Sabtu, 1 Januari 2022

Telur dengan Penambahan Minyak Ikan

Telur dengan Penambahan Minyak Ikan

Foto: 


Memproduksi telur omega-3 merupakan salah satu solusi untuk bertahan di tengah pandemi
 
 
Dampak buruk pandemi Covid-19 di Tanah Air menyebar ke semua sektor ekonomi. Tidak terkecuali, usaha peternakan ayam petelur (layer). Itu pula yang dialami peternak layer Bisco Farm di Desa Talangjawa, Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
 
 
Menurut pemilik Bisco Farm, Repi Adiwinata, pada awalnya farm yang memiliki populasi indukan 2.300 ekor ini dengan produksi 1 ton telur/hari, masih bisa bertahan hingga akhir 2020. Namun memasuki tahun kedua (2021) pandemi Covid-19, tren daya serap telur curah kian menurun. “Termasuk harga, fluktuasinya tajam, namun secara umum juga cendrung turun,” ujar Repi kepada Majalah TROBOS Livestock beberapa waktu lalu.
 
 
Setelah berdiskusi dengan pemilik lainnya, yaitu kakaknya Parno, perlu ada terobosan agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi sulit tersebut. Apalagi memasuki 2021, pandemi Covid-19 bukannya berangsur reda melainkan kian berkecamuk dan entah sampai kapan.
 
 
Produksi Telur Omega 3
Dua solusi yang berpeluang dijalankan adalah dengan memproduksi telur premium, yakni telur herbal atau omega-3 yang segmen pasarnya kelompok menengah ke atas. Pemasarannya melalui supermarket, minimarket dan swalayan dalam bentuk telur yang sudah dikemas. Apalagi sejak pandemi Covid-19, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, terutama kelompok menengah ke atas makin tinggi sehingga omzet pangan premium di kota-kota besar terus meningkat.
 
 
“Dari kedua alternatif tersebut, pilihan jatuh ke telur omega-3. Sebab jika memproduksi telur herbal, selain ketersediaan bahan baku herbalnya belum tentu stabil, juga terbentur teknologi dan pasarnya yang masih terbatas. Sementara untuk memproduksi telur omega-3, tinggal melakukan ujicoba menggunakan berbagai bahan baku omega-3 agar kandungan omega-3 pada telurnya memenuhi persyaratan yang ditetapkan BPOM,” lanjut Repi lulusan jurusan biologi di perguruan tinggi di Jakarta.
 
 
Sejak awal 2021, Repi bersama karyawannya memulai serangkaian uji coba menggunakan berbagai bahan baku omega-3 dengan dosis yang bertingkat, termasuk mengkalkulasi penambahan biaya produksi. Setelah ujicoba selama tujuh bulan baru ditemukan, bahan baku omega-3 yang paling baik adalah minyak ikan (fish oil) salmon yang ditambahkan ke dalam pakan dengan dosis tertentu.
 
 
Hasilnya uji laboratorium Saraswati, Bogor menunjukkan kandungan omega-3-nya sudah di atas 200 mg dengan nomor sertifikat BiscoEgg Om3: SIG.LHP.IX.2021.112298.  “Artinya kandungan omega-3 sudah di atas batas minimal yang ditetapkan BPOM,” sambungnya. Repi menggunakan fish oil salmon lokal yang dibeli dari Surabaya.
 
 
Dengan harga bahan baku pakan yang terus naik, aku Repi, sulit bagi peternak layer bertahan untuk jangka waktu lama. Pasalnya saat ini harga SBM sudah Rp 5.500 – 6.000/kg; bekatul Rp 3.800/kg, dan jagung Rp 5.800/kg. Dengan harga bahan baku pakan tersebut maka harga jual telur minimal Rp 21 ribu – 22 ribu/kg. Sementara saat ini harga jual telur curah di kandang masih di bawah Rp 20 ribu/kg. Apalagi sekarang FCR semakin tinggi yakni mencapai 2,2 – 2 ,3 dari sebelumnya masih 1,9 – 2,0.
 
 
Namun langkah Repi mengembangkan telur omega-3 tidak berjalan mulus karena keterbatasan pasar. Saat ini, baru 500 indukan yang sudah memproduksi telur omega-3 sebanyak 450 butir per hari. Untuk pemasaran, saat ini baru kerja sama dengan Lotte Grosir Lampung.
 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 268/Januari 2022

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain