Rabu, 19 Januari 2022

Mendesak, Perbaikan Rantai Pasok Sapi di Jawa Timur

Mendesak, Perbaikan Rantai Pasok Sapi di Jawa Timur

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM).Rantai pasok sapi potong di Jawa Timur mendesak untuk diperbaiki secara bersama oleh setiap pemangku kepentingan. Sebab Jatim merupakan sentra produksi sapi potong yang memiliki pengaruh terhadap harga dan pasokanregional maupun nasional.

 

Rantai pasok yang terjadi saat ini memiliki banyak agen/pelaku yang menyebabkan ketidak ekonomisan serta harga daging di hilir tidak mampu diprediksi.

 

“Belum lagi, adanya daging impor yang merebakdi pasar tradisional mengakibatkan kerumitan mata rantai pasok sapi potong,” cetus Rahmad Cahyadi, Peneliti ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Cabang Surabaya saat mengikuti webinar online dengan tajuk ‘Menjadikan Jawa Timur Sebagai Sentra Produksi Sapi Potong Nasional’ beberapa waktu yang lalu.

 

Rahmad menjelaskan, secara umum rantai pasok merupakan konsep yang didalamnya terdapat sistem pengaturan berkaitan dengan aliran produk, aliran informasi, maupun aliran keuangan.

 

“Kajian yang kami lakukan, melihat bahwa rantai pasok di Jatim terbagi antara ternak sapi hidup dan daging di hilir. Keduanya merupakan satu kesatuan yang memengaruhi perhitungan nilai keekonomisan di dalam mata rantai pasokan sapi potong,” tuturnya.

 

Rantai pasok yang ada di sapi hidup maupun di daging cenderung terdapat ketergantungan pasar. Terbukti, masing-masing pelaku rantai pasok tersebut memiliki peran secara independen. Akibatnya, banyak pelaku yang bermain menimbulkan kerumitan.

 

 “Dengan kata lain, di pembiakan, penggemukan, dan pembesaran terdapat rantai pasoknya sendiri-sendiri. Sementara, rantai pasok di Jatim kebanyakan lebih menyukai di fase penggemukan, sebaliknya di fase pembiakan sangat kedodoran akibat terjadi pengurasan induk. Akibatnya, belum sampai di fase penggemukan atau pembesaran sudah habis,” dia menjelaskan.

 

Sementara itu, di rantai pasok daging terdapat komoditas daging beku dan daging segar yang kebanyakan didistribusikan ke pasar tradisional, horeka (hotel, restaurant, kafe) bahkan ke pasar modern serta jalur industri pengolahan. Bahkan, konsumsi daging di pasar tradisional diperuntukkan untuk kebutuhan pembuatan bakso sebesar 60 %, dan hanya 20 % dikonsumsi untuk rumah tangga.

 

Dia menyesalkan, akibat daging impor dari India yang membanjiri pasar tradisional mengakibatkan sangat sulit untuk mengatur mata rantai secara keseluruhan dikarenakan harga dipasaran susah untuk diprediksi. “Walhasil diperlukan kajian khusus terhadap pengaruh itu,” ungkapnya.

 

Dikatakannya, rantai pasok yang menguntungkan semua pelaku yang terlibat akan mendorong peningkatan populasi sapi potong di Jatim. Tak terkecuali, peternak rakyat yang merupakan mesin produksi yang akan berdampak terhadap sustainability peternakan di Jatim.

 

“Artinya, jika peternak rakyat tidak diperhatikan otomatis peningkatan populasi sapi potong tidak akan secepat hari ini,” katanya.ed/ zul

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain