Senin, 1 Nopember 2021

Rambu-Rambu Importasi Komoditas Sapi

Rambu-Rambu Importasi Komoditas Sapi

Foto: 


Perlu mitigasi risiko, penerapan persyaratan kesehatan hewan yang ketat, dan keamanan yang maksimum jika akan melakukan importasi dari negara-negara yang belum bebas PMK
 
 
Pemerintah mengupayakan impor sapi hidup/daging sapi dari beberapa negara untuk menghindari ketergantungan pasokan pada satu negara. Hal itu penting untuk memperoleh keseimbangan antara kecukupan pasokan sapi dengan stabilisasi harga di tanah air. 
 
 
Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Johni Martha mengatakan, adanya pandemi Covid-19 berdampak terhadap mekanisme logistik dan pengangkutan. Akibatnya, negara pengekspor sapi melakukan pembatasan seperti yang dilakukan oleh Australia.
 
 
Kendati demikian, ia mengungkapkan, Australia secara perhitungan, baik faktor kesehatan maupun faktor ekonomi sangat memenuhi persyaratan sebagai salah satu negara pemasok sapi. Berkaitan dengan faktor kesehatan, Australia telah dinyatakan bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). “Sedangkan faktor ekonomis secara perhitungan bisnis sangat menguntungkan karena jarak antara Australia dan Indonesia bisa dikatakan cukup dekat. Kondisi tersebut, lantas menyebabkan Indonesia sangat bergantung terhadap populasi sapi yang ada di Australia. Di sisi lain, Australia mengalami depopulasi setiap 3 tahun dan diperparah dengan adanya bencana seperti kebakaran,” ungkapnya dalam webinar online beberapa waktu yang lalu.
 
 
Dia melanjutkan, ketergantungan terhadap pasokan sapi dari Australia ikut dirasakan negara tetangga seperti Malaysia. Dampaknya, terjadi perebutan dalam memenuhi kebutuhan pasokan sapi dari Australia. Kondisi tersebut yang menimbulkan gejolak harga daging sapi yang merugikan konsumen di tanah air. “Ini yang sebetulnya harus dicarikan jalan keluar dan dipecahkan untuk mencari sumber pasokan sapi dari negara lain tetapi sesuai aturan yang telah ditentukan,” imbuhnya.
 
 
Ada beberapa opsi sebagai negara substitusi semisal negara di benua Amerika seperti Brazil, Chile, Kolombia, dan Meksiko. “Kami telah berbicara secara intens dengan perwakilan kedutaan dan asosiasi peternak dari negara-negara tersebut yang berada di Indonesia. Hasil komunikasi mengidentifikasikan bahwa ada negara yang potensial menjadi alternatif pemasok daging sapi apalagi telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Indonesia yaitu Chile dan Kolombia,” jelasnya.
 
 
Kendati demikian, Chile belum terdaftar baik untuk negara maupun unit sebagai pemasok daging maupun sapi untuk Indonesia.“Saat ini masih mengurusi pendaftaran negara ke Kementerian Pertanian dan pendaftaran terkait sertifikasi halal ke BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) untuk pemasukan daging. Terlepas dari itu semua, Chile merupakan negara yang kompetitif berdasarkan pertimbangan harga dan status bebas PMK,” ungkapnya. 
 
 
Dia menegaskan, langkah ini dilakukan sebagai political will dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan yaitu mencari alternatif sumber pemasok sapi dan daging di luar Australia. Meskipun kendala terbesarnya jika mengimpor dari benua Amerika ialah jarak yang lumayan jauh dari Indonesia sehingga mengeskalasi harga/biaya transportasi serta logistiknya. Dikhawatirkan nilai keekonomisannya tidak bisa menyaingi sapi/daging dari Australia. 
 
 
“Sehingga dalam kondisi darurat, kami membolehkan importasi berupa daging beku sebagai pembanding atau alternatif dengan melakukan importasi daging kerbau dari India yang harganya di bawah harga daging sapi. Ini yang kami upayakan untuk menjaga pasokan daging merah sekaligus mengamankan kepentingan nasional di perdagangan internasioanl khususnya terhadap fluktuasi daging sapi. Sehingga tidak berdampak terhadap neraca perdagangan Indonesia secaara keseluruhan,” tuturnya.
 
 
Sedangkan Brazil yang merupakan produsen sapi terbesar di dunia dengan populasi sapi sebesar 252,7 juta ekor namun secara karantina kesehatan belum sepenuhnya bebas PMK. Brazil sebagian besar wilayahnya berstatus bebas PMK dengan vaksinasi tetapi ada satu wilayah yang benar-benar bebas PMK. “Inilah yang menjadi pertimbangan Kementerian Pertanian dalam melakukan penelitian dan asesmen terkait dengan kemungkinan untuk melakukan importasi dari negara Brazil pada wilayah-wilayah tertentu yang dinyatakan bebas PMK. Walhasil diperlukan kajian yang lebih komprehensif agar PMK tidak menjadi ancaman bagi Indonesia,” ujarnya.
 
 
Impor dari Brazil
Brazil yang dikenal sebagai negara dengan populasi sapi terbesar ke-2 di dunia setelah India bahkan populasi sapi Brazil terus tumbuh selama beberapa tahun terakhir dengan tingkat pertumbuhan 3 % per tahun. Menghantarkan Brazil sebagai negara yang berpotensi menjadi eksportir sapi hidup atau daging sapi ke beberapa negara di belahan dunia seperti China, Timur Tengah, Hong Kong, Uni Eropa dan lainnya.
 
 
 Dengan kata lain, peningkatan permintaan daging sapi di dunia telah merangsang meningkatnya produksi dan produktivitas ternak sapi di Brazil. Khususnya China dan Hong Kong merupakan dua negara teratas yang mendominasi impor daging sapi yaitu sebesar 46 % dari total pengapalan daging sapi pada 2020 dari Brazil. “Setelah China mencabut pelarangan mengenai kasus bovine spongiform encephalopathy (BSE) pada 2012. China menjadi negara importir sapi terbesar dari Brazil,” terang Tri Satya Putri Naipospos Pakar Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan Karantina Hewan.  
 
 
Di sisi lain, wanita yang akrab disapa Tata itu mengutarakan bahwa Brazil juga berpotensi membuat terobosan ke Timur Tengah dan pasar yang mayoritas Muslim lainnya. Pasalnya, Brazil merupakan produsen daging halal terbesar di dunia. “Bahkan Brazil berupaya meningkatkan ekspor daging sapinya ke Afrika Selatan, Iran, Irak, Myanmar, Singapura, dan Indonesia yang merupakan negara dengan populasi umat Muslim terbesar di dunia,” katanya. 
 
 
Terhambat PMK
Sementara itu, sebagai ikhtiar dan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas harga, memenuhi ketersediaan pasokan saat perayaan HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional), meningkatkan ketahanan pangan nasional serta upaya membuka kesempatan untuk mengkaji sejauh mana kualitas produk daging sapi dari Brazil. Pemerintah Indonesia telah mengizinkan impor daging sapi dari Brazil secara bertahap sebesar 420 ton beberapa waktu yang lalu.  
 
 
Proses menuju keputusan tersebut sudah lama dibahas yaitu sejak 2018. Sedangkan, impor sapi hidup, pemerintah Indonesia masih melakukan penggodokan secara matang dengan melihat beberapa kelayakan. Pasalnya, impor sapi hidup lebih berisiko menularkan PMK apalagi Brazil masih dihantui penyakit tersebut. “Artinya, Brazil masih mengalami masalah hambatan teknis (technical barriers) terhadap produksi dan perdagangan ternak yaitu penyakit hewan menular seperti PMK,” terang Tata. 
 
 
 
Selengkapnya Baca Di Majalah TROBOS Livestock Edisi 266/November 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain