Rabu, 19 Januari 2022

Impor Daging Kerbau, Ironi Klaim Kenaikan Produksi dan Stagnasi Konsumsi

Impor Daging Kerbau, Ironi Klaim Kenaikan Produksi dan Stagnasi Konsumsi

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSLIVESTOCK.COM). Sebanyak 80 ribu ton daging kerbau India diimpor Indonesia sepanjang 2021. Sedikit menurun, dibanding 100 ribu ton impor barang yang sama sepanjang 2016 – 2020.

 

Gap antara kebutuhan dengan pasokan daging domesti masih terus terjadi, ditengah klaim peningkatan produksi dan stagnasi konsumsi. Produksi dalam negeri diklaim bertumbuh yaitu 2019 - 2020 meningkat 0,10 % kemudian 2020 ke 2021 tumbuh 4,56 % dan 2021 ke 2022 tumbuh 3,13 %.

 

Direktur Eksekutif Pataka Ali Usman mengatakan, kebijakan impor daging kerbau India harus dievaluasi, sejauh mana kemampuan daging beku tersebut menurunkan harga daging sapi lokal. “Faktanya harga daging sapi masih tinggi dan justru daging kerbau mengalami kenaikan,” ungkapnya dalam Webinar Pataka ke 67 dengan tajuk Banjir Kerbau India, Kemana Sapi Lokal Kita?

 

Jauh Panggang dari Api

Ketua Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Didiek Purwanto membubuhkan garis bawah pada program pemerintah impor daging kerbau India maupun sapi asal Brazil dengan harapan mencapai Rp 80.000 per kilogram secara nasional. Tetapi realisasinya, harga daging sapi lokal dalam negeri rata-rata mencapai Rp 105.000 per kg bahkan mencapai Rp 109.000 per kg sepanjang tahun 2019 – 2021.

 

Jadi program impor daging kerbau India ini belum berhasil menurunkan harga daging sapi lokal dalam negeri. “Justru yang terjadi sebaliknya, harga daging kerbau bisa saja terangkat naik diatas Rp 80.000 per kg. Ini menjadi persoalan yang perlu kajian lebih detail,” ajaknya.

 

Didiek mengatakan menurut prognosa kebutuhan daging sapi sebesar 625.000 ekor setara 111.607 ton daging. Di Tahun 2021, konsumsi nasional sebanyak 696.956 ton sedangkan produksi dalam negeri 425.978 ton dan terjadi defisit sekitar -270.978 ton.

 

Didiek menyampaikan, prognosa kebutuhan daging sapi tahun 2017 – 2021 selalu ada gap (jarak). Jadi peningkatan populasi setiap tahun ternyata tidak menurunkan gap konsumsi nasional dengan produksi. Padahal menurut data pemerintah populasi sapi meningkat 2018 – 2019 sebanyak 16.4 juta ekor di tahun 2016 hingga 18 juta ekor di tahun 2021 secara nasional.

 

Ia menjelaskan melalui BUMN Pangan, impor daging kerbau beku India 2016 – 2021 sebanyak 39.524 ton (2016) tertinggi 93.970 ton (2019) kemudian sedikit menurun 73.780 (2021). Sedangkan realisasi impor daging Brazil 16.706 ton tahun 2021.

 

Neraca Defisit

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Sesdit PKH Kementan) Makmun menyampaikan, Populasi sapi terbanyak Jawa Timur 4,8 juta ekor, Jawa Tengah 1,8 juta ekor, NTB 1,2 juta ekor, Sulsel 1,4 juta ekor dan NTT 1,1 juta ekor. Sedangkan partisipasi konsumsi masyarakat Indonesia relatif stagnan.

 

Sedangkan perkembangan harga daging sapi terus meningkat di tahun 2021. Rerata harga daging sapi di tingkat produsen periode Januari 2017 - Januari 2022 cenderung mengalami peningkatan dari Rp 41.861 – 49.570 per kg bobot hidup. Sementara rerata harga daging sapi tingkat konsumen saat ini mencapai RP 118.900 per kg.

 

Lebih jelas Makmun mengatakan, perkembangan impor dari 2019 hingga 2021 jumlah penduduk meningkat dengan kebutuhan masih ada kekurangan namun dari tahu ke tahun neraca mengalami penurunan. Dimana impor setara daging di tahun 2022 yaitu sekitar 266.065 ton.

 

Sebenarnya produksi dalam negeri bertumbuh yaitu 2019 - 2020 meningkat 0,10 % kemudian 2020 ke 2021 tumbuh 4,56 % dan 2021 ke 2022 tumbuh 3,13 %.

 

Selama ini, program sikomandan untuk meningkatkan populasi dalam negeri tersebar diseluruh wilayah di Indonesia dengan juga menjaga sumber daya genetik namun untuk daerah yang dibuka dilakukan cross dengan jenis lain. Ia berharap pada desa korporasi yang didesain pemerintah maupun stakeholder bisa didukung oleh pembiayaan dan investasi yang berasal bukan hanya dari APBN dan APBD.

 

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Purus Subendro mengatakan, kebijakan impor daging kerbau memang bertujuan mulia menurunkan harga. Namun impor daging kerbau semakin tahun semakin meningkat. Sehingga ia khawatir kebanjiran daging kerbau India dapat mengganggu pertumbuhan peternakan rakyat mulai bangkit.

 

Ia berharap daging kerbau India dialokasikan ke daerah defisit, dengan jumlah terbatas dan khusus Jabodetabek. Tapi faktanya, daging kerbau India rembes ke daerah wilayah produksi juga terutama sentra peternak rakyat. Sehingga menghancurkan animo peternak rakyat untuk menjalankan usahanya untuk menyambung kebutuhan sehari-hari.

 

“Tahun 2022 diproyeksikan akan defisit sekitar -269,68 ton, padahal ada kenaikan populasi, tetapi belum mampu menjawab neraca defisit,” sesalnya.

 

Pemerintah berkeinginan swasembada namun untuk siapa jika pelaku usaha tidak sejahtera. Sejahterakan pelaku usahanya agar bisa menjadi sandaran ekonomi sehingga banyak yang terjun ke dalam usaha. Berdasarkan data BPS 56,48 % peternak sudah berumur 50 tahun ke atas sehingga menjadi PR Bersama. Skala pemilikan sapi sekitar 63,74 % memiliki 1-2 ekor yang tidak bisa menjadi sandaran ekonomi keluarga.

 

Fakta Berdikari

Direktur Operasional PT Berdikari Persero, Muhammad Hasim mengatakan berdasarkan hasil Rakortas (rapat koordinasi terbatas) tahun 2018 Berdikari mendapatkan penugasan impor daging kerbau sebanyak 20.000 ton atau sekitar 714 kontainer. Memasuki 2019 impor daging sapi Brazil sebanyak 10.000 ton, namun realisasinya hanya 3.500 ton.

 

Kemudian 2020 Berdikari mendapat penugasan impor daging kerbau 50.000 ton dan sapi Brazil sebanyak 10.000 ton dengan realisasi impor daging kerbau 24.724 ton dan sapi Brazil 1.900 ton.

 

“Untuk tahun 2021 impor daging kerbau tidak ada penugasan kepada Berdikari, yang ada hanya impor daging dari Brazil sekitar 20.000 ton dan realisasinya hingga hari ini kurang lebih 16.560 ton,” ungkap Hasyim.

 

Evaluasi Kebijakan

“Tataniaga harus dibenahi, jangan hanya melihat dari sisi konsumen tetapi dari sisi produsen peternak rakyat juga harus dilihat. Biaya pemeliharaan sapi masih tinggi, hingga soal rantai pasok fasilitas yang masih minim, sehingga harga daging sapi masih tinggi di konsumen akhir,” terang Ali Usman.

 

Padahal berbagai program pemerintah seperti Swasembada Daging Sapi Kerbau (PSDS) hingga teranyar Sikomandan. Meskipun upaya itu dilakukan untuk meningkatkan populasi yang telah menghabiskan anggaran hingga Triliunan per tahun. Tetapi defisit daging sapi masih cukup tinggi sehingga Indonesia masih melakukan impor daging kerbau India dan daging sapi dari Brazil. Upaya tersebut sudah lebih dari 10 tahun, tetapi masih belum mampu menjawab tantangan neraca sapi potong yang kian defisit ditengah angka konsumsi relatif stagnan.

 

Ia mengusulkan, sistem informasi pangan dalam satu data terkait supply-demand daging sapi harus dibangun. Tidak hanya dari soal data produksi tetapi angka konsumsi di berbagai daerah. Sehingga pemerintah dapat mengetahui jumlah peternak dan ternaknya di tiap daerah, juga data biaya produksi dari pemeliharaan ternak itu sendiri, pasokan bahan baku pakan, penyediaan bibit hingga ke sistem rantai pasok. Sehingga data harga daging tersebut diterima oleh konsumen terlihat secara transparan. ed/shara

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain