Jumat, 26 Nopember 2021

Rencana Aksi Nasional dalam Pengendalian AMR

Rencana Aksi Nasional dalam Pengendalian AMR

Foto: ist/dok.Kementan


Nusa Dua (TROBOSLIVESTOCK). Global Review tahun 2016 memprediksi tingkat kematian akibat resistensi antimikroba (antimicrobial resistance atau AMR) akan mencapai 10 juta jiwa per tahun. AncamanAMR ini diprediksi akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia pada tahun 2050.

 

Pada Puncak Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia Tahun 2021, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan bahwa prediksi tersebut dapat terjadi apabila tidak ada upaya konkret dalam pengendalian penggunaan antimikroba.

 

“Oleh karena itu, perlu upaya bersama merealisasikan resolusi global yang diterjemahkan ke dalam Rencana Aksi Global dan Rencana Aksi Nasional dalam pengendalian AMR,” ujar SYL.

 

Menurut SYL, pendekatan One Health dapat menjadi acuan untuk memastikan seluruh pemangku kepentingan dari berbagai disiplin ilmu terlibat dalam proses membangun ketahanan dan memecahkan permasalahan kesehatan. Terkhusus kasus AMR yang terkait dengan berbagai sektor seperti kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, rantai makanan, pertanian, dan sektor lingkungan.

 

Melalui One Health, Kementerian Pertanian (Kementan) bersama kementerian, lembaga dan stakeholders terkait lain, telah menyiapkan rencana strategis serta peta jalan dalam upaya-upaya pengendalian dan penanggulangan AMR di Indonesia.

 

“Seperti yang telah dilakukan oleh Kementan dalam pengaturan penggunaan antibiotik di bidang peternakan dan kesehatan hewan yang melarang penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan,” tuturnya.

 

Ajakan SYL dalam memberantas AMR bersaman ini rupanya mendapat sambutan positif dari Kepala Perwakilan Food and Agriculture Organization(FAO) di Indonesia, Rajendra Aryal. Ia menyebutkan pemerintah Indonesia telah menunjukkan upaya penanggulangan AMR dengan menerapkan Pendekatan One Health. Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (RAN PRA) telah dikembangkan dan diimplementasikan oleh pemangku kepentingan multisektoral.

 

“Pengendalian AMR tidak hanya cukup dilakukan melalui pendekatan institusional. Maka, penting bagi semua pihak untuk memperoleh saran dari pakar atau professional sebelum membeli dan menggunakan antimikroba dalam proses produksi dan kesehatan hewan,” sebut Rajendra.

 

Turut hadir memberikan sambutan, Sekretaris Jenderal Kementan Kasdi Subagyono menyebutkan kesehatan hewan sangat mempengaruhi kesehatan manusia. Dampaknya sendiri dapat berupa kematian, sehingga penting bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk mengerti.

 

“Oleh karena itu, Kementan akan melakukan pemetaan untuk mengetahui kelompok masyarakat dan pelaku usaha yang belum memahami ancaman yang diakibatkan oleh AMR. Di sisi lain, Kementan pun akan mengidentifikasi wilayah-wilayah yang rentan mikroba. Pemetaan inilah yang menjadi dasar kita dalam menentukan action plan untuk mengendalikan AMR,” jelas Kasdi. ed/shara

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain