Jumat, 14 Januari 2022

Metode Sensititre untuk Uji Resistensi Antibiotika

Metode Sensititre untuk Uji Resistensi Antibiotika

Foto: dok.istimewa


Wates (TROBOSLIVESTOCK.COM). Metode sensitire menggunakan prinsip microbroth dilution menghasilkan output pengujian berupa angka MIC (minimum inhibitory concentration).

 

Penggunaan metode ini dibedah pada webinar yang digelar oleh Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates beberapa waktu yang lalu. Materi pengujian resistensi antibiotika dengan metode sensititre dan deteksi gen resisten menggunakan real time polymerase chain reaction (PCR) disajikan oleh Santi Lestari.

 

Santi menyampaikan metode sensitire dengan menggunakan prinsip microbroth dilution, yaitu sejumlah isolat diinokulasikan pada sejumlah kecil media tumbuh yang mengandung antibiotik dengan konsentrasi tertentu. Output pengujian adalah angka MIC (minimum inhibitory concentration) yaitu konsentrasi minimum yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

 

Prosedur pengujian ini , dia menerangkan, dilakukan dengan menumbuhkan bakteri murni pada plate yang mengandung pengenceran bertingkat suatu agen antibiotika. Nilai MIC ditentukan berdasarkan konsentrasi terendah yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

 

“Kelebihan metode sensitire ialah mampu mengetahui pola resistensi kuman terhadap beberapa antibiotik secara langsung dan akurat serta pengujian lebih mudah dan praktis namun membutuhkan biaya yang mahal,” dia menjelaskan.

 

Mengenai alur penelitian, kata Santi, didahului dengan isolasi dan identifikasi (isolat Salmonella sp) lalu dilakukan purifikasi/pemurnian isolat. Berikutnya isolate Salmonella sp dilakukan pengujian resistensi antibiotika dan deteksi gen resisten dengan real time.

 

Hasilnya dengan metode sensitire, terhadap pola resistensi isolate Salmonella sp terhadap antibiotik dari yang paling resisten ialah Nalidixic acid ( 93,3 % ) , Ciprofloxacin ( 80 % ), Tetracyclin ( 53,3 % ), Ampicillin ( 46,67%), Gentamycin ( 33,3 % ), Cefotaxime ( 26,67 % ), Azytromycin ( 20 % ), Trimetroprim ( 20 % ) dan Chloramphenicol ( 6,67 % ).

 

Deteksi gen resisten ampicillin menunjukkan tujuh dari sembilan isolat resisten terhadap ampicillin (77,8 %, 7/9) positif blaTEM, sebanyak satu isolat resisten ampicilin (11, 1%, 1/9) positif blapSE. Isolat yang resisten terhadap antibiotik golongan chloramphenicol sebanyak 1 isolat negatif floR.

 

Artinya, Isolat Salmonella sp yang terdeteksi resisten terhadap ampisilline menggunakan metode sensititre mempunyai gen penyandi resistensi BlaTEM (77,8%) dan BlapSE (11,1%) atau 88,9% mempunyai gen penyandi resistensi ampisilin yang terdeteksi menggunakan Realtime rt-PCR dengan nilai asosiasi baik,” terangnya.

 

Webinar ini adalah bagian dari tugas BBVet Wates sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang bertugas melaksanakan pengembangan teknik dan metode penyidikan diagnose dan pengujian. Selain tugas pokok lainnya berupa pengamatan dan pengidentifikasian diagnosa, pengujian veteriner dan produk hewan.

 

Selain Santi, pada webinar itu tampil pula Rama Darmawan yang melaporkan hasil penyidikan penyakit classical swine fever (CSF) dengan pendekatan faktor risiko dan rerata kontak pada peternakan babi. Keduanya berasal dari internal BBVet itu sendiri. Juga menghadirkan pembahas dari yakni Michael Haryadi Wibowo, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. ed/zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain