmarTernak.
 
 
Ternaknesia adalah platform digital untuk peternak dan investor peternakan yang menghubungkan akses permodalan, pemasaran, serta manajemen peternak. Karapan, aplikasi penjualan produk peternakan, sedikitnya telah menggandeng sekitar 200 peternak sapi dari 33 kelompok peternak untuk 
memakai platform jual-beli ini. Harapannya adalah untuk memperbaiki tata niaga dan kualitas sapi potong menggunakan teknologi.
 
 
SMARTernak adalah platform  end to end  yang mencakup alat  wearable,  base station,  cloud,  web dashboard  dan aplikasi  mobile. Perangkat wearable tersebut dipasangkan pada ternak untuk mengumpulkan data parameter tubuh dan aktiitas ternak, lingkungan di sekitar ternak, serta melacak lokasi dan pergerakan ternak. 
 
 
Data tersebut kemudian dipertukarkan dengan  SMARTernak cloud melalui  base station yang dapat mencakup hingga 1.000 perangkat dengan cakupan radius area 5 – 10 km. “Digitalisasi peternakan bukan suatu konsep yang dipaksakan terhadap suatu keadaan, melainkan sebagai respon terhadap perkembangan zaman. Konsep digitalisasi mulai dari hulu hingga hilir bisnis sapi potong pada skala kecil hingga komersial akan lebih 
lebih kondusif, hingga bermuara terhadap peningkatan swasembada protein hewani, peningkatan kesejahteraan petani peternak yang bercirikan pertanian maju, mandiri, dan modern,” tutup Dicky. lTROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain