Sabtu, 1 Januari 2022

Resolusi Kesehatan Broiler 2022

Resolusi Kesehatan Broiler 2022

Foto: 


Penerapan program kesehatan yang tepat dengan tindakan antisipasi penyakit yang komprehensif ditunjang kesadaran dan kerjasama yang baik antar pegawai dan peternak menjadi kunci kesuksesan dalam pemeliharaan ayam 
 
 
Menyongsong tahun baru masehi 2022, tentunya banyak resolusi yang ditargetkan termasuk oleh peternak broiler (ayam pedaging). Salah satu resolusi yang tak luput dari keinginan peternak di awal tahun ini, ialah tentang kesehatan ayam. Bercermin dari lika-liku penyakit broiler di 2021, peternak patut mengevaluasi dan merefleksi apa saja kelalaian dalam mencegah penetrasi penyakit supaya tidak terulang di 2022.
 
 
Berdasarkan pengalaman peternak broiler yang sekaligus berprofesi sebagai dokter hewan di Blitar, Jawa Timur, yaitu Mohamad Reza Pahlevi menerangkan bahwa evaluasi di farm miliknya ialah perlu diperketat sterilisasi kandang, manajemen serta SDM-nya (sumber daya manusia). “Terkait SDM ini sangat krusial sebab terkadang masih lalai soal masalah sterilisasi terutama ketika masuk ke kandang,” cetus pria yang karib disapa Reza ini kepada Redaksi TROBOS Livestock.
 
 
Menurutnya, jika ingin masuk ke kandang atau naik ke lantai atas sebenarnya harus sterilisasi minimal cuci alas kaki. Melalui evaluasi itu, setiap ada kasus akan langsung dilakukan evaluasi program pengobatannya juga. Program obat atau OVK (obat vaksin kimia) akan disesuaikan dengan kasus di kandang, nantinya akan dilakukan evaluasi dan optimasi program obatnya.
 
 
“Contoh ayam di umur 2-6 hari, saya beri program antibiotik pencernaan (amoxicillin) sebagai tindakan pencegahan. Juga ayam di usia setelah masa brooding biasanya ada kasus CRD (chronic respiratory disease) sehingga diberi penanganan obat. Periode sebelumnya juga ada kasus pullorum tapi belum ada program obat, sehingga langsung diberi tindakan pengobatan,” papar dia.
 
 
Tren Penyakit 2022
Di 2022, Reza memprediksi tren penyakit pada broiler, kemungkinan masih sama seperti 2021, tapi dari segi penyakit viral seperti ND (newcastle disease) dan gumboro atau IBD (infectious bursal disease) masih ada. Sedangkan penyakit bakterial sepertinya masih bertahan, yakni kolibasilosis (colibacillosis), CRD, dan juga snot atau coryza (korisa). 
 
 
“Gambaran penyakit tahun ini kemungkinan lebih condong ke bakterial, karena di musim penghujan seperti ini bakteri anaerob tumbuh berkembang. Di musim penghujan, bakteri anaerob seperti Escherichia coli (E. coli), Haemophilus paragallinarum kemungkinan masih ada. Sementara untuk di musim kemarau, lebih banyak berkembang bakteri aerob seperti bakteri penyebab CRD,” ungkap Reza.
 
 
Marketing Manager PT TMC (Tekad Mandiri Citra), Sugiyono Hadi Wijaya menyatakan tren penyakit pada broiler di 2022 diprediksi akan tetap didominasi oleh kejadian kasus bakterial. Kemudian diikuti dengan kasus parasit, seperti koksidiosis serta penyakit virus seperti gumboro, ND, dan IBH (inclusion body hepatitis). 
 
 
“Tingkat kewaspadaan terhadap penyakit virus juga perlu ditingkatkan, khususnya untuk meminimalisir kasus flu burung atau AI (avian influenza). Sebab berdasarkan data dari OIE (Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan), telah terjadi outbreak di beberapa negara Asia terkait adanya fenomena migrasi burung,” imbuh Sugiyono.
 
 
Technical Sales Manager PT Phibro Animal Health, Setia Hadi pun  menuturkan kasus viral sudah cukup terkendali sejak adanya aplikasi vaksinasi di hatchery (penetasan), terutama untuk IBD, IB (infectious bronchitis), dan ND. Walaupun pada beberapa lokasi masih muncul outbreak, hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan vaksinasi perlu didukung dengan program biosekuriti dan manajemen pemeliharaan yang baik.
 
 
Sementara itu, terkait gumboro, yang mana Indonesia sebagai negara tropis maka gumboro adalah penyakit endemik. “Pemilihan teknologi vaksin yang memungkinkan terbentuknya kekebalan aktif lebih dini, menjadi sangat penting. Hal lain yang menjadi tantangan, tentu terkait dengan pembatasan AGP (antibiotic growth promoter),” kata Hadi.
 
 
Technical Education and Consultation (TEC) Poultry Assistant Manager PT Medion, Shervida Rismawati memprediksi tren penyakit broiler pada 2022 tidak akan jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.    Penyakit bakterial masih menjadi masalah utama di peternakan broiler, diikuti penyakit viral, dan parasit. Beberapa penyakit bakterial yang kemungkinan masih dapat ditemukan adalah CRD, kolibasilosis, korisa, NE (Necrotic Enteritis), dan kolera. 
 
 
“CRD masih akan menjadi penyakit pada saluran pernapasan yang mendominasi. Namun terdapat penyakit bakterial lainnya yang perlu diwaspadai, karena beberapa tahun ke belakang terus mengalami peningkatan. Penyakit tersebut adalah kolibasilosis dan NE,” sebut Shervida.
 
 
Ia melanjutkan, pada penyakit viral seperti gumboro, IBH, ND, dan AI merupakan penyakit acap kali ditemui. Penyakit viral yang menyebabkan imunosupresif seperti gumboro menjadi masalah utama, sebab sifat imunosupresif dapat menyebabkan serangan penyakit lainnya. Kasus penyakit IBH juga memerlukan perhatian lebih, karena sangat berdampak pada performa broiler, terlebih lagi tingkat kejadiannya terus mengalami peningkatan beberapa tahun belakang ini. 
 
 
Selain itu, penyakit non infeksius seperti mikotoksikosis juga masih rawan terjadi, yang ditandai dengan meningkatnya kasus kejadian mikotoksikosis  dari tahun sebelumnya. “Penyakit lainnya yang perlu diwaspadai adalah penyakit akibat parasit protozoa pada saluran pencernaan yaitu koksidiosis. Tingkat kejadian penyakit ini pada tahun sebelumnya masih cukup tinggi dan menempati peringkat keempat. Faktor manajemen pemeliharaan yang kurang baik, seperti kebersihan litter yang tidak terjaga dan adanya kebijakan pelarangan AGP menyebabkan tingkat kejadian koksidiosis tetap tinggi,” urainya.
 
 
Di sisi lain, Poultry Health Manager PT Sidoagung Agro Prima, Brigitta Etik Widyastuti mengestimasi tren penyakit pada broiler di 2022 menurun, sebab populasinya jauh berkurang akibat pemberlakuan kebijakan cutting (pemangkasan) telur HE (hatching eggs) yang telah dua tahun berjalan.
 
 
“Pemberlakuan kebijakan cutting dengan jumlah semakin banyak hingga akhir Desember 2021, serta apkir dini PS (parent stock) umur di atas 52 pekan, yang membuat jumlah DOC (ayam umur sehari) FS (final stock) berkurang. Dengan berkurangnya jumlah populasi tersebut maka jumlah penyakit juga berkurang, meski  tidak bebas sama sekali dan tergantung cemaran lingkungan dan manajemennya,” terang Brigitta.
 
 
Evaluasi Penyakit 2021
Berdasarkan laporan dari tim technical service TMC, kejadian kasus penyakit pada broiler didominasi oleh kasus penyakit non viral (76 %), seperti infeksi bakterial maupun infeksi parasit koksidiosis, diikuti penyakit viral (24 %) seperti kasus gumboro dan ND. Kasus bakterial dengan kejadian paling banyak adalah kolibasilosis dan CRD kompleks, sedangkan pada kejadian kasus yang disebabkan oleh virus, paling tinggi adalah IBD atau gumboro.
 
 
“Sejauh ini kejadian penyakit pada broiler yang terjadi, hingga menimbulkan keparahan dan cukup sulit ditangani adalah akibat deteksi awal penyakit yang kurang teramati oleh peternak. Sehingga ketika ada kunjungan oleh tim lapangan, kasus sudah berada dalam infeksi yang parah dan tingkat kesembuhannya rendah. Akibatnya penanganan penyakit akan semakin sulit, contohnya kejadian kasus bakterial seperti CRD kompleks, akan semakin sulit tertangani saat kasus sudah dalam kondisi dengan derajat keparahan infeksi yang berat,” tekan Sugiyono.
 
 
Poultry Technical Specialist PT Elanco Animal Health Indonesia, Supriyono Dwi Atmojo turut membeberkan gambaran penyakit pada broiler yang terjadi pada 2021, yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Faktor yang membedakannya ialah penerapan manajemen dasar pemeliharaan serta early warning system yang dilakukan di kandang. Sebagai contoh pada sistem pencernaan, NE dan koksidiosis selalu menjadi momok yang menakutkan bagi peternak, karena akan mempengaruhi performa dari ayam-ayam yang dipelihara.
 
 
Adapun tanda-tanda yang muncul sebelum kejadian menjadi parah, seharusnya sudah bisa diketahui oleh peternak. “Perubahan konsistensi pada kotoran ayam, penurunan feed intake dan parameter performa yang lainnya, merupakan tanda-tanda awal yang sering muncul pada dua kejadian penyakit tersebut. Oleh karena itu, salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengetahui penyebab perubahan-perubahan tersebut adalah dengan melakukan nekropsi dan lesion scoring,” bubuh pria yang akrab disapa Priyo ini.
 
 
 Ia menegaskan, bahwa nekropsi tidak hanya dilakukan pada ayam dengan kondisi gejala penyakit tertentu, tapi juga dapat dilakukan dalam kondisi ayam yang sehat. Sehingga dapat terlihat, apakah ayam-ayam yang dipelihara benar-benar dalam kondisi yang baik (lesion scoring organ) atau ditemukan perubahan-perubahan yang mengarah pada kondisi patologis tertentu.
 
 
Country Manager PT Amlan Indonesia, Betty Yuriko mengungkapkan bahwa gambaran  penyakit pada broiler sepanjang 2021 masih di seputar NE, koksidiosis, mikotoksikosis, serta penyakit akibat virus seperti ND, IBD dan penyakit pernapasan (CRD). “Penyakit yang terjadi selama 2021 relatif masih dapat diatasi, belum ada penyakit baru yang merebak dan memerlukan penanganan khusus,” ucapnya.
 
 
Menurut gambaran penyakit yang diungkapkan Brigitta, dari viral ada IBD dan ND, walaupun hanya di titik-titik tertentu akibat cemaran lingkungan atau manajemen yang salah. Sebab, rata-rata ayam sudah divaksin hatchery untuk ND dan IBD. 
 
 
Sementara itu, untuk penyakit bakterial masih didominasi oleh E. coli yang dapat memicu bakteri lainnya, sehingga menjadi CRD komplek. Sedangkan untuk parasit, dalam hal ini masih ditemukan koksidiosis akibat cuaca ekstrem, sehingga menyebabkan kelembapan tinggi dan sulit mencari sekam sebagai alas kandang.
 
 
Lebih lanjut, Brigitta menguraikan evaluasi penyakit pada broiler sepanjang 2021 yakni perlunya meningkatkan biosekuriti, baik secara struktural, konseptual, maupun operasional tiga zona. Sehingga ayam nyaman dan mitigasi pencegahan penyakit dapat terlaksana serta SDM yang mumpuni, terutama yang sudah berpengalaman tiga tahun terakhir di closed house (kandang tertutup) yang peka terhadap kondisi ayam.
 
 
Shervida menekankan, penyakit viral gumboro, ND, dan AI masih terus terjadi pada broiler dan perlu menjadi perhatian lebih. “Ketiga penyakit tersebut sudah tersedia vaksinnya cukup lama, namun tingkat kejadiannya masih saja muncul setiap tahunnya. Gagalnya program vaksinasi dapat disebabkan karena berbagai macam faktor, yaitu 4M (Materi, Metode, Mileu, dan Manusia),” tutur dia.
 
 
Menurutnya, kasus IBH juga terus terjadi dan cenderung mengalami peningkatan tiap tahunnya. Untuk itu, diperlukan program pencegahan berupa program vaksinasi yang tepat. Program vaksinasi pertama pada ayam pembibit (indukan) dengan pengulangan, merupakan salah satu strategi guna melindungi indukan pada masa produksi dan mengoptimalkan maternal antibodi pada anakan. Selanjutnya vaksinasi IBH pada broiler, dapat dilakukan pada umur 1-4 hari.
 
 
“Dengan didukung biosekuriti dan manajemen kandang yang baik, maka ayam aman dari serangan IBH dan penyakit lainnya. Perkembangan virus tersebut juga perlu selalu dipantau secara terus menerus, terutama virus yang mudah mengalami perubahan seperti AI, gumboro, dan ND. Monitoring titer antibodi dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi kekebalan tubuh ayam dan membantu penentuan program vaksinasi,” tambah Shervida.
 
 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 268/Januari 2022
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 268/Januari 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain