Sabtu, 1 Januari 2022

Tangkal Koksidiosis dengan EVANT® Plus Hipramune® T

Tangkal Koksidiosis dengan EVANT® Plus Hipramune® T

Foto: 


Dengan EVANT® Plus Hipramune® T, 100 % vaksinasi koksidiosis pada ayam dimung kinkan dan dapat mencapai perlindungan  lengkap ayam tanpa harus kembali menggunakan obat antikoksidiosis
 
 
Kesehatan merupakan aspek kritis dalam berbudidaya ayam modern, sebab tak jarang ayam terserang penyakit dan alhasil berdampak pada proit peternak.
Salah satu perusahaan global yang bergerak di bidang kesehatan ternak yakni PT Hipra Indonesia (HIPRA), tak henti-hentinya berkontribusi guna memberi solusi atas permasalahan kesehatan ternak tersebut. HIPRA menghadirkan produk baru bernama EVANT® Plus Hipramune® T pada Rabu (15/12), guna menangkal penyakit koksidiosis yang acap kali menyerang ayam. Sebelumnya, HIPRA telah memiliki produk unggulan bernama EVALON® Plus Hipramune® T.
 
 
Dalam acara online launching EVANT® Plus Hipramune® T, Regional Technical & Marketing Manager HIPRA Asia & Oceania, Ong Shyong Wey menerangkan bahwa vaksin dari HIPRA tersebut dapat meningkatkan keseragaman  (uniformity) dan menurunkan angka kematian tanpa menggunakan antikoksi dalam produksi unggas, khususnya di Indonesia.
 
 
“Anda akan memiliki pemahaman tentang pencegahan koksidiosis dengan menggunakan EVALON® Plus Hipramune® T dan EVANT® Plus Hipramune® T, untuk investasi jangka panjang dan proitabilitas. Ini adalah upaya bersama kami guna mengurangi masalah resistensi antimikroba, dengan menggunakan vaksin untuk mengendalikan koksidiosis yang menganggu kesehatan unggas dan manusia,” terang dia dalam sambutannya.
 
 
Pencapaian EVALON® Plus Hipramune® T
Pada kesempatan yang sama, Area Ma nager HIPRA, Emilazola Sihombing menuturkan koksidiosis merupakan penyakit penting dalam industri perunggasan di seluruh dunia. Sebab, koksidiosis dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang signifikan dan memberikan
kerugian ekonomi yang besar, yang sifatnya bisa klinis serta subklinis.
 
 
“Saat ini, HIPRA mempunyai dua vaksin koksidiosis, yang pertama EVALON® Plus Hipramune® T dan yang kedua EVANT® Plus Hipramune® T. Saya ingin memberikan gambaran tentang EVALON® Plus Hipramune® T dari 2019 sampai sekarang. Dari graik, terlihat peningkatan pelanggan dari 2019 ke 2020 dan stabil ke 2021,” sebutnya.
 
 
Selanjutnya, Emilazola melaporkan jumlah pelanggan meningkat signifikan dari tahun ke tahun. Dari segmen pelanggan, penjualan terbanyak adalah di breeder (pembibit). Hampir semua breeder yang ada di Indonesia sudah pernah menggunakan EVALON® Plus Hipramune® T. Lebih lanjut, Area Manager HIPRA, Olelia menjelaskan koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit Eimeria sp pada unggas. Cara mengontrol kasus koksidiosis dapat dilakukan dengan menggunakan vaksinasi, pemberian antikoksidiosis pada pakan serta pemberian antikoksidiosis melalui air minum di farm. Adapun pentingnya pemberian vaksin koksidiosis live ialah untuk imunitas jangka panjang bagi ayam.
 
 
Menurut pemaparan Olelia, EVALON® Plus Hipramune® T sendiri telah tiga tahun hadir di Indonesia. “Angka penjualan berdasarkan jumlah dosis per tahun naiknya cukup signiikan. Seperti diketahui, produk ini dimulai pada Juni 2019 dan diawali dengan 2 juta dosis, kemudian meningkat menjadi 16 juta dosis di tahun berikutnya.
 
 
Tren angka per bulannya terlihat terus meningkat, dan angka ini sangat dipengaruhi oleh jadwal chick-in dari DOC (ayam umur sehari) Parent Stock (PS).
 
 
EVALON® Plus Hipramune® T ini telah digunakan di sentra-sentra perunggasan yang ada di Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Dari data yang ada, dapat disimpulkan bahwa EVALON® Plus Hipramune® T merupakan produk unggulan dan sudah dipakai di banyak area. Berikutnya, EVANT® Plus Hipramune® T diluncurkan sebagai vaksin koksidiosis untuk perlindungan terhadap broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur).
 
 
Hasil Survei Koksidiosis
Survei responden yang telah dilakukan oleh HIPRA, bertujuan untuk mengetahui status koksidiosis yang terjadi di Indonesia saat ini. Hal ini dikatakan oleh Sales Representative HIPRA, Hendro Dwi Sugiyanto, dan selanjutnya survei dilakukan terhadap 125 responden yang sebagian besar adalah animal health dan juga tim produksi. Sedangkan sisanya merupakan pemilik (owner), tim laboratorium, hatchery dan lain-lain. “Pada kesempatan ini, kami menyampaikan hasil survei koksidiosis yang telah dilakukan dalam kurun waktu 25 Oktober hingga 12 November 2021.
 
 
Segmentasi dari responden kami berasal dari 44 % breeder, 32 % broiler, 23 % layer dan 1 % dari lainnya. Dari hasil survei mengenai tipe kandang, menunjukkan bahwa 59 % responden memiliki tipe kandang closed house, 28 % open house dan 13 % semi closed house,” tutur Hendro. Beralih pada pemeriksaan saluran pencernaan, ia menerangkan sebanyak 97 % responden melakukan pemeriksaan saluran pencernaan pada saat melakukan bedah bangkai.
 
 
Hal ini menunjukkan bahwa saluran pencernaan merupakan fokus utama pada saat melakukan bedah bangkai. Mayoritas responden menemukan adanya
permasalahan pada saluran pencernaan. “Sering munculnya kasus pada saluran pencernaan, sebanyak 57 % responden mengalami gejala klinis yang mengarah pada kasus koksidiosis.
 
 
Depresi atau kelemahan umum dan juga diare berdarah merupakan gejala klinis yang sering ditemukan pada saat melakukan bedah bangkai. Ini diikuti dengan bulu kusut, dan juga diare berdarah,” ungkapnya. Sales Representative, Bambang Rifky  Yudyantoro pun turut mengimbuhkan bahwa diare berdarah yang ditemukan berdasarkan tingkat keparahannya memiliki level ringan, sedang hingga parah. Seperti diketahui, kasus koksidiosis dapat menyerang ayam pada berbagai umur dan sebagian besar responden menyatakan bahwa kasus koksidiosis kerap muuncul pada umur ayam sebelum mulai bertelur.
 
 
“Koksidiosis paling banyak menyerang ayam pada umur di bawah 5 minggu. Oleh itu, monitoring pada 5 minggu pertama sangatlah penting untuk dilakukan. Beberapa cara untuk monitoring dan mendiagnosa lesi koksidiosis di lapangan di antaranya ialah pemeriksaan OPG (oocysts per gram) dan juga lesion scoring,” tekan Rifky.
 
 
Poin Kritikal Vaksin
Berdasarkan penjelasan Technical & Marketing Manager, Diptya Cinantya, terdapat poin kritikal yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Beberapa teknikal tipsnya ialah pastikan aplikasi yang benar dan tepat, yaitu dengan pengenceran, keseragaman distribusi spray dan ukuran droplet yang tepat. Adanya penambahan seperti coloring agent atau aroma, berfungsi untuk memastikan intake vaksin secara lebih optimal.
 
 
“Selanjutnya, penting untuk menghindari komponen-komponen yang dapat menghambat replikasi dari Eimeria vaksin berikut, yang pertama untuk mendapatkan imunitas yang maksimal, maka perlu dihindari obat antikoksidiosis apapun selama masa pemeliharaan ayam. Ada juga beberapa antibiotik, yaitu seperti spiramycin dan tetracycline
yang perlu dihindari di tiga minggu awal selama replikasi Eimeria dari aplikasi vaksinasi,” sebutnya.
 
 
Kedua jenis antibiotik tersebut di atas, terindikasi dapat menghambat replikasi dari ookista. Berikutnya perlu disediakan media yang optimal untuk replikasi ookista, sehingga manajemen litter merupakan hal krusial yang harus diperhatikan. Terakhir, harus dipastikan faktor imunosupresif yang dapat menekan sistem imun ayam, terutama di minggu-minggu awal.
 
 
Di momen yang sama, Research & Development Senior Manager HIPRA, Marc Pages Bosch menyebutkan masalah koksidiosis terkadang peternak menemukan performa ayam rendah, rasio konversi pakan atau FCR (feed convertion ratio) tinggi serta ayam terkena diare di peternakan. “Apakah peternak menggunakan terlalu banyak antibiotik di peternakan, sehingga ini menjadi masalah atau peternak memiliki banyak penyakit sekunder. Dalam kasus ini biasanya ayam menderita koksidiosis subklinis, yang merupakan bagian besar dari penyakit,” jabarnya.
 
 
Penilaian lesi, Marc melanjutkan, ialah alat yang ampuh untuk menilai apa yang terjadi pada ayam dari perspektif usus. Jika ada yang menguasai teknik ini, maka ia dapat menilai media mana yang merupakan spesies yang mempengaruhi lock ayam.
 
 
EVANT® Plus Hipramune® T
Corporate Product Manager, Joan Molist Badiola menyampaikan dengan EVANT® Plus Hipramune® T, 100 % vaksinasi koksidiosis pada ayam dimungkinkan dan dapat mencapai perlindungan lengkap ayam tanpa harus kembali ke penggunaan obat antikoksidiosis. EVANT® Plus Hipramune® T telah terbukti menjadi vaksin koksidiosis yang sangat andal.
 
 
“Dengan itur unik yang membedakannya dengan vaksin lain yang ada di pasaran, yakni strain terpilih dari spesies Eimeria sp. yang dilemahkan secara prekoksius, Hipramune® T yang mengandung adjuvant sebagai imunomodulator serta pewarna ungu muda dan aroma vanillin untuk meningkatkan intake vaksin. Selain itu Hipra juga menyediakan pendukung diagnosa menyeluruh yang berkaitan dengan proses vaksinasi dan
diagnosa koksidiosis,” urai dia.
 
 
Manfaat penggunaan vaksin EVANT® Plus Hipramune® T adalah pengurangan resistensi terhadap obat antikoksidiosis. Selain itu, strain vaksin yang ada di dalam EVANT® Plus Hipramune® T berasal dari spesies penyebab koksidiosis klinis dan juga subklinis pada ayam.“ Nilai tambah dari vaksin koksidiosis ini adalah konsep vaksinasi yang cerdas, dikembangkan secara eksklusif oleh HIPRA. Terdiri dari 3 elemen, chip RFID (radio frequency identiication) dalam
label vaksin, perangkat spray bernama Hipraspray, dan perangkat lunak khusus untuk mengelola dan melacak data vaksinasi bernama HIPRAlink® Vaccination, ” imbuh Joan.
 
 
Dengan vaksin baru dari HIPRA ini, Joan menekankan kembali bahwa komitmen HIPRA untuk pencegahan koksidiosis pada unggas dan memberikan inovasi dan teknologi kepada industri kesehatan hewan. “EVANT® Plus Hipramune® T, selain komposisi yang cermat untuk memastikan perlindungan yang efektif terhadap penyakit, juga disertai dengan pelarut inovatif Hipramune® T” pungkasnya. TROBOS/Ad

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain