Rabu, 12 Januari 2022

Pemanfaatan Bungkil Inti Sawit, Perlu Teknologi, Policy dan Sistem Informasi

Pemanfaatan Bungkil Inti Sawit, Perlu Teknologi,  Policy dan Sistem Informasi

Foto: dok.istimewa


Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM).Pemanfaatan bungkil inti sawit (BIS) sebagai bahan pakan lokal memerlukan bantuan teknologi pengolahan  lanjut  berupa fraksinasi dan hidrolisis untuk  meningkatkan kualitas fisik dan kimianya.

 

“Proses pengolahan BIS juga harus berada di wilayah BIS dihasilkan,” ucap Prof Nahrowi, Guru Besar Teknologi Pakan dari IPB University pada Webinar Palmofeed Institute dengan tajuk Pengelolaan Bungkil Inti Sawit Sebagai Pakan pada Rabu (12/1).

 

Lebih lanjut, Prof Nahrowi menyampaikan bahwa BIS terhidrolisis (palmofeed) dapat dipakai dalam campuran ransum unggas sebesar 12,5 % dan masih dapat ditingkatkan lagi penggunaannya jika diikuti dengan penambahan enzim penghidrolisis serat.

 

“Hasilnya, dengan penambahan palmofeed 12,5 % pada broiler mampu meningkatkan performa broiler meliputi pertambahan bobot badan serta bobot badan. Paling penting palmofeed diberikan kepada broiler  yang telah berumur 7 hari,” sebut Prof Nahrowi.

 

Dia menyebutkan pemberian palmofeed pada ransum mampu menekan biaya pakan untuk menghasilkan 1 kg daging (FCR) dibandingkan tanpa pemberian palmofeed.

 

Desianto Budi Utomo, Ketua Umum (GPMT) Gabungan Perusahaan Makanan Ternak mengatakan bahwa tantangan BIS sebagai sumber protein ialah di aspek produksi pemakaian BIS dengan level tinggi akan menurunkan kualitas pellet. Selain itu, hasil samping industrI sawit perlu teknologi peningkatan mutu karena nilai gizinya yang rendah.

 

Faktor yang memengaruhi ialah serat kasar, kecernaan protein, serta asam amino yang terperangkap dalam serat kasar. Juga terdapat cangkang atau batok yang perlu dipisahkan. Walhasil diperlukan teknologi yang tepat untuk mengolah BIS sebagai sumber protein pada ransum unggas.

 

“Tiga faktor yang juga perlu dipertimbangkan apabila BIS dijadikan bahan baku lokal bahkan diserap oleh indsutri yakni mencakup kualitas yang stabil, kepastiaan pasokan serta harga yang kompetitif,” imbuhnya.

 

Didiek Purwanto, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) menyampaikan bahwa BIS menjadi salah satu sumber protein dan energi di industri feedlot yakni 10-20 % dalam ransum.

 

Dikatakannya, meskipun  BIS hampir selalu tersedia sepanjang tahun namun penggunaan BIS untuk ransum peternakan rakyat sangat minim. Diantara penyebabnya adalah tataniaga BIS yang belum merata ke seluruh wilayah produksi ternak. Sehingga muncul stigma peternak rakyat menganggap BIS merupakan bahan pakan yang mahal.

 

Mengatasi persoalan tersebut, menurut Didiek, pemanfaatan BIS sebagai pakan lokal sumber protein memerlukan keputusan strategis pemerintah. Agar  perusahaan pengolahan sawit dalam negeri memprioritaskan BIS yang dihasilkannya untuk memasok kebutuhan bahan pakan dalam negeri. Sehingga harga BIS menjadi lebih ekonomis dan dapat diandalkan ketersediaannya.

 

Maka diperlukan sistem informasi tentang BIS yang mudah diakses dan akurat datanya merupakan keniscayaan. Informasi harus berisi standarisasi kualitas BIS, kuantitasnya dan di mana keberadaannya.

 

Didiek menggarisbawahi, BIS dapat saja diekspor asalkan telah dilakukan pengolahan dan perbaikan (improvement) lebih lanjut, bukan berupa bahan baku dasar. “Artinya, prioritasnya untuk kebutuahn dalam negeri,” katanya.

 

Di sisi lain, Didiek menekankan perlunya membumikan hasil penelitian dalam bentuk bahasa  aplikasi yang mudah dilakukan ditingkat petani/peternak dengan mengkolaborasikan sumber bahan pakan lokal secara sinergis untuk mencapai efisiensi biaya dan berorientasi tuntutan pasar dengan mengoptimalkan teknologi tepat guna.

 

“Ini merupakan tanggung jawab kolaboratif pemerintah, lembaga penelitian, akademisi, asosiasi pakan, peternak, serta industri,” tutupnya.ed/ zul

                 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain