Selasa, 1 Pebruari 2022

Prof Atien Priyanti: Kolaborasi untuk Pengembangan Domba & Kambing

Prof Atien Priyanti: Kolaborasi untuk Pengembangan Domba & Kambing

Foto: 


Dalam rentang waktu 5 tahun terakhir bisnis komoditas domba dan kambing benar-benar berkembang di tanah air. Sayangnya, belum ada data yang layak sebagai bukti yang menunjukkan adanya peningkatan dari sisi pasarnya setiap tahun. Namun kalau dipetakan, pasar terbesar komoditas domba dan kambing adalah untuk idul kurban dan akikah. Permintaannya terus meningkat seiring kesadaran dan meningkatnya tingkat kesejahteraan umat muslim. 
 
 
Jika melihat populasi domba dan kambing secara nasional di 2020 terdapat sekitar 35 juta ekor. Dari jumlah itu, populasi domba sekitar 17 juta ekor sedangkan populasi kambing sekitar 18 juta ekor. Kalau melihat penyebarannya, domba cukup terpusat seperti di Jawa Barat dan Sumatera Utara sementara kambing lebih tersebar di berbagai daerah di Indonesia sehingga perlu upaya pemetaan termasuk potensi pasarnya untuk merangsang munculnya para pelaku usaha baru.
 
 
Melalui pemetaan ini dapat diketahui produktivitas dan reproduktivitas dari domba dan kambing yang ada. Dari pemetaan itu pula dapat diketahui kemampuan atau potensi pasokan atas permintaan yang ada mengingat faktanya untuk memenuhi pasar ekspor yang 5.000 ekor per bulan saja masih belum sanggup.
Sebenarnya, Indonesia punya potensi untuk memasok permintaan yang ada namun terkendala dengan persebaran domba dan kambing yang terpencar dengan jumlah yang kecil. Juga terkendala dengan kurangnya bibit yang berkualitas. Untuk itu, peternak harus di edukasi agar usahanya berorientasi bisnis sehingga di hulunya harus dijamin dapat bibit unggul.
 
 
Bibit unggul domba dan kambing dapat diperoleh dari lembaga riset meskipun tidak dalam jumlah yang besar mengingat lembaga pemerintah dilarang mengkomersialkan. Apalagi komoditas domba dan kambing yang sebenarnya memiliki potensi ini belum menjadi program prioritas nasional dari pemerintah.
 
 
Pasalnya, masih belum ada pelaku yang menjalankan usaha ini dengan skala besar atau industri. Sehingga asosiasi seperti HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia) diharapkan bisa berperan dalam mengembangkan bibit-bibit hasil riset ini. 
 
 
Alternatif lainnya adalah para pelaku usaha bisa mengimpor bibit domba dan kambing sesuai aturan yang telah ditetapkan. Sehingga melalui kolaborasi dalam pengembangan bibit baik lembaga riset maupun pelaku usaha swasta bisa meningkatkan populasi bibit di dalam negeri. 
 
 
Akselerasi Potensi
Sumatera Utara memiliki potensi yang sangat menjanjikan karena dekat dengan pasar yaitu Malaysia dan Singapura. Kalau cuma untuk memenuhi spesifikasi tertentu sesuai dengan permintaan pasar ekspor sebanyak 5.000 ekor per bulan sebetulnya Sumatera Utara bisa memasok. 
 
 
Strateginya, program klasterisasi yang dikembangkan HPDKI diterapkan dengan 1 kelompok minimal memelihara 100 ekor induk. Kalau ada sekitar 20 kelompok akan ada 2.000 ekor indukan. Dengan reproduktivitas selama 2 tahun sebanyak 3 kali beranak maka suatu saat produksi akan mencapai konstan di 5.000 ekor per bulan. Upaya ini sudah disepakati dengan HPDKI Sumatera Utara namun sayangnya tertunda karena pandemi Covid-19. 
 
 
Keberadaan sentra peternakan domba dan kambing di daerah sebagai peluang yang bisa meningkatkan atau membantu mengakselerasi supaya potensi yang dimiliki bisa memenuhi permintaan pasar yang ada. Mengoptimalkan potensi yang ada tidak harus di seluruh Indonesia tetapi cukup di sentra yang potensi dan jumlah populasinya sudah besar. 
 
 
Guna menarik minat masyarakat untuk menjadi pelaku usaha domba dan kambing, bisnis ini harus menguntungkan. Di peternak, banyak kaidah ekonomi yang tidak bisa diterapkan seperti hanya memakai tenaga kerja keluarga sehingga pola-pola lama ini harus ditinggalkan agar usaha menjadi menguntungkan. 
 
 
Usaha peternakan domba dan kambing semestinya perlu mengkombinasikan antara pengembangbiakan dengan penggemukan agar modal investasi tidak terlalu lama terpendam sehingga ada pendapatan dari hasil penggemukan. Jika bicara skala ekonomi maka populasi yang dipelihara minimal 100 ekor.
 
 
Gambarannya, jika secara bersamaan memelihara 100 ekor indukan dengan 100 ekor bakalan penggemukan maka dalam waktu 3 bulan, peternak sudah bisa mendapatkan keuntungan serta pasokan bakalannya bisa terjamin dari usaha pengembangbiakan yang dijalankan. 
 
 
Saat ini sudah banyak kelompok peternak domba dan kambing namun dalam menjalankan bisnisnya masih sendiri-sendiri. Pasarnya pun belum reguler dan hanya mengandalkan momen saat Idul Adha karena memang keuntungannya paling besar sehingga nanti grafiknya kurang bagus. Padahal terdapat pasar reguler seperti untuk horeka (hotel, restoran, katering) dan akikah. 
 
 
Alangkah bagusnya jika kelembagaan kelompok yang kecil-kecil ini digabung menjadi kelompok yang besar dan di jembatani offtaker yang menjamin pasarnya dalam wadah kemitraan sehingga perusahaan atau pelaku usaha yang sudah besar tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk kandang dan tenaga kerja. Upaya seperti ini akan membuat usaha menjadi lebih efisien, pembinaan lebih mudah, dan posisi tawar kelompok lebih tinggi. 
 
 
Jika produksi domba dan kambing dari kombinasi pengembangbiakan dan penggemukan ini sudah stabil dan besar maka peternak akan mampu mengkalkulasi pasokan terhadap permintaan yang ada. Orientasi usahanya pun akan mengarah ke korporasi. Untuk itu, kombinasi pengembangan usaha pengembangbiakan dan penggemukan ini harus terus didorong oleh semua pihak. 
 
 
Memang yang paling efisien harusnya pembibitan domba dan kambing menjadi tugasnya pemerintah. Pemerintah menyiapkan bibit unggul yang telah tersertifikasi dan bisa disebar ke peternak untuk dikembangbiakan. Namun saat ini pengembangbiakan domba dan kambing dikerjakan oleh rakyat dan tidak ada kontrol sehingga kita tidak punya bibit yang cukup.
 
 
Generasi Muda & Digitalisasi 
Dalam perkembangannya, usaha komoditas domba dan kambing saat ini sudah mulai banyak melibatkan generasi muda. Artinya, sudah ada pergeseran dari generasi tua ke generasi muda bisnis domba dan kambing sehingga kondisi itu harus terus di dorong. Di tangan anak muda, upaya mengadopsi teknologi melalui digitalisasi banyak dilakukan. Mereka lebih adaptif dengan perkembangan teknologi 4.0 yang hasilnya sudah banyak aplikasi yang mendukung bisnis di domba dan kambing ini. 
 
 
Pemasaran hasil produksi pun semakin mudah yaitu secara daring (online) melalui internet dan di berbagai media sosial. Konsumen datang sendiri dan bisa lebih mudah memilih sesuai preferensinya. Kondisi ini bagus tetapi jangan sampai hanya fokus pada perdagangannya sementara di hulunya tidak dikuatkan. Keberadaan cluster domba dan kambing ini harus terus dikembangkan agar rantai pasok dari hulu ke hilir ini sejalan dengan akselerasi yang dilakukan pelaku usaha dari generasi muda. 
 
 
Di tangan anak muda ini, beternak dengan ngarit sudah harus ditinggalkan. Kita harus berpikir memberi pakan domba dan kambing ini seperti broiler (ayam pedaging). Kita punya potensi luar biasa untuk biomassa untuk dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak seperti sawit dan jagung sehingga harusnya untuk domba dan kambing bisa diolah menjadi industri pakan yang mandiri. Hal ini perlu dilaksanakan melalui penerapan bioekonomi yang diyakini dapat menjadi salah satu pendorong dalam pertumbuhan ekonomi ke depan, dan salah satu kunci strategi pembangunan abad ke-21.
 
 
Pakan merupakan komponen utama usaha peternakan yang mencapai 60-70 % dari total biaya produksi. Oleh karena itu, optimalisasi pemanfaatan biomassa yang jumlahnya sangat besar merupakan pilihan yang sangat tepat dalam mewujudkan kemandirian pakan. 
 
 
Pembangunan peternakan dapat berkembang secara berkelanjutan apabila didukung oleh pemanfaatan sumber daya lokal. Pengembangan usaha peternakan berbasis biomassa diarahkan berbasis kawasan yang terintegrasi secara holistik. Kawasan ini dapat membuka peluang untuk memperoleh keuntungan, memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan menjaga kelestarian lingkungan sebagai wujud dalam menerapkan bioekonomi di sektor pertanian. Dan kelompok tani-ternak menjadi modal dasar dalam rekayasa model kelembagaan ini.
 
 
Agar usaha domba dan kambing dari para peternak muda ini bisa berkembang, akses pembiayaan harus semakin mudah seperti melalui program KUR (Kredit Usaha Rakyat). Apalagi dari total KUR pertanian sekitar Rp 70 triliun, Rp 15 triliun diantaranya merupakan KUR peternakan. Dengan kemudahan pembiayaan bisa membuat lingkungan usaha semakin kondusif dan HPDKI bisa semakin besar dan sekagus bisa berperan dalam membesarkan para anggotanya. 
 
 
Perkuat Kelembagaan
Dalam upaya pengembangan komoditas domba dan kambing di tanah air kunci yang utama adalah kolaborasi. Mengingat banyak aktor yang terlibat dalam bisnis ini. Peternak diyakini tidak bisa bekerja sendiri dalam menjalankan bisnisnya hingga ke pasar. 
 
 
Kelembagaan pelaku usaha domba dan kambing ini harus diperkuat. Memperkuat kelembagaan ini bukan hanya kepada kelompok peternak tetapi sangat penting melibatkan pemerintah daerah. Tujuannya, agar pemerintah daerah bisa mendukung membantu anggaran melalui APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) setelah memahami potensi yang besar dari bisnis ini. Bahkan program CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan swasta juga bisa dilibatkan. Dengan begitu ada upaya kolaboratif dan inovatif antar stakeholder di domba dan kambing ini.  
 
 
Agar bisnis domba dan kambing semakin maju dari hulu ke hilir perlu dukungan kebijakan dari pemerintah yang signifikan. Itu artinya, komoditas domba dan kambing harus menjadi program prioritas nasional dengan dukungan anggaran yang memadai termasuk dalam program risetnya. TROBOS
 
 
 

 

Peneliti Utama Puslitbangnak (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan) 
Kementerian Pertanian
 
Peneliti Utama Puslitbangnak (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan) 
Kementerian Pertanian
 

 
Livestock Update + Moment Update + Cetak Update +

Artikel Lain