Sabtu, 1 Januari 2022

Optimisme Ditengah Ketidakpastian

Optimisme Ditengah Ketidakpastian

Foto: 


Para pelaku usaha menggantungkan asa agar industri perunggasan broiler di 2022 akan lebih baik seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi akibat pendemi 
 
 
Memasuki dua tahun masa new normal akibat pandemi Covid-19, bisnis perunggasan masih belum sepenuhnya pulih. Harga ayam ditingkat peternak masih berfluktuasi. Di 2021, harga ayam hidup (live bird/LB) pernah mencapai titik terendah pada Juli yang mencapai Rp 12.000 – 15.000 per kg. Sementara, Harga Pokok Produksi (HPP) waktu itu mencapai Rp 19.000 per kg. 
 
 
Ketua Harian Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat) Indonesia, Edy Wahyudin mengatakan, selama 2021 harga ayam hidup mencapai titik harga paling rendah di Juli, dikarenakan permintaan masyarakat terhadap daging ayam menurun seiring dengan berakhirnya masa perayaan hari besar keagamaan. Juga adanya Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 yang dimulai sejak 3 Juli 2021 sehingga meminimalisir penyerapan ayam hidup pada sektor hotel, restoran, dan rumah makan (horeka) serta rumah tangga.
 
 
Pemerintah pun melakukan intervensi untuk meningkatkan harga ayam hidup. Pada 7 Agustus 2021, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian mengeluarkan kebijakan cutting hatching egg (HE) umur 19 hari dan apkir dini Parent Stock (PS) dengan jumlah besar sebagai upaya pengendalian over supply (kelebihan pasokan). 
 
 
Edy berpendapat, selama beberapa tahun terakhir, harga broiler mengalami fluktuasi yang luar biasa. “Harga live bird sangat fluktuatif, sementara struktur biaya budidaya di tingkat peternak rakyat mandiri semakin meningkat,” ucapnya.
 
 
Sekretaris Jenderal GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), Sugeng Wahyudi memberikan gambaran kondisi harga ayam hidup ditingkat peternak selama 2021. Pada Januari sampai Mei harga sedikit di atas HPP, namun Juni sampai September harga ayam hidup di bawah HPP. Untuk akhir tahun masih dilihat gejolak harganya. “Hanya secara keseluruhan sampai saat ini masih merugi. Apalagi kerugian di Juli sangat luar biasa,” sesalnya.
 
 
Ia melihat penyebab peternak alami kerugian di 2021 yaitu masalah over supply yang masih menjadi kendala dan harga input sapronak (sarana produksi ternak) cukup tinggi sedangkan output-nya atau harga ayam hidup sangat fluktuatif. “Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah ternyata belum berdampak signifikan bagi peternak mandiri,” ujarnya.
 
 
Adanya Surat Edaran Dirjen PKH Tentang Pengurangan DOC Final Stock (FS) Melalui Cutting Hatching Egg (HE) Umur 19 Hari, Penyesuaian Setting HE dan apkir dini Parent Stock (PS) memang membuat harga ayam hidup sedikit merangkak. Tetapi harga sapronak cukup tinggi dan kualitas pakan agak kontraksi sehingga produktivitas tidak bisa mencapai optimal. “Selama 3 tahun terakhir kondisi peternak cukup merugi, belum ada perubahan yang signifikan terkait dengan prospek berbudidaya. Kita tidak mendapat insentif dari berbudidaya ayam ini,” tutur Sugeng.
 
 
Ketua Umum GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas), Achmad Dawami mengatakan, ekonomi makro pada 2021 tumbuh, hanya pada Juni – Juli ada gejolak dan tidak bisa diketahui penyebabnya 100 %. Sebenarnya kalau diihat harga rata-rata ayam hidup pada 2021 dibandingkan dengan 2020 mengalami kenaikan lebih dari Rp 1.000 per kg, bahkan mencapai Rp 1.800 per kg. Namun masih terjadi demo, protes, karena peternak masih mengalami kerugian. 
 
 
Ia mengungkapkan, pada 2021, kebijakan impor GPS (Grand Parent Stock) yang diizinkan sebanyak 600.000 ekor. Sampai dengan November 2021 sudah mencapai 93 % atau sebanyak 579.166 ekor dan sepertinya akan terpenuhi seluruhnya di 2021. “Industri perunggasan terus berubah setiap 10 tahun.
 
 
Perubahan pun terjadi dalam hal kebijakan dan teknologi. Sebagai pengusaha yang menyediakan protein hewani untuk Indonesia, mau tidak mau harus mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi,” pesannya.
 
 
Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) Desianto B Utomo mengungkapkan, mulai pandemi pada 2020, perusahaan pakan sudah mengalami kontraksi. Alih-alih tumbuh sebanyak 5 – 6 % justru malah turun. Produksi pakan yang sebelumnya berjumlah 20,5 juta ton di 2019, namun mengalami tekanan sekitar 9,8 % sehingga hanya berjumlah 18,9 juta ton pada 2020. Untuk 2021, diharapkan bisa tumbuh walaupun sedikit, di Oktober setelah ekstrapolasi kemungkinan perusahaan pakan bisa tumbuh hanya antara 2 – 3 % selama 2021.”Walaupun pandemi masih belum tentu kapan usainya, industri pakan masih menjanjikan dan tetap optimis dalam kondisi yang tidak menentu,” tegasnya.
 
 
Sedangkan Ketua Umum Asohi (Asosiasi Obat Hewan Indonesia), Irawati Fari menyatakan, sepanjang 2021, situasi bisnis obat hewan mengalami pasang surut yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang berdampak pada ketidakseimbangan supply demand obat hewan. Ditambah lagi, di komoditas broiler masih ada kebijakan pemangkasan DOC (ayam umur sehari) dan pada semester II peternak mulai mengerem chink in DOC.
 
 
Masih Belum Seimbang
Pada 2021 diprediksi produksi DOC broiler mencapai 3,7 miliar ekor tapi gejolak harga yang terus menerus menyebabkan adanya kebijakan pemerintah harus mengurangi produksi DOC. Pengurangan produksi DOC membuat perusahaan pembibitan terutama anggota GPPU menderita karena ayam sudah diproduksi dan dikasih makan tetapi harus dikurangi. “Namun pengurangan produksi kita lakukan demi menyeimbangkan suplai dan permintaan,” ujar Dawami.
 
 
Ia menguraikan pelaksanaan SE Dirjen PKH selama 2021 yaitu untuk cutting HE mencapai 777,7 juta butir, apkir dini PS sebanyak 3,9 juta ekor, dan kewajiban RPA (rumah potong ayam) menyerap live bird dari peternak sebanyak 75 juta ekor. 
 
 
Pemerintah kemudian menetapkan tentang key performance indicator untuk impor GPS. Kriterianya seperti penguasaan Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) dan rantai dingin, pemotongan LB di RPHU, performa produksi, realisasi ekspor asal ayam ras, produk olahan, kemitraan, kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dan proposal. 
 
 
Sejak Januari 2020 sampai dengan pertengahan Desember 2021, bisa dilihat harga nasional versus harga di Pulau Jawa, bahwa harga LB di pulau Jawa Lebih rendah dibandingkan di luar pulau Jawa (Grafik 1). “Kenyataannya sedikit lebih rendah di atas rata – rata, tapi mungkin juga HPP lebih rendah,” cetusnya.
 
 
Dengan adanya SE pada akhir Agustus – September 2021 untuk pengurangan produksi DOC dan berlangsung sampai sekarang maka terlihat gejolak harga sudah mulai melandai. Kecuali di Juli pada 2021, alasannya hampir 1 bulan atau sampai setelah Lebaran tidak ada kebijakan cutting HE. Kondisi tersebut menandakan bahwa keseimbangan supply & demand belum sesuai sehingga dilakukan kebijakan cutting HE lagi. “Bukan berarti mendukung cutting HE, saya sendiri tidak suka,” cetusnya.
 
 
Edy menambahkan, tidak bisa disangkal bahwa terjadi over supply sehingga pemerintah berupaya mengatasinya dengan mengeluarkan berbagai kebijakan. Namun kebijakan tersebut, dimata peternak belum memihak para peternak rakyat mandiri (mikro, kecil, dan menengah). “Penegakan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah lemah, sehingga jumlah peternak rakyat mandiri terus menurun karena termarginalisasi,” sesalnya.
 
 
Perubahan HPP
Kalau ditelusuri pada industri pakan ternak, peran bahan baku memberikan kontribusi yang sangat besar dalam struktur biaya produksi yang dapat mencapai 80 – 85 %. “Sehingga jika ada kenaikan harga bahan baku pakan, otomatis akan meningkatkan HPP pakan perkilogramnya,” ungkap Desianto.
 
 
Adanya kelangkaan kontainer untuk logistik bahan pakan impor menyebabkan biaya sewa kontainer meningkat 4 kalinya. Akibat kondisi itu membuat biayanya dibebankan pada biaya bahan baku pakan. Belum lagi, adanya pengenaan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) atas volume impor bahan pakan.
 
 
“Biaya pakan akan naik seiring dengan harga logistik dan harga bahan bakunya. Celakanya HPP produksi pakan akan diteruskan kepada peternak. Biaya pakan ini mencapai 65 % dari HPP per kg berat badan di broiler. Sementara di sisi lain, harga jual ayam hidup cukup berfluktuasi. Beberapa tahun terakhir, jika dirata – ratakan selama setahun dengan 6 – 7 kali panen peternak mengalami minus keuntungan,” paparnya. 
 
 
Sedangkan pemasaran live bird sebanyak 80 % masih tradisional dan 20 % masuk ke RPHU. “Potret ini nantinya akan bergeser. Indikasinya pada 2021 banyak tumbuh outlet – outlet yang menjual karkas ayam. Disamping investasi untuk makanan olahan berbasis ayam cukup pesat pada 2021,” ujarnya.
 
 
Untuk mengantisipasi pertumbuhan ke depan, lanjut Desianto, dimana bahan baku terutama jagung sangat menentukan biaya dari produksi pakan maka anggota GPMT sudah meningkatkan serapan jagung lokal dengan memfasilitasi dryer (alat pengering) ataupun storage (penyimpanan) di wilayah yang bukan sentra produksi pakan seperti di NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur). Padahal selama ini sentra produksi pakan sebagian besar terpusat di Pulau Jawa. Juga di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. “Ini menunjukkan kita sungguh-sungguh mengantisipasi dengan mendekati area sentra produksi jagung lokal,” jelasnya.
 
 
Dawami menimpali, tingginya harga sapronak yang merupakan faktor utama perubahan HPP. Sebagai contoh, harga jagung sekarang sudah lebih dari Rp 6.000 per kg, padahal arahan Presiden Jokowi khusus daerah tertentu harganya Rp 4.500 per kg. Sehingga, dengan adanya perubahan harga komoditas sapronak atau naik sudah pasti akan berpengaruh terhadap HPP. “Jangan lagi berpikir harga LB hanya Rp 15.000 – 16.000 per kg, sudah tidak bisa. Saat ini, pola pikirnya harga ayam hidup harus di atas Rp 19.000 per kg,” tegasnya.
 
 
Disamping itu, rendahnya konsumsi masyarakat saat pandemi Covid-19 serta importasi bahan baku pakan dengan biaya transportasi yang naik hampir 400 % menjadi tantangan tersendiri. “Kondisi itu menuntut semuanya berubah agar tetap bisa bertahan,” sarannya.
 
 
Sugeng pun memberikan kiat dari pengalaman yang dilakukan peternak agar dapat bertahan dengan kondisi perunggasan saat ini yaitu dengan mengurangi populasi ayam yang dipelihara. Juga dari segi produktivitas dengan mencari input yang paling rendah, tetapi dengan memperhatikan kualitasnya. Terakhir, berupaya semaksimal mungkin menjual ayam hidup dengan optimal.
 
 
Prediksi 2022
Tren penurunan impor GPS pada 2020 diperkirakan produksi DOC di tanah air di 2022 berjumlah 3,5 miliar ekor. Sementara kebutuhan nasional menurut BPS (Badan Pusat Statistika) hanya 2,8 miliar ekor. Pada 2022 memiliki potensi surplus supply DOC FS sebesar 732 juta ekor atau setara dengan 830 ribu ton karkas. Kondisi tersebut tentunya akan membuat multiplayer effect. “Dengan melihat potensi pada 2022, apakah langkah pemerintah dan stakeholder dalam pengendalian supply demand dengan cutting HE dan apkir dini PS akan tetap dilakukan atau tidak, saya tidak tahu,” ucap Dawami.
 
 
Dari sisi peternak, dikemukakan Sugeng, hampir pasti setiap ada SE atau kebijakan apapun terkait perunggasan GOPAN bersurat kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk melaporkan kondisi terkini. Misalnya harga DOC yang sekarang sudah cukup tinggi di atas Rp 7.000 per ekor dan tidak sesuai dengan harga acuan Kemendag.
 
 
Selain itu, bagaimana pula peternak dapat mengoptimalkan hasil produksi dengan cara pembenahan manajemen budidaya. Karena hal tersebut tidak akan berarti apa – apa kalau tidak ada kebijakan pemerintah untuk melindungi peternak mandiri. “Bentuknya dan bagaimana caranya harus dipikirkan pemerintah,” tuntutnya.
 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 268/Januari 2022
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 267/Desember 2021

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain