Kamis, 20 Januari 2022

Transformasi Digital pada Kemitraan Unggas

Transformasi Digital pada Kemitraan Unggas

Foto: dok.istimewa


Lembang (TROBOSLIVESTOCK.COM). Kemitraan produksi unggas khususnya broiler telah memasuki babak transformasi digital sehingga lebih memungkinkan untuk meningkatkan  pola kemitraan menjadi lebih adil, transparan dan akuntabel. 

 

Kemitraan merupakan sebuah sistem usaha dimana dilakukannya kerjasama dalam bidang peternakan khususnya ayam broiler (ayam pedaging), antara 2 buah pihak yaitu pihak perusahaan (inti) dan peternak (plasma).

 

Pola kemitraan pada peternakan broiler sudah berlangsung sejak lama, hal ini akan memudahkan peternak dalam melakukan usahanya dengan dibantu oleh perusahaan mulai dari modal, sarana dan prasarana, penjualan hingga bimbingan secara langsung.

 

Nabia N Natadiraksa, EVP of Poultry Operations, co-founderPT ASputra Perkasa Makmur (ASPM) mengatakan meskipun harga daging ayam di Indonesia sangat fluktuatif, namun bukan tanpa sebabbanyaknya investor asing yang datang ke Indonesia. “Mulai dari sikap kita terhadap konsumsi ayam, bagaimana penerimaan unggas di masyarakat, itu bukan lah hal yang tidak menarik,” paparnya.

 

“Sistem industri pemeliharaan yang mereka bawa akan menggunakan teknologi-teknologi pemeliharaan yang memang sudah modern, di sini persaingan mulai terjadi. Peternak-peternak konvensional dipaksa untuk bersaing dengan industri” imbuhnya.

 

Menurutnya bagaimana cara agar peternak dapat bersaing dengan begitu besarnya industri yang ada saat ini, yaitu dengan melakukan transformasi. “Harus mengikuti secara modernisasi, karena konsekuensinya kalau kita tidak mengikuti maka akan mati,” sebutnya.

 

Namun perubahan yang diharapkan ini merupakan masalah yang sangat besar. Salah satu masalah terbesar bagi para peternak yaitu investasi kandang yang sangat mahal.

 

“Berdasarkan pengalaman di lapangan, memang tidak dapat dipungkiri bahwa HPP (Harga Pokok Produksi) dengan menggunakan kandang closed house dan open house sangat berbeda jauh. Kalau masih pakai kandang open house mau mengejarnya sangat sulit. Tapi bagaimana bisa peternak konvensional merubah kandangnya menjadi closed house, bahkan open house saja sangat sederhana,” sampainya.

 

Transformasi Digital

Berangkat dari latar belakang tersebut, Nabiabersama tim dan para founder memutuskan untuk menciptakan sistem kerja sama berupa kemitraan peternakan dengan meminjamkan kandang kepada plasma atau peternak.

 

“Kami menyediakan kandang dengan kapasitas 500 dan 5.000 ekor ayam broiler. Ini sudah dianalisis selama setahun, selalu diperbaiki secara hingga mencapai performans harapan yang diinginkan,” ujarnya.

 

Fasilitas yang dapat diberikan pada peternak atau asisten mitra yaitu kandang, sarana produksi meliputi pakan, DOC (ayam umur sehari), obat-obatan, dan lain-lain. Selain itu, akan diberikan tim pendamping untuk mendampingi asisten mitra dalam kegiatan produksi.

 

Selanjutnya ayam broiler yang sudah siap panen akan diserap, sehingga peternak tidak perlu khawatir memikirkan akan dijual kemana ayam yang akan dipanen. Disamping itu, asisten mitra juga diberikan training.

 

“Satu hal yang ingin saya sampaikan sebelumnya, karena tujuan kita adalah digitalisasi, maka para asisten mitra turut dibekali sistem aplikasi yang akan membantu dalam mengontrol sistem, pemeliharaan, dan yang lainnya,“ sebut Nabia.

 

Melalui aplikasi ini, asistem mitra dipandu untuk melakukan pencatatan, pelaporan, jadwal, dan lain sebagainya.Di sisi lain, pola kemitraan ini menggunakan sistem bagi hasil. Artinya, keuntungan maupun kerugian dibagi antara pihak inti dan plasma.

 

“Dengan kapasitas kandang 5.000 ekor, pembagian menjadi 60 % peternak dan 40 % perusahaan, sedangkan dengan kapasitas 500 ekor, dibagi menjadi 65 % peternak dan 35 % perusahan,” urainya.ed/shara

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain