Senin, 1 Nopember 2021

Dennie Heriyadi: Domba Garut Perekat Budaya dan Bahasa

Dennie Heriyadi: Domba Garut Perekat Budaya dan Bahasa

Foto: 


Keragaman wilayah di muka bumi menyebabkan begitu banyak rumpun domba yang tersebar di seluruh dunia. Sampai saat ini tercatat 245 rumpun yang telah diidentifikasi dengan cukup baik sehingga dari sisi performa fisik berupa sifat-sifat kualitatif maupun kuantitatif dapat dibedakan antara satu rumpun dengan rumpun lainnya.

 


Domba garut adalah rumpun domba asli dari Jawa Barat dengan ciri khas memiliki kombinasi antara kuping rumpung (< 4 cm) atau ngadaun hiris (4-8 cm) dengan ekor ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong. Ciri ini tidak terdapat pada rumpun domba mana pun di seluruh muka bumi. Hanya konon kuping sejenis ini terdapat pula pada salah satu rumpun domba di sekitar Turki, Spanyol dan China namun tidak berkombinasi dengan ekor yang berbentuk segitiga.

 


Asal usul domba garut diyakini berasal dari Kabupaten Garut sebagai sumber daya genetik ternak (SDGT) asli dari Jawa Barat yaitu dari daerah Cibuluh, Cikandang, dan Cikeris di kecamatan Cikajang serta kecamatan Wanaraja. Daerah ini sejak dulu dikenal sebagai daerah yang banyak menghasilkan domba-domba unggulan.

 


Sebagai gambaran, rumpun domba garut galur Cibuluh memiliki ciri yang sangat spesifik yaitu kombinasi antara bentuk kuping yang rumpung atau ngadaun hiris dengan bentuk ekor segitiga yang lebar pada pangkal ekor dan mengecil ke arah ujung (ngabuntut beurit atau ngabuntut bagong) dengan dominasi warna hitam pada bagian muka dan badan termasuk dominan hitam pada tubuh secara keseluruhan. Sedangkan domba garut galur wanaraja memiliki ciri spesifik yang sama dengan domba garut galur cibuluh (Kecamatan Cikajang). Namun dengan dominasi warna bulu pada bagian muka dan badan yang berwarna putih.

 


Ciri lain yang membedakan domba garut galur Cibuluh atau domba garut asal Cikajang adalah dari segi bentuk tubuh. Domba garut galur Cibuluh memiliki postur tubuh yang lebih besar ke arah depan (ngabaji) dan secara fungsional lebih berkembang ke arah domba tipe tangkas, serta bulu dominan hitam (>50 %) pada seluruh tubuh meliputi muka dan badan. Sedangkan domba garut galur Wanaraja memiliki tinggi pundah yang lebih pendek dibandingkan domba garut galur cibuluh, postur tubuh bulat memanjang dengan perdagingan yang besar poada bagian paha belakang, dan secara fungsional lebih berkembang ke arah domba tipe pedaging.

 


Domba dengan warna putih dominan (>50 %) pada badan dan hitam pada muka tidak dapat digolongkan sebagai domba Cibuluh. Sebaliknya, jika domba dengan bulu warna hitam dominan (>50 %) pada bagian badan dan putih pada bagian muka tidak dapat digolongkan sebagai domba garut galur Cibuluh atau Wanaraja.

 


Mengakar di Jawa Barat
Domba garut merupakan sumber daya genetik lokal asli Jawa Barat yang telah diakui keunggulannya. Domba garut menjadi sumber daya genetik ternak terbaik karena memiliki sifat prolifik serta kualitas daging dan kulitnya yang khas.

 


Selain itu, domba garut memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh domba rumpun yang lain khususnya dari sisi agresivitas. Pada saat ketemu dengan jantan yang lain akan keluar sifat agresifnya.

 


Di masa lalu, keunggulan domba garut ini pun bahkan tercatatkan dalam relief domba di situs Candi Sewu di kompleks Candi Prambanan. Pada situs di candi tersebut terlihat dua ekor domba yang saling berhadapan di bawah pohon kalpataru. Domba tersebut diduga sebagai salah satu ruminansia kecil terbaik pada masanya yang dijadikan salah satu hewan persembahan pilihan.

 


Dalam situs domba tersebut memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan ciri khas domba garut. Artinya, pada situs di abad ke-8 ini menunjukkan domba garut dipandang sebagai domba terbaik dari domba-domba yang ada pada masa lalu karena tidak mungkin domba yang berkuaitas rendah dijadikan hewan persembahan yang diabadikan dalam bentuk relief pada sebuah candi.

 


Eksistensi domba garut di Jawa Barat ini sudah mengakar dan berlangsung turun-temurun. Keberadaan organisasi HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia) yang menyebar di Jawa Barat bisa menjadi tolak ukur.

 


Dalam elemen organisasi HPDKI pun muncul berbagai generasi mulai dari generasi baby boomer (kelompok demografi yang lahir dari 1946 sampai 1964) sampai generasi alpha (kelompok demografi yang lahir awal 2010an sampai pertengahan 2020an) atau lazim dikenal sebagai generasi milenial. Generasi alpha ini sudah dilibatkan memelihara bahkan memang menyenangi domba garut.

 


Keunggulan domba garut dapat dilihat dari performa luarnya. Kalau domba garut jantan yang bertanduk besar tampak gagah sehingga menjadi daya tarik utama untuk bisa disenangi oleh berbagai kalangan. Jika dipelihara dengan baik dan disayang, domba garut jantan ini juga bisa menjadi penurut dan menunjukkan kasih sayang balik.

 


Bagi masyarakat Jawa Barat, domba garut sebagai komoditas ternak yang sangat prestisius yang dimulai dari sejarah domba garut sebagai domba tangkas. Pasalnya, domba rumpun lain tidak pernah ditangkaskan tetapi kalau domba garut ditangkaskan dan menarik para inohong-inohong atau tokoh yang terpandang di zaman dulu untuk memelihara dan menangkaskannya.

 


Meskipun sebenarnya, ketangkasan domba garut ini dipopulerkan oleh bocah angon hingga tertular ke pemiliknya. Ketangkasan domba menjadi sebuah keasikan tersendiri sehingga menjadi daya tarik masyarakat luas hingga sekarang.
 


SNI Domba Garut
Pemerintah pun telah menetapkan domba garut sebagai rumpun sumber daya genetik ternak lokal Indonesia. Bahkan domba garut telah memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia) tersendiri yang dibuat di 2004 dan direvisi di 2015.

 


Adanya istilah-istilah bahasa Sunda yang berkaitan dengan domba garut melebur ke bahasa Indonesia diawali ketika dibuatnya SNI domba garut. Dalam SNI itu harus dicantumkan uraian-uraian atau semacam portofolio terkait ternak tersebut mulai dari istilah penamaan, termasuk berbagai hal yang menjadi standar domba garut terutama sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif.

 


Istilah penamaan itu muncul karena banyak diusung dari istilah-istilah kualitatif pada domba garut yang memang spesifik dan belum ada dalam bahasa Indonesia. Misalnya istilah rumpung, ngadaun hiris, ngabuntut beurit, dan ngabuntut bagong. Juga istilah yang dipakai untuk bentuk tanduk seperti gayor, ngabendo, golong tambang, dan sebagainya. Istilah-istilah itu coba diangkat karena padanan dalam bahasa Indonesia belum ada yang akhirnya tertera di dalam naskah SNI domba garut. Sehingga kalau istilah-istilah itu sudah menjadi standar nasional tentu saja otomatis menjadi bahasa Indonesia.

 


Adapun makna yang tersirat dari masuknya istilah-istilah di domba garut melebur ke bahasa Indonesia menunjukkan bahwa ada hal-hal yang memang muncul begitu saja menjadi suatu budaya di suatu wilayah. Mereka menyebutkan suatu hal dengan cara mereka sendiri, dengan bahasa mereka sendiri, atau dengan kesesuaian di daerahnya sendiri. Hal itu hanya terkomunikasikan di antara mereka yang sedaerah, sehobi, dan sebudaya. Supaya pemahaman itu tidak hanya sektoral tetapi menjadi lebih luas dibuatlah standar supaya istilah atau budaya yang tumbuh di masyarakat ini lebih dikenal luas baik di lingkup nasional maupun global.



Dilestarikan dan Dikembangkan
Domba garut telah menyatukan unsur-unsur sosial, ekonomi, dan budaya. Untuk itu, terdapat 2 kata kunci untuk komoditas domba garut ini yaitu dilestarikan dan dikembangkan untuk mendapatkan manfaat ekonomi yang optimum, agar dapat mendongkrak dan menyejahterakan kehidupan peternak.
Dilestarikan artinya agar sumber daya genetik unggul yang dimiliki Indonesia ini tidak punah karena daerah atau bangsa lain tidak memiliki domba garut seperti ini. Juga domba garut ini harus dikembangkan agar petani/peternak mendapatkan keuntungan secara ekonomis dan sosial. Apalagi domba garut merupakan rumput ternak yang tidak memiliki nilai pasti. Kalau dilihat dari sisi harga, domba garut jantan ini bisa di kisaran Rp 3 – 150 juta atau bahkan lebih. Kalau harganya sudah ratusan juta rupiah yang memilikinya pasti bukan orang-orang biasa. Pasti orang luar biasa yang memiliki status sosial yang bagus di masyarakat sehingga yang memiliki dan memelihara domba garut itu berbeda dibandingkan dengan masyarakat peternak biasa.

 


    Agar tetap lestari dan berkembang harus dibuat wilayah-wilayah sumber bibit domba garut di berbagai daerah yang cocok dan bisa untuk dikembangkan. Sebagai contoh, sekitar 6 tahun yang lalu pemerintah sudah membuat daerah sumber bibit di Desa Dano, Kecamatan Leles Kabupaten Garut. Di situ dipelihara domba garut yang berkualitas baik oleh kelompok masyarakat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun menyiapkan UPTD Margawati sebagai stasiun pembibitan domba garut.

 


Sebagai pengaya budaya, perekat lintas generasi, dan yang tidak kalah menarik adalah terjadi pengayaan khasanah bahasa Indonesia dari bahasa Sunda melalui domba garut ini menunjukkan bahwa domba garut sebagai aset penting Jawa Barat. Untuk itu, sinergitas antar stakeholder domba garut perlu ditingkatkan agar harapan pelestarian dan pengembangan komoditas kebanggaan Jawa Barat ini bisa terwujud. TROBOS

dituliskan kembali oleh yopi safari

 



Anggota Dewan Pakar DPP HPDKI
Anggota Komisi Bibit Nasional, Komisi Wilayah Sumber Bibit
Anggota Komisi LSPro, Komisi Penetapan Rumpun/Galur Ternak
Pakar Domba & Kambing Fapet Unpad



 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain