Selasa, 1 Pebruari 2022

Merespons Isu AI Global, Perlu Totalitas

Merespons Isu AI Global, Perlu Totalitas

Foto: MIMBAR


Dominasi kasus yang samar menuntut lebih waspada dan memerlukan diagnosa yang lebih mendalam di laboratorium untuk memperoleh kepastian agar tidak salah penanganan yang justru berpotensi memperparah keadaan dan menyebabkan kerugian ekonomi lebih berat
 
 
Sejak separuh akhir 2021, peningkatan kasus highly pathogenic avian influenza (HPAI) pada peternakan unggas dan burung liar di tingkat global telah menyita perhatian khusus Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE WAHIS) dan Badan Pangan dunia (FAO). HPAI subtype H5Nx itu diketahui telah memapar unggas di Jerman, Cekoslovakia, Finlandia, Denmark, serta Rusia dengan kecenderungan terjadi peningkatan kasus. Serangan bertubi itu berpotensi meningkat penyebarannya ke wilayah lain Eropa, bahkan ke Asia dan Afrika berkaitan dengan musim migrasi burung selama musim dingin 2021 – 2022. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian pun merespons situasi itu dengan mengeluarkan warning (peringatan) akan keseriusan ancaman AI global ini melalui Surat Edaran (SE) No. sa113/Px,32G/F/11/2021 pada 5 November 2021.
 
 
Ketua Komite Manajemen Strategis Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), Dedy Kusmanagandi menuturkan dari 1.000 kasus serangan AI di dunia sepanjang 2021, hampir 75 % kasusnya terjadi di Eropa. Sebanyak 130 kasus terjadi sejak Agustus 2021, diantaranya di sepanjang kawasan laut utara, laut Baltik, Jerman, Belanda, dan Inggris. Inggris bahkan telah melakukan stamping out atau pemusnahan pada 500.000 unggasnya, yang diduga dipicu oleh musim migrasi burung dan musim dingin. Ditengarai, unggas di North Yorkshire dan South Suffolk itu terpapar H5N1. Di Asia Timur, Jepang sangat serius menangani 30 kali outbreak H5N8, yang ternyata masih HPAI. Mereka juga dikabarkan melakukan stamping out pada sekitar 143.000 ekor layer (ayam petelur) di perfektur Akita.
 
 
Untuk perkembangan AI di Asia Tenggara, outbreak AI pada tingkatan yang serius masih dialami oleh Vietnam meski tidak sebesar di Eropa. Filipina sudah bisa membebaskan diri dari AI. Malaysia timur yang berbatasan dengan daratan Indonesia juga sudah 2 tahun terakhir tidak ada laporan kasus. Demikian pula Brunei Darussalam. 
 
 
“Sayangnya di Indonesia, terlihat lebih sulit membebaskan diri dari AI karena manajemen budidaya unggasnya sangat bervariasi. Walaupun demikian, kondisi Indonesia baik, kalau ditemukan 100 kasus penyakit unggas, yang merupakan kasus AI hanya 3-4 kejadian, menurut data yang yang dilaporkan,” ungkapnya pada Mimbar TROBOS Livestock The Series ke-22 yang mengangkat topik “Perkembangan AI (Avian Influenza/Flu Burung) Terkini” yang digagas oleh Majalah TROBOS Livestock, disiapkan oleh TComm (TROBOS Communication), serta digelar secara virtual melalui aplikasi Zoom dan kanal Youtube Agristream TV dan Facebook TROBOS Livestock pada (19/1).
 
 
Pada acara yang disponsori oleh PT Medion Farma Jaya, PT Ceva Animal Health Indonesia, dan PT Vaksindo Satwa Nusantara ini, Dedy mengutip data penyakit unggas nasional yang menempatkan penyakit AI H5 pada peringkat ke-13 dari keseluruhan penyakit yang menyerang unggas. Juga peringkat ke-6 dengan prevalensi 7 % dari total penyakit yang menginfeksi layer tahun lalu. 
 
 
Technical Education and Consultation PT Medion Farma Jaya, Shervida Rismawati menyatakan ancaman AI perlu terus diwaspadai karena mudah bermutasi. Sebab virus yang berfamili orthomyxoviridae ini tidak memiliki sistem proof reading atau sistem quality control untuk memastikan hasil replikasi virus sama dengan induknya. Sehingga memungkinkan virus-virus yang berbeda dengan induknya karena mengalami penyimpangan/mutasi dapat lolos dan berkembang menjadi virus AI jenis baru. Walaupun demikian, di luar tubuh inang, virus AI sebenarnya mudah dimusnahkan karena memiliki amplop, yang sensitif/mudah ditembus oleh berbagai macam disinfektan.
 
 
Mengingat di Indonesia saat ini ditemukan 2 strain virus AI dengan faktor infeksi yang berbeda yaitu H5N1 yang tergolong HPAI dan H9N2 yang tergolong low pathogenic AI (LPAI), maka Shervida menerangkan klasifikasi protein yang membedakan strain virus AI itu. Virus AI memiliki protein permukaan penting penentu subtipe virus dan faktor infeksi virus. Pertama hemaglutinin (H) yang jenisnya ada 16 (H1 – H16). Fungsi protein H ini untuk masuk ke dalam sel yang diserang. Kedua, protein neuraminidase (N) yang terdiri dari 9 macam (N1 – N9). Fungsinya untuk keluar dari sel seusai bereplikasi.
 
 
Segmen gen hemaglutinin (HA) berbentuk seperti benang kusut kalau ditarik menjadi untaian benang panjang terdiri dari 400 urutan asam amino (yang dianalisa). Ada beberapa asam amino penting yang mempengaruhi karakter virus jika bermutasi. HA memiliki 6 segmen penting yaitu cleavage site sebagai titik pemotongan segmen HA dan receptor binding site sebagai tempat pelekatan virus dengan reseptor sel hospes (ayam). Segmen selanjutnya adalah receptor binding pocket, antigenic site, posisi glikosilasi, dan peptide fusi. 
 
 
Secara ringkas Shervida menerangkan fungsi HA dengan keenam segmen pentingnya merupakan sarana attachment (penempelan) virus pada sel hospes (ayam) dan sekaligus sebagai target netralisasi antibodi. “Sehingga semakin tinggi kesamaan antara HA virus dengan antibodi yang dimiliki ayam, ayam akan semakin terlindungi dari infeksi AI. Jika diantara keenam segmen itu ada yang mengalami mutasi, maka akan terjadi ketidakcocokan antara HA dengan antibodi dalam tubuh ayam sehingga berisiko kegagalan vaksinasi,” ujarnya. Dapat pula dikatakan, tingkat kesamaan antara antibodi dengan HA yang tinggi hanya didapatkan ketika vaksin yang diberikan pada ayam sama dengan virus yang menyerang di lapangan.
 
 
Peta AI di Indonesia
Shervida menyebutkan penyakit AI masih menduduki 5 besar penyakit unggas di Indonesia. Pada layer, AI menduduki peringkat kedua setelah newcastle disease (ND), dengan prevalensi 5 % pada 2019, naik menjadi 6 % pada 2020 dan menurun ke 4 % pada 2021. Pada broiler, AI menempati posisi keempat setelah gumboro, infectious bronchitis, dan ND, dengan prevalensi di bawah 1 %.
 
 
Kasus AI, menurut dia, berdasar data kasus terkonfirmasi dengan uji PCR (polymerase chain reaction) setiap tahun risiko infeksi AI baik H5N1 maupun H9N2 meningkat memasuki musim penghujan, mulai September hingga November itu kasus mulai naik, meningkat terus sampai puncaknya Maret – April, dan turun melandai pada Juni – Juli. “Hal ini sejalan dengan peringatan kewaspadaan serangan AI dari Ditjen PKH yang dikeluarkan November 2021,” ungkap dia. Jumlah kasus H9N2 masih lebih rendah daripada H5N1, yang trennya cenderung menurun sejak 2019. 
 
 
Technical Service Manager PT Vaksindo Satwa Nusantara, Roiyadi menjelaskan, sebenarnya AI menduduki peringkat ketiga penyakit yang sering menyerang unggas di Indonesia. Peringkat pertama adalah ND yang menyerang sepanjang tahun dan kedua gumboro karena virusnya mampu bertahan lama di lapangan. Selama 2 tahun terakhir kejadian AI turun drastis, meski pada Desember 2021 terdengar muncul serangan H9N2, namun yang benar-benar terkonfirmasi masih sedikit. 
 
 
“Pada 2018 – 2019 kasus AI sangat tinggi, tapi komposisinya jelas didominasi oleh H9N2. Penyebarannya sangat cepat dan serangannya luar biasa, karena saat itu ayam belum divaksin. H5N1 tetap ada tetapi tertutup kasusnya. Begitu vaksin H9N2 hadir dan diberikan, kasusnya langsung turun cepat,” ungkap dia. 
Dia menyatakan saat layer ramai terkena H9, pada broiler tidak ada laporan kasus, bahkan justru ramai IBH dan kasus performa karena moratorium AGP (Antibiotic Growth Promoter). Kasus terkonfirmasi AI pada broiler 2 tahun terakhir juga tidak banyak, biasanya terdapat korelasi jika kasus AI pada broiler meningkat maka kasus pada layer pun tinggi. 
 
 
Perubahan Gejala Klinis
Gejala glinis serangan AI kini tampak bervariasi. Ada yang muncul gejala merah keunguan pada kaki, namun ada yang hanya samar-samar. Ditemukan gejala sianosis pada jengger dan pial, namun seringkali sudah tidak ditemukan perubahan warna pada jengger. Pada puyuh juga ditemukan warna kebiruan. Itik memiliki gejala khas serangan AI, bagian mata membiru. “Variasi ini mengharuskan kita waspada, dan lebih teliti lagi mengamati gejalanya saat melakukan nekropsi,” kata Shervida. 
 
 
Keparahan yang bervariasi ini menurut dia terjadi karena variasi program vaksinasi di farm. Ada farm yang tidak melakukan vaksinasi AI atau program vaksinasi terakhir sudah terlalu lama sehingga saat outbreak gejalanya terlihat lebih jelas. Pada ayam yang sudah divaksinasi meskipun tingkat proteksinya berbeda-beda, namun membuat gejala serangan AI menjadi lebih samar. 
 
 
“Mortalitas dan morbiditas bisa mencapai 100 % pada serangan HPAI, terlebih jika ayam tidak divaksinasi. Walaupun demikian, serangan HPAI H5N1 pada layer maupun breeder yang telah divaksin bisa jadi tidak mengakibatkan mortalitas tinggi, namun menurunkan produksi telur hingga 40 %, dan warna telur memucat. Padahal dulu penurunan produksi telur hanya dialami pada kasus AI H9N2 atau LPAI,” dia menuturkan. 
 
 
Dipaparkan Shervida, angka morbiditas dan bahkan mortalitas yang tinggi menyebabkan angka culling tinggi pula. Selain itu, berisiko meningkatkan biaya desinfeksi sebagai upaya menurunkan tantangan di lapangan. HPAI pada infeksi yang samar memiliki sifat imunosupresi sehingga rentan mengundang infeksi sekunder/infeksi penyakit lain. Pada LPAI, pada serangan tunggal hanya menunjukkan gejala penurunan produksi telur, namun sangat mungkin terjadi kematian yang tinggi jika terjadi infeksi sekunder. 
 
 
Pemeriksaan gejala klinis saja, dia menegaskan, sangat tidak cukup untuk menyimpulkan ayam terkena AI, harus dilanjutkan dengan pemeriksaan patologi anatomi. Bahkan setelah itu pun, seharusnya diuji lebih lanjut di laboratorium. Uji laboratorium adalah keharusan untuk saat ini, namun pemeriksaan patologi anatomi tetap tidak boleh ditinggalkan. 
 
 
Pada lemak abdomen, paha, lemak dada/thorax bagian dalam, dan lemak jantung biasanya ditemukan perdarahan/ptechie. Ptechie tidak selalu terlihat nyata, sering ditemukan ptechie yang sangat ringan dan bisa luput dari pemeriksaan jika kurang jeli. Ditemukan pula variasi dilatasi pembuluh darah otak, dari merah yang sangat jelas sampai dengan hanya terlihat semburat tipis. Ginjal pun terlihat bengkak, ovarium terlihat lembek bahkan menjadi seperti bubur. Ovarium yang seperti ini biasanya gagal diovulasikan sehingga produksi telur pun turun. Kista oviduct dalam ukuran besar biasanya ditemukan pada infeksi IB, pada serangan AI dapat pula ditemukan kista dengan ukuran yang sangat bervariasi, dari ukuran besar hingga ukuran kecil hanya seujung kuku. 
 
 
Gejala Semakin Samar
Roiyadi mengungkapkan kasus kematian akibat H5N1 sebesar 20 – 30 % pada kandang terbuka (open house) juga masih ditemukan, namun cenderung terjadi pada ayam yang imunitasnya sangat rendah atau memang sudah bermasalah sejak awalnya. Namun pada serangan H5 yang menimbulkan mortalitas hingga 22 % ternyata tidak menunjukkan penurunan produksi yang drastis seperti serangan H9. Asupan pakan turun 10 g per ekor, produksi hanya turun 12 %, dan berat telur turun 3 g per butir. Bahkan ditemukan ayam yang terserang H5 pagi masih bertelur, tetapi sorenya mati. 
 
 
“Jika dibandingkan dengan data kasus H9, pada kematian yang hanya 10 % terjadi penurunan produksi hingga 33 %. Asupan pakan turun 13 g per ekor. Berat telur turun signifikan 4,5 g per butir sehingga banyak telur kecil-kecil, dan susah untuk kembali lagi. Paling tinggi kembali ke 82 %, dan kebanyakan hanya 70 % produksinya,” dia menguraikan. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock Edisi 269/Februari 2022
 
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain