Kamis, 18 Nopember 2021

Kasus Flu Burung Meningkat di Eropa, Indonesia Waspada

Kasus Flu Burung Meningkat di Eropa, Indonesia Waspada

Foto: ist/dok.Empress-FAO
Grafik perkembangan laporan kasus avian influenza di Eropa.

Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Pemerintah telah menyatakan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman masuknya penyakit highly pathogenic avian influenza (HPAI, flu burung) subtipe H5Nx berikut suptipe lainnya dan African Swine Fever.

 

Hal itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) No. sa113/Px,32G/F/11/2021 yang dikeluarkan pada 05 November 2021.

 

Surat itu menyebutkan bahwa Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE WAHIS) telah menerima beberapa laporan kasus terkonfirmasi HPAI subtype H5Nx (HPAI) pada unggas di Jerman, Cekoslovakia, Finlandia, Denmark serta Rusia dengan kecenderungan terjadi peningkatan kasus.

 

Disebutkan pula FAO juga telah melaporkan ada potensi peningkatan dan penyebaran penyakit ke wilayah Eropa, Asia dan Afrika berkaitan dengan musim migrasi burung selama musim dingin 2021-2022. Sehingga direkomendasikan untuk melakukan tindakan antisipasi pencegahan masuk dan menyebarnya HPAI H5Nx ke wilayah negara Republik Indonesia. Bahkan diperlukan pula rencana kontingensi sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap ancaman virus Al subtype H5Nx itu.

 

Pembagian Tugas

Sehubungan dengan hal tersebut, SE itu telah secara terperinci memerintahkan / menugaskan kepada pejabat otoritas veteriner kesehatan hewan dan Direktur Kesehatan Hewan, untuk melakukan analisis risiko pemasukan unggas dan produknya terhadap risiko terbawanya virus Al dari negara yang terjadi wabah. Mereka juga diminta memantau dan melaporkan update dugaan infeksi virus Al (H5Nx dan subtipe lainnya) untuk dilaporkan melalui sistem informasi kesehatan hewan nasional (iSIKHNAS).

 

Selanjutnya, digelar kembali pelatihan diagnosa virus Al (H5Nx dan subtipe lainnya) kepada petugas laboratorium. Untuk itu sarana dan prasarana pengendalian dan penanggulangan juga harus dipersiapkan sebagai antisipasi masuknya infeksi virus Al dimaksud ke Indonesia. Surveilans dan saalisis hasil surveilans harus selalu dilaporkan sebagai bahan kebijakan dalam penentuan program pengendalian penyakit Al.

 

Bagi pejabat otoritas veteriner kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet) dan Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner diperintahkan untuk bersama-sama dengan Direktur Kesehatan Hewan, melakukan analisa risiko pemasukan unggas dan produknya terhadap risiko terbawanya virus AI dari negara yang terjadi wabah. Mereka juga diminta menggelar joint risk assessment penularan Al yang disebabkan oleh H5Nx dan Subtype lainnya. Tak ketinggalan, secepatnya harus melaksanakan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan terkait dugaan infeksi virus Al (H5Nx dan Subtype lainnya) pada manusia.

 

Pejabat otoritas veteriner karantina hewan dan Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati ditugaskan untuk memperketat pengawasan pemasukan unggas dan produknya dari negara-negara yang berpotensi terinfeksi AI. Karantina juga mempererat kekerjasama dengan pihak terkait untuk melalukan pengawasan. Selain itu komunikasi, edukasi dan informasi terkait risiko pemasukan virus Al pada pintu-pintu masuk juga telah diperintahkan untuk ditingkatkan.

 

Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan tingkat provinsi dan Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi diperintahkan untuk melakukan pembinaan kepada kabupaten/kota untuk lebih meningkatkan performans pelaporan tanda klinis ke terkait AI melalui iSIKHNAS. Mereka juga wajib melakukan validasi laporan konfirmasi yang dilakukan kabupaten/kota melaIui modul konfirmasi iSIKHNAS.

 

Setiap kejadian yang dilaporkan melalui iSIKHNAS atau melalui mekanisme dinas, harus dikoordinasikan dengan dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota dan Balai Besar Veteriner/Balai Veteriner/Loka Veteriner di wilayah kerja masing-masing. OPD bidang peternakan dan kesehatan hewan juga dibebani untuk berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di wilayah masing-masing terkait dugaan kasus Al pada manusia dan melakukan penelusuran kasus secara terpadu dengan Besar Veteriner/Balai Veteriner/Loka Veteriner setempat.

 

Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan kabupaten/kota dan pejabat otoritas veteriner kab/kota diwajibkan untuk melakukan pembinaan kepada pemilik / peternak untuk secara proaktif jika ditemukan tanda klinis yang mengarah pada gejala Al yang dapat berupa penurunan produksi atau kematian. Seluruh petugas kesehatan hewan diminta untuk melaporkan setiap temuan tanda klinis yang mengarah pada Al yang dapat berupa penurunan produksi atau kematian tersebut melalui iSIKHNAS.

 

Secara aktif melakukan konfirmasi hasil melalui iSIKHNAS atau modul validasi ISIKHNAS. Mereka juga harus merespon setiap kejadian yang dilaporkan ke iSIKHNAS dan berkoordinasi dengan dinas provinsi dan Balai Besar Veteriner/Balai Veteriner/Loka Veteriner di wilayah kerja masing-masing. Selanjutnya, melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan di wilayah masing-masing terkait dugaan kasus Al pada manusia dan melakukan penelusuran kasus terpadu dengan Balai Besar Veteriner dan Balai Veteriner.

 

Kepala Balai Besar Veteriner/Balai Veteriner/Loka Veteriner, diperintahkan untuk menyiapkan sarana dan prasarana diagnosa virus A1 subtipe H5Nx dan subtipe lainnya. Diwajibkan untuk merespons dan mengkonfirmasi setiap laporan dugaan infeksi virus Al (Laporan P) dari dinas, berkoordinasi dengan dinas di wilayah kerja masing-masing untuk pengambilan sampel.

 

Balai / Loka Veteriner harus berkoordinasi dengan BBVet Wates sebagai laboratorium rujukan untuk melakukan karakterisasi dari hasil temuan virus H5Nx dan subtipe lainnya. Selanjutnya, kewaspadaan ditingkatkan melalui surveilans di wilayah sentra populasi unggas, kemudian melaporkan hasil monitoring dinamika virus Al yang ditemukan dan memasukkannya melalui sistem surveilans Al (IVM Online).

 

Balai Besar Penelitian Veteriner ditugaskan untuk meneliti virus Al subtipe H5Nx dan subtipe lainnya. Melakukan koordinasi dengan Pejabat Otoritas Veteriner Kesehatan Hewan terkait dugaan infeksi virus Al subtipe H5Nx dan subtipe lainnya. Diminta pula untuk berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner/Balai Veteriner/Loka Veteriner dalam pengujian dugaan infeksi virus Al subtype H5Nx dan subtype lainnya.

 

Ditjen PKH juga menghimbau kepada ketua asosiasi terkait, untuk menginformasikan kepada anggota asosiasi agar meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya virus HPAI H5Nx dari negara tertular dan meningkatkan biosekuriti di peternakan masing-masing. Asosiasi juga diminta untuk aktif berkoordinasi dengan pejabat otoritas veteriner kesehatan hewan dalam pelaksanaan komunikasi, informasi dan edukasi mengenai kewaspadaan masuknya virus HPAI H5Nx ini. ist/rw/yops

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain