Sabtu, 1 Januari 2022

BIOMIN® Mycotoxin Survey di Indonesia

BIOMIN® Mycotoxin Survey di Indonesia

Foto: 


BIOMIN Mycotoxin Survey merupakan survei mikotoksin terpanjang dan terlengkap yang menggunakan alat analitik seperti LC-MS/MS dan alat canggih bernilai tinggi lainnya untuk mengevaluasi kualitas pakan dan bahan baku pakan di berbagai pasar di seluruh dunia. Dalam tiga kuartal pertama 2021, kami telah menganalisis lebih dari 100 sampel yang berasal dari Indonesia, termasuk jagung, pakan, dan bahan pakan alternatif yang digunakan sebagai subtitusi akibat harga jagung dan kedelai yang cukup tinggi. Mikotoksin yang di analisis adalah alatoksin (Ala); zearalenon (ZEN); deoxynivalenol (DON); T-2 toxin; fumonisin
(FUM); ochratoxin A (OTA), dan kami telah mencantumkan trichothecenes A dan B yang relevan.
 
 
Temuan Utama
Gambaran utama dari hasil analisa mikotoksin menunjukkan bahwa Indonesia berada pada risiko yang tinggi. Prevalensi dan rata-rata konsentrasi mikotoksin fusarium yang tinggi merupakan kekhawatiran bagi produsen pakan dan peternak yang berdampak negatif bagi performa dan kualitas pakan. Konsentrasi ZEN yang tinggi dapat menjadi masalah bagi pelaku industri breeder (pembibitan) dan layer (ayam petelur), karena sifat estrogenik mikotoksin jenis ini dan kemampuannya untuk melakukan interaksi sinergis dengan mikotoksin lainnya.
 
 
Jika dilihat hasil Level T-2 saat ini, serta kemampuan T-2 yang dapat berinteraksi sinergis dengan trichothecenes lainnya dapat menjadikan kekhawatiran bagi peternak, efek yang mungkin dapat terlihat yaitu ulserasi pada mulut, gizzard dan saluran pencernaan. Pada akhirnya menyebabkan ternak tidak nafsu makan dan pertumbuhan bobot badan menurun. Kami menyarankan produsen pakan dan peternak untuk terus memantau bahan pakan dan menggunakan Mycofix® pada dosis yang tepat untuk melindungi performa hewan ternak.
 
 
Jagung
Jagung berada pada risiko sedang pada semua jenis ternak. Konsentrasi mikotoksin level sedang pada Alfa, ZEN dan DON mungkin dapat menjadi permasalahan bagi produsen pakan dan peternak jika diabaikan. Tingkat Ala saat ini menunjukkan bahwa kondisi penyimpanan mungkin tidak optimal. Untuk menghindari kenaikan level yang lebih jauh, penting untuk meminimalkan waktu penyimpanan, serta menerapkan protokol GAP dan GMP untuk memastikan praktik penyimpanan yang tepat.
 
 
Jagung cukup rentan terhadap mikotoksin jenis fusarium, khususnya FUM, karena dapat menyebabkan kerugian bagi kesehatan usus meskipun pada level rendah, terutama bila terjadi bersamaan dengan mikotoksin lainnya. Walaupun kadar FUM masih bisa dikatakan rendah, bisa saja kadar FUM naik menjadi medium dan FUM juga bisa diproduksi selama proses penyimpanan, oleh karena itu kami menyarankan untuk memantau mikotoksin ini secara rutin.
 
 
Peternak disarankan secara rutin untuk mengecek kondisi mikotoksin, dapat dilakukan sebelum pemberian pakan, untuk mengatasi kemungkinan adanya mikotoksin saat proses penyimpanan pakan. Penggunaan Mycofix® secara konstan akan membantu memaksimalkan performa dengan cara mengikat dan mendeaktivasi semua jenis mikotoksin utama.
 
 
Corn Gluten Meal (CGM)
Corn gluten meal berada pada risiko yang sangat ekstrim pada semua jenis ternak. Produsen yang ingin menggunakan CGM sebagai sumber protein disarankan untuk mencampur dengan sumber bahan pakan lain dan melakukan pengujian ulang mikotoksin pada pakan, untuk memastikan bahwa level risikonya berkurang. Jika melihat konsentrasi mikotoksin pada CGM saat ini, efek negatif pada performa seperti menurunnya asupan pakan, gangguan pertumbuhan, dan supresi imun akan terlihat di lapangan. Selanjutnya, hewan cenderung menjadi lebih rentan terhadap penyakit dan cenderung menjadi lebih sulit diobati.
 
 
Meskipun trichothecenes hadir dalam konsentrasi yang lebih rendah, mereka dapat menyebabkan unggas mengalami lesion pada mulut dan gizzard, karena trichothecenes memiliki kemampuan untuk berinteraksi sinergis dengan mikotoksin lainnya. Stres akibat ulserasi pada hewan ternak dapat menyebabkan penurunan performa yang lebih besar. Solusi manajemen risiko mikotoksin sangat disarankan untuk mengikat dan menonaktifkan semua mikotoksin utama dan membantu performa tetap positif. Mencampur bahan pakan yang terkontaminasi dengan sumber bahan pakan lain yang memiliki kontaminasi rendah untuk mengurangi level mikotoksin secara keseluruhan sangat dianjurkan untuk melindungi kesehatan hewan.
 
 
DDGS 
DDGS berada pada risiko ekstrim dengan menjadi perhatian utama untuk semua ternak. Konsentrasi B trichothecenes dan ZEN yang terdeteksi dalam sampel menjadi perhatian bagi industri unggas, terutama untuk breeder dan layer sangat disarankan untuk menerapkan solusi manajemen mikotoksin untuk mengatasi mikotoksin jenis ini.
 
 
Selanjutnya, kami menyarankan untuk mencampur DDGS yang memiliki konsetrasi mikotoksin tinggi dengan DDGS yang lebih rendah mikotoksinnya untuk meminimalkan bahaya bagi kesehatan unggas. Konsentrasi A trichothecenes yang terdeteksi dalam sampel cukup tinggi yang dapat menyebabkan ulserasi mulut dan ampela sehingga dapat menurunkan performa secara signifikan. Kami menyarankan peternak untuk terus memantau kondisi DDGS dari semua jenis mikotoksin dan selalu meng gunakan mycotoxin deactivator.
 
 
Pakan 
Pakan berada pada risiko sedang untuk semua ternak. Mikotoksin fusarium seperti ZEN, DON, dan B trichothecenes lainnya terdeteksi pada tingkat sedang, hal ini menunjukkan potensi yang tinggi untuk berinteraksi sinergis dan menyebabkan penurunan performa. Selain itu, terdeteksinya ala merupakan indikator adanya potensi masalah pada saat penyimpanan pakan.
 
 
Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah mikotoksin dapat dihancurkan dengan metode pengolahan pakan, seperti pelet dan ekstrusi. Meskipun pengolahan memang akan mengurangi kontaminasi namun tidak menghilangkannya, hal ini terbukti dengan konsentrasi mikotoksin yang ditunjukkan pada hasil di atas. Oleh
karena itu, kami menyarankan untuk terus memantau kondisi mikotoksin dalam pakan dan meminimalkan waktu penyimpanannya, untuk menghindari produksi Ala dan OTA lebih lanjut.
 
 
Wheat 
Wheat berada pada risiko rendah pada semua jenis ternak. Karena wheat memiliki karakteristik yang cukup rentan terhadap mikotoksin fusarium, peternak disarankan secara rutin untuk mengecek keberadaan mikotoksin, mungkin sebelum makan, untuk mengatasi kemungkinan adanya mikotoksin saat proses penyimpanan pakan. Jika gandum disimpan untuk waktu yang lama, disarankan untuk memantau penumpukan mikotoksin pada proses penyimpanan seperti Ala dan OTA.
 
 
Kesimpulan
Indonesia saat ini menghadapi risiko mikotoksin pada ka tegori menengah-tinggi, dengan berbagai mikotoksin yang dapat  mencemari berbagai komoditas pakan, bahkan ada pada level yang tinggi. Bahan baku alternatif memang dapat memberikan solusi yang mampu menghemat biaya dalam menghadapi kenaikan
harga bahan pakan, namun bahan tersebut harus digunakan dengan bijak dan tetap memperhatikan kandungan mikotoksin didalamnya.
 
 
Beberapa bahan pakan yang dianalisis dalam survei ini menunjukkan adanya kontaminasi mikotoksin, jika strategi manajemen risiko mikotoksin yang tepat tidak diterapkan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan dan produktivitas hewan ternak. Pengujian pakan secara teratur sangat penting untuk menjaga kontaminasi tetap terkendali.
 
 
Mycofix® adalah satu-satunya produk yang beredar di pasaran yang memiliki 6 registrasi EU dalam hal deaktivasi mikotoksin. Berkat kombinasi adsorpsi dan biotransformasi, Mycofix® mampu mendeaktivasi mikotoksin yang paling relevan, mendukung produksi hewan maupun pakan. Berkat mekanisme kerja yang unik dan spektrum inaktivasi yang luas, penggunaan Mycofix® memungkinkan lebih banyak leksibilitas dalam memilih bahan baku mana yang akan digunakan, sehingga secara signifikan me ngurangi biaya pakan, dan memberikan pengembalian investasi yang luar biasa. TROBOS/Adv
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain