Sabtu, 1 Januari 2022

Arief Daryanto: Paradigma Baru di Industri Perunggasan

Arief Daryanto: Paradigma Baru di Industri Perunggasan

Foto: 


Industri perunggasan di Indonesia ke depan memiliki prospek yang sangat baik. Peningkatan permintaan daging ayam dan telur di tingkat nasional didorong oleh peningkatan jumlah konsumen kelas menengah, urbanisasi yang cepat dan munculnya industri perunggasan yang lebih modern dan terintegrasi. 
 
 
Pada saat ini daging ayam dan telur merupakan sumber utama protein hewani bagi hampir 90 % populasi di Indonesia. Dengan peningkatan daya beli, semakin banyak orang beralih dari sumber makanan karbohidrat ke makanan berkualitas lebih tinggi seperti protein, lemak, dan vitamin. Sebagian besar wilayah di Indonesia pada saat ini telah berswasembada pasokan daging ayam. 
 
 
Keunggulan daging ayam adalah jenis daging yang dapat diproduksi menjadi protein dari kandang ke meja makan (from farm to table) dengan proses tercepat dibandingkan dengan jenis daging lainnya. Banyak yang menyebutkan bahwa daging ayam sebagai raja daging atau king of meat. Pada masa krisis pandemi, harga daging ayam tetap lebih murah daripada protein daging lainnya. Hal ini menjadi sangat penting di saat ketidakpastian ekonomi. Indonesia diperkirakan akan memainkan peran yang semakin besar dalam produksi unggas dunia pada dekade berikutnya, bersama dengan negara Asia lainnya.
 
 
Era Normal Baru 
Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang bergerak cepat di seluruh negara mengakibatkan terjadinya pandemi telah menimbulkan dampak yang merugikan dan menambah ketidakpastian yang signifikan di pasar perunggasan global. Covid-19 tidak hanya menghambat mobilitas manusia, tetapi juga mengacaukan jaringan distribusi barang di penjuru dunia. Fenomena ini disebut sebagai broken supply chain atau shaken supply chain.
 
 
Kinerja industri perunggasan di Indonesia sangat tergantung dengan kelancaran rantai pasok global mengingat industri ini dicirikan dengan adanya tingkat konektivitas global yang tinggi. Banyak negara sekalipun negara tersebut mengekspor daging ayam dan telur, komponen impor bahan baku dan bibit ayam (GGPS dan GPS) di negara pengekpor tersebut sangat besar. 
 
 
Pada masa pandemi di beberapa negara, tindakan pemerintah yang diambil dalam upaya untuk mengendalikan pandemi yaitu penguncian nasional, pembatasan perjalanan, penutupan, dan kontrol perbatasan. Hal ini telah menghasilkan beberapa konsekuensi negatif yang tak terhindarkan. Konsekuensi negatif dari penguncian beberapa negara membuat para pelaku usaha industri pakan ternak di tingkat global mengeluarkan biaya produksi yang lebih tinggi. Banyak negara yang mengimpor produk zat aditif (premiks, suplemen pakan atau aditif pakan) yang diimpor menjadi langka dan lebih mahal harganya. 
 
 
Belajar dari pengalaman banyak negara, prospek industri perunggasan global pada saat ini dipengaruhi oleh tantangan pandemi Covid-19 dan penyakit demam babi afrika (ASF) yang sedang terjadi di industri daging babi. Pandemi Covid-19 yang terjadi menyebabkan perlambatan ekonomi dan penurunan daya beli secara global. 
 
 
Industri perunggasan di era normal baru bisa sangat berbeda. Tidak seperti pasar daging lain yang terkena dampak negatif dari pandemi Covid-19, industri perunggasan masih menikmati permintaan yang lebih stabil dibandingkan dengan daging lainnya seperti daging sapi. Daya resiliensi industri perunggasan sangat besar dalam menghadapi dampak negatif yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Pemulihan diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dalam masa pasca pandemi. Namun, di era normal baru, pemulihan ekonomi akan lambat sebelum mencapai taraf pertumbuhan pre-Covid-19.  
 
 
Belanja Daring
Di masa pandemi Covid-19, belanja online (daring) untuk memenuhi kebutuhan pangan menjadi pilihan konsumen. Bisnis penghantaran online (e-commerce) tumbuh dengan sangat cepat. Pada masa pandemi Covid-19 sekolah melaksanakan metode belajar dari rumah (learning from home), karyawan bekerja dari rumah (work from home), dan pemerintah pun memberlakukan larangan bepergian pada masa berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menyebabkan aktivitas berbelanja berubah menjadi pemesanan melalui aplikasi digital. 
 
 
Perubahan pola konsumen pun menjadi tantangan tersendiri, terutama produk-produk perunggasan yang segar (fresh) seperti daging dan bakso yang harus disimpan dalam keadaan beku (frozen) dan dingin (chilled) agar tetap sampai dengan kualitas yang tetap terjaga baik ke tangan konsumen. Kunci sukses mengelola rantai pasok di industri perunggasan yang berkelanjutan adalah bagaimana menjaga aliran produk dari hulu (off farm) sampai pada penyajian produk jadi yang dikonsumsi oleh masyarakat dengan memastikan ketersediaan dan kualitas secara tepat waktu dan tempat serta dilaksanakan berdasarkan prinsip efisiensi dan efektivitas dengan biaya yang bersaing.
 
 
Perkembangan e-commerce di masa pandemi dan era normal baru terjadi dengan sangat pesat terutama didorong oleh adanya 6 (enam) perubahan dalam industri ini. Pertama, peningkatan penetrasi smartphone dimungkinkan karena ketersediaan perangkat berbiaya murah. Kedua, kebangkitan kelas menengah yang memiliki daya beli tinggi. Ketiga, semakin besarnya investasi asing langsung di platform e-commerce. khususnya melalui usaha patungan atau hubungan mitra yang signifikan, misalnya, Lazada-Alibaba, Go-JekTencent-KKR, Tokopedia-Alibaba, dan Shopee-Sea. 
 
 
Pulihnya Perekonomian
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh positif 3,51 % secara year on year (y-on-y). Pertanian tercatat sebagai salah satu sektor pertanian yang secara konsisten berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama selama masa pandemi Covid-19. Dalam konteks krisis ekonomi sektor pertanian merupakan sektor penyelamat ekonomi (the savior of economy). 
 
 
Pada triwulan III/2021 ini, sektor pertanian tumbuh 1,35 %. Berdasarkan data yang dirilis oleh BPS, tahun lalu sektor pertanian mengalami pertumbuhan positif sebesar 16,24 % secara quarter to quarter (q-to-q) dan 2,19 % secara y-on-y di triwulan II/2020 saat awal pandemi Covid-19 berlangsung. Selama pandemi, ekspor pertanian tetap tumbuh secara positif. Untuk menjaga agar pertumbuhan sektor pertanian agar selalu positif dan menjadi penopang perekonomian Indonesia, di sisi hulu, diperlukan peningkatan produktivitas, daya saing dan produksi pertanian. Sementara di sisi hilir, perlu upaya untuk terus memberikan nilai tambah pada hasil produk pertanian. Dalam konteks ini, dalam rangka memenuhi permintaan yang meningkat, sektor protein hewani perlu melakukan modernisasi dan industrialisasi agar dapat berproduksi dengan lebih banyak dalam lahan yang lebih kecil dan meningkatkan produksi jagung yang merupakan bahan pakan utama sektor protein hewani terutama perunggasan.
 
 
Daya beli masyarakat perlahan mulai meningkat seiring dengan ekspektasi positif terhadap pemulihan ekonomi dan penanggulangan pandemi, dukungan vaksinasi, dan protokol kesehatan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 sebesar 3,7 % (versi Bank Dunia), pada kisaran 3,2 – 4,0 % (versi Bank Indonesia), dan pada kisaran 3,7 – 4,5 % (versi pemerintah). Pada 2022, Bank Dunia memperkirakan, perekonomian Indonesia tumbuh 5,2 %.  
 
 
Modernisasi Industri Perunggasan
Industri perunggasan merupakan pasar yang tetap menarik (atraktif) karena potensinya dalam konsumsi, nilai transaksi pasar yang besar, baik untuk bisnis, baik dalam era sebelum dan setelah pandemic Covid-19. Industri yang menarik ini didorong oleh kebutuhan yang lebih tinggi dengan permintaan yang kuat dalam konsumsi protein karena setelah pandemi masyarakat ingin hidup yang lebih peduli dengan imunitas dan kesehatan.
 
 
Dalam rangka memenuhi permintaan daging ayam dan telur yang terus meningkat pasca pandemi, sektor protein hewani perlu melakukan modernisasi dan industrialisasi agar dapat berproduksi dengan lebih efisien, efektif, dan berdaya saing. Dunia pasca pandemi akan penuh dengan tantangan, tetapi bisa dilihat pula sebagai peluang untuk perbaikan berkelanjutan dan peningkatan efisiensi sehingga industri perunggasan dapat terus menempatkan aspek kesehatan, harga makanan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan di setiap meja makan konsumennya. 
 
 
Upaya yang dapat dilakukan oleh para pelaku usaha dalam industri perunggasan antara lain adalah (a) Meningkatkan integrasi vertikal. Integrasi vertikal dilakukan untuk mendapatkan nilai tambah di seluruh rantai pasokan untuk meningkatkan stabilitas marjin keuntungan; (b) Menerapkan AgTech dan digitalisasi mulai dari kandang sampai meja konsumen di seluruh rantai pasokan. Penggunaan big data, Internet of Things, robot, sensor, dan drone merupakan teknologi yang sangat maju untuk mentransformasi industri perunggasan; (c) Meningkatkan keamanan bio; Keamanan bio dilakukan dalam rangka mengatasi penyebaran penyakit dan mengurangi tingkat kematian; dan (d) Modernisasi dan otomatisasi di seluruh rantai pasokan. Modernisasi dan otomatisasi dilakukan dalam meningkatkan efisiensi lahan pertanian dan untuk mengurangi rasio konversi pakan dan mengurangi masa pertumbuhan dan penggemukan.
 
 
Sejalan dengan usaha-usaha di atas, pada era normal baru, peningkatan daya saing industri daging ayam dan telur membutuhkan perubahan model rantai pasokan dari yang bersifat tradisional (lama) ke model yang baru. Model rantai nilai tradisional (lama) dicirikan dengan adanya peternakan unggas dengan skala kecil, inefisiensi yang tinggi, volume produksi yang kecil, penjualan masih didominasi dalam bentuk ayam hidup (live bird), usaha perbibitan yang menggunakan teknologi yang belum modern (tradisional) dan tidak tersedia infrastruktur yang mendukung sistem pemasaran rantai dingin.
 
 
Model rantai pasokan yang baru dicirikan dengan adanya perusahaan yang terintegrasi baik skala kecil, menengah, dan besar, tersedianya pabrik pakan lokal dengan harga yang lebih bersaing, volume produksi lebih besar, perbibitan yang modern, dan tersedianya infrastruktur pendukung sistem pemasaran rantai dingin. Pemasaran yang bersifat rantai dingin mutlak diperlukan karena daging ayam dan telur mudah rusak (perishable).
 
 
Di balik musibah selalu ada berkah dan hikmah. Perubahan perilaku konsumen selama pandemi Covid-19 memberikan adanya kesempatan untuk menstransformasi industri perunggasan ke arah yang lebih modern, lebih terintegrasi dan lebih ke hilir untuk meningkatkan nilai tambah. Winston Churchill (mantan Perdana Menteri Britania Raya) menyatakan “An optimist sees an opportunity in every calamity; a pessimist sees a calamity in every opportunity”. Marilah menjadi orang yang optimis karena menurut Winston Churchill tersebut, seseorang yang optimis bisa melihat peluang dalam setiap bencana, dan seseorang yang pesimis, melihat bencana di setiap kesempatan. TROBOS
 
 
 
Dekan Sekolah Vokasi IPB University
Anggota Dewan Pakar Asohi (Asosiasi Obat Hewan Indonesia)
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain