Senin, 1 Nopember 2021

Repopulasi di Australia vs Pasokan ke Indonesia

Repopulasi di Australia vs Pasokan ke Indonesia

Foto: Istimewa


Pelaku usaha persapian di Indonesia dan Australia terus berjuang untuk tetap mempertahankan profitabilitas dalam menghadapi pasokan sapi yang terbatas
 
 
Terletak di wilayah yang beriklim tropis, tak jarang suhu lingkungan di Australia cukup ekstrem, sehingga kerap menyebabkan kebakaran hutan. Hal tersebut sontak berimbas pada jumlah ternak di sana, sebab dilaporkan hampir 100.000 ekor mati karena terbakar dan 9 persennya adalah dari komoditas sapi. Selain itu, ketergantungan Indonesia terhadap importasi sapi hidup maupun daging sapi dari Australia, berimplikasi pada populasi atau jumlah sapi di sana.
 
 
Deputi Bidang Kerjasama Penanaman BKPM (Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal), Riyatno dalam diskusi mengenai Laporan Industri Daging Merah dan Sapi di Indonesia dan Australia 2020, serta Proyeksinya di 2021 mengatakan, hubungan dagang antara Indonesia dengan Australia yang telah berlangsung lama. Salah satunya yakni berfokus pada supply (pasokan) daging sapi untuk kebutuhan dalam negeri. Sekitar 36 % dari kebutuhan daging sapi Indonesia, dipenuhi dari Australia dalam bentuk daging sapi dan sapi hidup.
 
 
“Rantai pasok yang signifikan ini sejak pertengahan 2020 mengalami sejumlah kendala, diantaranya karena berkurangnya ketersediaan sapi hidup di Australia. Situasi supply yang demikian mengakibatkan penurunan impor sapi hidup dari Australia sekitar 30 % pada 2020, yang menimbulkan kekhawatiran terkait dengan kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di Indonesia. Kami juga mencatat, bahwa para pengusaha feedlot, RPH (Rumah Potong Hewan) di Indonesia dan Australia telah berupaya sedemikian rupa untuk dapat mempertahankan bisnisnya,” urai dia.
 
 
Akses Impor Negara Lain
Kelangkaan pasokan sapi di Australia dan tingginya harga daging sapi secara global merupakan situasi yang berada di luar kendali dari kedua pemerintah. Dalam mengatasi tantangan yang dihadapi industri sapi dalam negeri, pemerintah Indonesia tetap berupaya memenuhi kebutuhan daging sapi nasional dengan meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri serta memperluas akses impor daging dari negara lain. “Supply daging sapi dari Brazil dan impor daging kerbau dari India sebagai substitusi. Kendati demikian, Indonesia tetap mengharapkan supply serta harga daging dan sapi hidup dari Australia akan kembali stabil dalam waktu dekat. Sehingga, perdagangan bilateral kembali meningkat dalam waktu yang tidak terlalu lama,” harap Riyatno.
 
 
Co¬-Chair Partnership RMCP, Chris Tinning pun mengharapkan harga sapi bakalan Australia akan menurun pada semester kedua 2021, seiring dengan mulai pulihnya tingkat pertumbuhan populasi ternak Australia. Saat ini, dengan kondisi cuaca dan lingkungan yang lebih mendukung, para peternak Australia tengah melakukan repopulasi ternak. 
 
 
Hal tersebut meningkatkan kompetisi antar peternak, pemasok, ekspotir dan agen lainnya untuk mendapatkan sapi Australia dari sumber populasi ternak yang jumlahnya sedang terbatas pasca kekeringan dan banjir. Ini mendorong kenaikan harga ekspor sapi bakalan. 
 
 
“Kami memahami bahwa harga yang tinggi dari Australia ini menimbulkan tantangan bagi industri daging merah dan sapi Indonesia di tengah sulitnya masa pandemi Covid-19 (coronavirus disease 2019). Namun, kami memperkirakan harga akan berubah pada semester kedua 2021, seiring repopulasi dan kembali stabilnya jumlah kawanan ternak,” ujar Chris.
 
 
Dalam kesempatan yang sama Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud menyebutkan sapi adalah salah satu komoditas utama untuk pangan di Indonesia. Berdasarkan neraca yang ada, kebutuhan daging merah, sapi atau kerbau pada 2021 agak tersendat, karena beberapa hal utamanya pasokan, sebab dari berbagai negara memang lebih terbatas. 
 
 
Indonesia sampai saat ini terpantau masih defisit, dengan tingkat konsumsi nasional yang rendah yaitu kurang dari 3 kilogram (kg) per kapita per tahun. “Ini juga menjadi strategi pemerintah, supaya konsumsi daging kita ini bisa meningkat lebih baik. Pemenuhan kebutuhan daging masyarakat dilakukan dengan importasi berupa sapi bakalan maupun dalam bentuk daging beku,” katanya.
 
 
Salah satu kendala yang dialami Indonesia guna memenuhi kebutuhan daging sapi pada 2020 dan 2021, ialah tingginya harga daging sapi dan harga sapi di Australia. Menurut Musdhalifah, Australia sebagai negara pemasok utama, juga menjadi pertimbangan penting bahwa Indonesia harus mencari sumber daging dari negara-negara lainnya, antara lain Meksiko dan Spanyol. Kendalanya lainnya adalah jarak tempuh serta unit usaha yang dapat memasok Indonesia. 
 
 
Strategi Pemenuhan Daging
Musdhalifah menerangkan, ada beberapa startegi untuk memenuhi pasokan daging sapi dan kerbau guna menjaga stabilisasi harga dalam jangka pendek, yaitu pemerintah melakukan mobilisasi sapi lokal siap potong atau karkas dingin dari daerah sentra ke sentra konsumen. Pemerintah pun mendorong percepatan realisasi impor daging oleh BUMN (Badan Usaha Milik Negara) maupun swasta, serta menuntaskan animal health protocol dengan beberapa negara alternatif sumber pasokan sapi dan daging sapi.
 
 
“Untuk jangka menengah, tentu saja kita mendorong agar bisa melakukan peningkatan populasi ternak dalam negeri, supaya secara bertahap pemerintah Indonesia bisa menyuplai kebutuhan dagingnya dari dalam negeri. Kemudian mitigasi penyediaan pangan protein, agar tersedia kebutuhan cadangan pangan nasional berbasis protein hewani dengan mengembangkan tata niaga rantai dingin. Selanjutnya, edukasi budaya konsumsi daging fresh meat menjadi frozen meat kepada masyarakat,” urai Musdhalifah.
 
 
Ia pun menyadari, pemerintah belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan daging sapi nasional dari dalam negeri saja, sehingga sebagian dicukupi melalui impor. Tentunya, pemerintah juga tidak dapat mengacuhkan keterbatasan pasokan, sebab harga akan naik. 
 
 
“Jika harga naik, diperkirakan daya beli masyarakat akan daging merah pun akan terbatas. Ini menjadi dilema, pasalnya pemerintah mendorong supaya konsumsi protein masyarakat bisa terus meningkat untuk menjaga keseimbangan asupan gizi secara merata,” papar dia. 
 
 
Pangkas Inefisiensi 
Perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dengan Australia diketahui mulai berlaku pada Juli 2020. Dengan begitu, tentu ada pengurangan tarif tertentu, baik untuk daging merah maupun untuk sapi jantan hidup. Hal tersebut diungkapkan oleh Agriculture Counsellor Kedutaan Besar Australia di Jakarta, George Hughes, yang mana dalam alur daging merah dan ternak hidup sebenarnya berkurang dari 5 % menjadi 2,5 % dan dengan penghapusan tarif setelah lima tahun.
“Dalam 575.000 ekor pada tahun pertama dan ketentuan yang sebenarnya, tumbuh sebesar 4 % dari tahun ke tahun. Sebenarnya sudah ada beberapa elemen yang telah terbentuk, yang pasti akan membantu mengurangi tekanan harga saat sapi masuk ke Indonesia. Pemerintah Australia juga bekerja sangat erat dengan AS (Amerika Serikat) dalam mengatasi kemacetan untuk eksportir pertanian di tahun anggaran ini, yang merupakan investasi 328 juta dolar,” ujar George.
 
 
Ia mengaku, yang sebenarnya ingin dilakukan adalah memotong inefisiensi dari sistem yang ada, sehingga Australia saat ini sedang mencari cara untuk memindahkan proses manual ke platform digital. Hal ini juga untuk mengidentifikasi amandemen dari peraturan, di mana Australia dapat memotong administrasi yang tidak perlu atau dapat memotong birokrasi. 
 
 
Australia akan fokus pada industri daging merah guna memotong segala jenis inefisiensi, yang mungkin akan memperlambat perdagangan atau memiliki dampak biaya tambahan. “Kita harus menyadari, bahwa hubungan kita bukan hanya tentang perdagangan. Kami memiliki investasi jangka panjang, baik dari perspektif pemerintah maupun dari perspektif industri untuk mengidentifikasi kembali efisiensi tersebut dalam rantai pasok,” cetus dia.
 
 
Selengkapnya Baca Di Majalah TROBOS Livestock Edisi 266/November 2021
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain