Kamis, 13 Januari 2022

Biosensor dan Kecerdasan Buatan untuk Diagnosis Penyakit Surra

Biosensor dan Kecerdasan Buatan untuk Diagnosis Penyakit Surra

Foto: dok.istimewa


Bogor (TROBOSLIVESTOCK.COM). Penggunaan teknologi berbasis biosensor dan kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) diharapkan akan mengatasi kendala dalam diagnosis penyakit surra (trypanosomiasis) yang menyerang ternak besar.

 

Trypanosoma evansi merupakanpenyebab utama penyakit trypanosomiasis di Indonesia, ataudikenal dengan nama Surra. Pada paparan dengan judul ‘Pengembangan Metode Biosensor dan Artificial Intelligence untuk Diagnosis Trypanosomiasis (Surra)’, Peneliti di Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitVet), April H Wardhana menjelaskan bahwa penyakit ini menyerang berbagai jenis hewan, seperti kuda, unta, kerbau, sapi, kambing dan domba, termasuk babi.

 

Penelitian ini dilakukan oleh April bersama tim, yang terdiri dari Dyah H Sawitri, Hasim Munawar, Romsyah Maryam dan Fathia Amadani. Trypanosoma evansi penyebab penyakit surra sendiri merupakan sejenis parasit protozoa darah.

 

Namun demikianterdapat kendala dalam mendiagnosa penyakit ini, yang mana kelemahan dalam mendiagnosa dengantepat dari Card Agglutination Test for Trypanosomiasis / T. evansi (CATT/T. evansi), ELISA danPCR menyebabkan pengendalian surra di lapang masih menghadapi kendala.

 

Oleh sebabitu, diperlukan alternatif piranti diagnosis yang cepat, akurat dan mudah diaplikasikan, yaitu biosensor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja biosensor surra dalam mengidentifikasi sampel serum positif dan negatif. 

 

“Beberapa metode diagnosis di lapang memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu diantaranya juga terbilang mahal. Pengembangan metode diagnosis surra berbasis biosensor diaharapkan memberikan piranti alternatif untuk digunakan dalam pengendalian surra di lapang,” ujar April.

 

Di samping itu, ia melanjutkan, penggunaan teknik AI (artificial intelligence) guna mendeteksi morfologi parasit ini pada preparat ulas darah juga diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi petigas laboratorium.

 

Adapun kesimpulan dari penelitian ini yakni prototipe biosensor surra yang dikembangkan, terbukti mampu membedakan serum positif dan negatif. “Ini berpotensi untuk dijadikan piranti dalam mendeteksi surra di lapang. Kendati demikian, guna menyempurnakan respon interaksi antara protein dengan antibodi surra, maka perlu dilakukan uji stabilitas, sensitivitas dan spesifitas,” beber dia.

 

Menurutnya, hal ini juga berlaku pada metode AI yang terbukti efektif dapat dikembangkan untuk mendeteksi morfologi T. evansi, serta dapat diaplikasikan untuk jenis parasit yang lain.ed/bella

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain