Selasa, 4 Januari 2022

Urgensi Kelembagaan Peternak Domba

Urgensi Kelembagaan Peternak Domba

Foto: dok.istimewa


Bandung (TROBOSLIVESTOCK.COM). Beternak domba telah menjadi usaha sampingan untuk menopang ekonomi rumah tangga dengan tingkat kepemilikan sekitar 3 - 5 ekor. Meskipun telah bermunculan peternak domba yang menjadikan peternakannya sebagai sumber penghasilan utama.

 

Domba merupakan ternak yang mampu berkembang dan bertahan di semua zona agroekologi, karenanya ternak domba menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

 

Mariana Sulistyati, Dosen Dosen Program Studi Peternakan Universitas Padjajaran (Unpad) mengatakan umumnya ternak domba oleh masyarakat di wiliayah pedesaan dipelihara secara subsisten, dijadikan sebagai komoditas tabungan yang sewaktu-waktu diuangkan untuk menutupi kebutuhan rumah tangga termasuk untuk biaya pendidikan, kesehatan, pesta perkawinan dan syukuran lainnya.

 

Bagi sebagian petani di Jawa Barat, peternakan domba telah menjadi usaha andalan dan tumpuan ekonomi rumah tangga dan sebagian besar masih diusahakan secara sambilan dengan tingkat kepemilikan sekitar 3 - 5 ekor.

 

“Daging domba bisa diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, agama dan kepercayaan manapun di Indonesia, mengingat penggemar daging domba dari tahun ke tahun semakin meningkat. Ditinjau dari aspek sumber daya ternak domba memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif,” ucapnya.

 

Mariana menyebutkan populasi domba 90 % terkonsentrasi di Pulau Jawa. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) tahun 2021, populasi domba di Indonesia tahun 2021 tertinggi berada Jawa Barat sebesar 68,41 %, dengan Purwakarta sebagai daerah yang memiliki populasi domba tertinggi di Jawa Barat tahun 2021 sebanyak 45 %.

 

Peternak didorong untuk bergabung dalam kelompok dan mengadopsi manajemen kelompok yang baik melalui penguatan kerjasama antar anggota dalam meningkatkan efisiensi usaha.

 

“Kelompok peternak domba menjadi titik sentral memudahkan berbagai aktivitas seperti memudahkan dalam penyuluhan, memudahkan memperoleh dukungan finansial, memudahkan dalam penjualan dan akses pasar,” ungkapnya.

 

Kelembagaan kelompok peternak merupakan aturan dalam kelompok yang mengatur anggotanya untuk dapat saling bekerjasama dalam pencapaian tujuan. Pengembangan kelembagaan peternak domba dilatabelakangi oleh kenyataan kelemahan aksesbilitas peternak terhadap lembaga keuangan, terhadap lembaga pemasaran, terhdap lembaga penyedia sarana produksi.

 

Diatur dalam Permentan No. 76 Tahun 2016 tentang Pembinaan Kelembagaan Petani bahwa Kelembagaan petani (kelompok tani, gabungan kelompok tani, asosiasi komoditas pertanian, dan dewan komoditas pertanian nasional) ditumbuhkan dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani.

 

“Peran kelembagaan sangat penting dalam upaya pemberdayaan peternak. Dimensi peran kelembagaan meliputi penyebaran teknologi dan informasi, wadah kerjasama, edukasi peternak, peningkatan pendapatan peternak,” sebutnya.

 

Menurut Mariana, diperlukannya fasilitas bagi kelembagaan ekonomi peternak diantaranya penguatan kapasitas manajerial usaha kelembagaan ekonomi peternak, pengembangan jejaring dan kemitraan, serta pengembangan pelayanan informasi, pemagangan dan pelatihan bagi calon kelembagaan ekonomi peternak.

 

“Upaya pemberdayaan peternak dilakukan melalui kebijakan penguatan kapasitas kelembagaan peternak menjadi penguatan kelembagaan ekonomi peternak yang diarahkan menjadi badan usaha milik peternak atau BUMP dalam bentuk koperasi ternak dan atau pembentukan perseroan terbatas dan lain-lain yang dapat meningkatkan status daya tawar peternak dengan berbagai pihak,” tuturnya.ed/shara


 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain